
Biaya kepemilikan mobil listrik kerap jadi alasan utama konsumen beralih dari kendaraan bensin. Pada Neta V II, salah satu pemiliknya, Gregorius, menilai pengeluaran rutin terasa jauh lebih ringan, terutama untuk pajak, energi, dan servis berkala.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa mobil listrik memang bisa menekan biaya harian, tetapi tetap bergantung pada kesiapan ekosistem layanan purna jual. Dalam kasus Neta V II, ongkos rendah masih dibayangi kendala jaringan diler yang belum merata.
Pajak dan biaya energi yang lebih hemat
Salah satu manfaat paling terasa datang dari sisi pajak. Gregorius menyebut Neta V II tidak dikenai Pajak Kendaraan Bermotor, sehingga ia hanya membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan sekitar Rp 143.000.
Di sisi energi, ia memilih mengisi daya di rumah menggunakan charger portabel. Dengan jarak tempuh harian rata-rata sekitar 10 km, pengisian ulang hanya dibutuhkan sekitar sekali dalam seminggu.
Bila mengacu pada tarif listrik rumah tangga Rp 1.400–Rp 1.700 per kWh dan kapasitas baterai 36 kWh, biaya pengisian penuh berada di kisaran Rp 50.000–Rp 60.000. Dalam sebulan, pengeluaran listrik yang disebut Gregorius hanya sekitar Rp 200.000–Rp 250.000, bergantung pada intensitas pemakaian mobil.
Perawatan rutin yang relatif sederhana
Dari sisi servis, mobil listrik seperti Neta V II memang tidak punya banyak komponen bergerak seperti mobil bermesin pembakaran internal. Pemeriksaan berkala umumnya fokus pada kondisi baterai, filter AC, dan cairan pendingin atau coolant baterai.
Struktur perawatan yang lebih sederhana ini menjadi salah satu keunggulan utama mobil listrik. Biaya servis cenderung lebih rendah karena tidak ada kebutuhan penggantian oli mesin, busi, atau sejumlah komponen yang lazim pada mobil bensin.
Namun, murahnya biaya perawatan tidak otomatis membuat pengalaman kepemilikan menjadi mulus. Fasilitas servis gratis yang masih tersedia dari agen pemegang merek justru belum selalu mudah dimanfaatkan oleh pengguna.
Servis gratis terhambat jaringan diler
Gregorius mengaku sempat kesulitan menggunakan layanan servis resmi karena jaringan diler dan bengkel belum tersebar merata. Ia menyebut antrean yang panjang dan kendala di bengkel membuat fasilitas servis gratis sulit dipakai secara optimal.
Dalam situasi tertentu, ia bahkan pernah ditolak saat hendak melakukan servis berkala. Akhirnya, ia memilih melakukan servis berbayar di bengkel dengan biaya sekitar Rp 400.000 agar kebutuhan perawatan mobil tetap terpenuhi.
Kondisi ini menegaskan bahwa biaya kepemilikan yang rendah harus didukung akses layanan yang memadai. Tanpa jaringan bengkel yang kuat, keunggulan biaya mobil listrik bisa terasa kurang maksimal di mata pengguna.
Rincian biaya yang dikeluhkan dan yang dihemat
Berikut ringkasan biaya yang disebut dalam pengalaman pemilik Neta V II:
| Komponen | Perkiraan Biaya |
|---|---|
| SWDKLLJ | Rp 143.000 |
| Pengisian penuh baterai | Rp 50.000–Rp 60.000 |
| Biaya listrik per bulan | Rp 200.000–Rp 250.000 |
| Servis berbayar di bengkel | Rp 400.000 |
Data itu memperlihatkan bahwa penghematan pada mobil listrik bukan sekadar teori. Pada penggunaan harian yang ringan, pengeluaran bisa jauh lebih efisien dibanding kendaraan konvensional, terutama jika pengisian daya dilakukan di rumah.
Ekosistem layanan masih jadi faktor penentu
Pengalaman Gregorius juga menyoroti satu aspek penting dalam transisi ke mobil listrik, yaitu kesiapan layanan purna jual. Harga operasional yang rendah akan lebih berarti jika konsumen mendapat akses servis yang cepat, mudah, dan merata.
Tanpa itu, pemilik mobil listrik bisa saja tetap memilih bengkel umum atau membayar servis mandiri. Pada akhirnya, efisiensi biaya Neta V II tetap menarik, tetapi kualitas jaringan diler dan bengkel resmi masih menjadi pekerjaan rumah agar manfaat mobil listrik bisa dirasakan secara utuh oleh pengguna.









