Jony Ive Membenci Layar Sentuh Mobil, Ferrari Luce Justru Dipenuhi Tombol Mekanis

Jony Ive kembali menarik perhatian industri otomotif lewat pendekatan yang berlawanan dengan tren mobil modern. Mantan kepala desain Apple itu, yang dikenal luas sebagai sosok di balik iPhone dan Apple Watch, kini justru menolak gagasan layar sentuh besar di dalam mobil dan memilih menghadirkan banyak kontrol fisik pada Ferrari Luce.

Ferrari Luce disebut sebagai mobil listrik pertama Ferrari yang mengusung kabin retro-modern. Di proyek ini, Ive dan perusahaan desainnya, LoveFrom, mencoba menyatukan tombol, tuas, dan panel digital agar pengemudi tetap memegang kendali penuh tanpa harus bergantung pada layar besar seperti yang umum dipakai banyak pabrikan saat ini.

Layar besar dinilai tidak praktis

Dalam wawancara dengan Top Gear, Ive menilai layar sentuh besar di mobil tidak efektif secara fungsi. Ia menyebut pendekatan itu “mudah dan malas”, serta menegaskan bahwa mobil adalah ruang yang tidak cocok jika hampir semua fungsi dipindahkan ke permukaan digital.

Pandangan itu terdengar ironis karena Ive selama bertahun-tahun justru membentuk budaya perangkat yang sangat mengandalkan layar sentuh. Namun di sektor otomotif, ia melihat persoalan yang berbeda, terutama soal keselamatan, kecepatan akses, dan konsistensi penggunaan saat mobil melaju.

Tesla sebelumnya ikut mendorong tren kabin serba layar, lalu banyak produsen lain mengikuti pola serupa. Alasannya bukan hanya desain yang terlihat modern, tetapi juga biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan tombol fisik dan kontrol mekanis.

Ferrari Luce pilih filosofi berbeda

Ferrari Luce mencoba keluar dari arus tersebut dengan menggabungkan tampilan digital dan komponen fisik. Ive mengatakan timnya ingin menciptakan antarmuka yang memadukan interaksi langsung dengan layar, bukan mengganti satu sama lain secara total.

Pendekatan ini membuat setiap elemen interior diperlakukan seperti produk independen yang harus dirancang dengan detail tinggi. Ive menyebut timnya memperlakukan setiap komponen seperti kamera atau arloji, hingga seolah-olah mereka “merancang ratusan produk” yang akhirnya menyatu menjadi satu kabin yang utuh.

Berikut beberapa elemen penting dari interior Ferrari Luce:

  1. Setir tiga palang dari logam dengan 19 komponen hasil CNC machining.
  2. Dial fisik untuk Manettino, mode berkendara, wiper, dan lampu sein.
  3. Kluster instrumen digital dengan panel OLED circular dari Samsung.
  4. Lapisan kaca premium di depan layar untuk memberi kesan mewah dan presisi.
  5. Sakelar dan toggle yang dibuat seperti perhiasan kecil agar tetap memberi rasa teatrikal.

Fokus pada rasa sentuh dan kendali

Ive juga menegaskan bahwa kesederhanaan yang benar-benar fungsional justru sangat sulit dicapai. Ia menolak anggapan bahwa desain yang bagus harus selalu tampak mencolok, karena menurutnya hiasan berlebihan hanya menjadi gangguan dan tidak bertahan lama.

Dalam penjelasannya, binnacle dan setir menjadi dua bagian inti yang saling terhubung. Binnacle berfungsi sebagai output, sementara roda kemudi menjadi input utama, dan seluruh kontrol fisik mendukung pengalaman berkendara itu tanpa mengalihkan perhatian pengemudi dari jalan.

Ferrari Luce juga memperlihatkan bagaimana kendaraan listrik mewah bisa mencari identitas baru tanpa kehilangan karakter emosional. Di tengah dominasi layar sentuh yang seragam di banyak mobil baru, Ferrari justru memilih menghadirkan detail mekanis yang terasa mahal, presisi, dan memiliki bobot pengalaman yang lebih kuat bagi pengemudi.

Pilihan ini juga menunjukkan bahwa industri otomotif mulai mempertanyakan kembali apakah layar besar benar-benar selalu lebih baik daripada tombol nyata. Dengan mengisi kabin Ferrari dengan kontrol fisik yang dirancang sangat detail, Jony Ive membuat pernyataan yang jelas bahwa teknologi canggih tidak harus selalu tampil lewat bidang kaca hitam yang mendominasi dasbor.

Source: www.carscoops.com
Exit mobile version