Konversi sepeda motor bensin ke listrik menawarkan efisiensi energi dan emisi yang lebih rendah, tetapi hasilnya tidak selalu lebih praktis untuk pemakaian harian. Pada skuter matik yang dikonversi, ruang penyimpanan sering menjadi korban pertama karena area bagasi harus diisi baterai, sementara jarak tempuh juga bergantung pada kapasitas baterai yang terbatas.
Pengalaman itu terlihat jelas pada Honda Vario hasil konversi dengan konfigurasi mid-drive milik Bambang Setiawan Yudistira, yang akrab disapa Ibeng. Ia menilai sisi fungsional motor berubah drastis setelah modifikasi, karena bagasi bawah jok yang sebelumnya bisa dipakai menyimpan barang kini habis terpakai oleh paket baterai.
Bagasi hilang, fungsi harian ikut berubah
Pada skuter matik, ruang bawah jok memang menjadi salah satu keunggulan utama. Ruang itu biasa dipakai untuk jas hujan, helm kecil, hingga perlengkapan darurat, sehingga hilangnya area tersebut langsung terasa bagi pengguna.
Ibeng menjelaskan bahwa ruang baterai pada motor seperti Vario tidak cukup besar untuk banyak komponen tambahan. Akibatnya, baterai berkapasitas sekitar 20 Ah menempati hampir seluruh area bagasi dan membuat tidak ada lagi ruang simpan tersisa.
Konsekuensinya bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga kebiasaan berkendara. Pengguna harus menyiapkan tas tambahan atau top box jika ingin tetap membawa barang bawaan, sehingga motor listrik hasil konversi tidak lagi sepraktis motor bensin standar.
Jarak tempuh tidak selalu lebih unggul
Perubahan lain yang paling terasa ada pada daya jelajah. Sebelum dikonversi, Honda Vario milik Ibeng disebut sangat irit dengan konsumsi lebih dari 50 kilometer per liter bensin, tetapi setelah menjadi motor listrik, jarak tempuhnya tidak otomatis menjadi jauh lebih besar.
Motor konversi itu hanya mampu menempuh sekitar 50 kilometer dalam sekali pengisian daya. Angka tersebut membuat efisiensi praktisnya terasa mirip dengan kondisi saat motor masih memakai 1 liter bensin, sehingga keuntungan dari sisi mobilitas harian tidak selalu meningkat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil konversi sangat bergantung pada kapasitas baterai dan rancangan sistem listrik yang dipakai. Jika baterai dipilih terlalu kecil, motor memang bisa lebih ramah lingkungan, tetapi jarak tempuhnya tetap terbatas.
Tantangan saat dipakai untuk rute harian
Untuk kebutuhan perjalanan 100 kilometer per hari, pengendara harus menyiapkan strategi pengisian daya yang disiplin. Motor perlu diisi penuh pada pagi hari, lalu diisi ulang lagi setelah menempuh sekitar 50 kilometer agar bisa melanjutkan perjalanan.
Skema seperti itu jelas menuntut waktu dan kedisiplinan lebih tinggi dibanding motor bensin. Jika stasiun pengisian tidak tersedia di dekat lokasi kerja atau rumah, penggunaan harian bisa terasa kurang nyaman.
Berikut gambaran sederhana perbedaannya:
| Aspek | Motor bensin | Motor hasil konversi listrik |
|---|---|---|
| Ruang bagasi | Masih tersedia | Habis untuk baterai |
| Jarak tempuh | Lebih fleksibel dengan pengisian cepat | Sekitar 50 km per sekali isi |
| Praktis harian | Lebih siap untuk perjalanan spontan | Perlu rencana pengisian daya |
| Kenyamanan mekanik | Umumnya standar skutik | Masih nyaman secara geometri |
Performa dan kenyamanan tidak selalu sejalan
Secara mekanik, motor Ibeng masih memakai mekanisme penyaluran tenaga asli melalui sistem CVT ke roda belakang. Dari sisi sasis, motor itu tetap terasa nyaman karena geometri dasarnya tidak banyak berubah.
Namun, ia menilai performanya menurun setelah dikonversi. Kombinasi motor listrik, batasan watt, dan karakter penggerak membuat akselerasi motor terasa lebih lambat dibanding ekspektasi.
Di titik ini, motor konversi memang masih punya keunggulan tersendiri. Bagi pengguna yang mengutamakan posisi duduk nyaman dan merasa cocok dengan karakter motor Jepang, hasil konversi bisa menjadi alternatif menarik.
Meski begitu, motor semacam ini lebih pas untuk rute pendek dan penggunaan rutin dengan jarak terbatas. Bagi pengendara yang mengandalkan bagasi luas, perjalanan spontan, dan jarak tempuh panjang dalam satu hari, pengorbanan pada ruang simpan dan waktu isi daya tetap menjadi pertimbangan utama.
