
Keselamatan kini menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam efisiensi logistik. Di tengah tekanan biaya operasional dan tuntutan pengiriman yang cepat, pelaku usaha mulai menyadari bahwa armada yang aman dan terawat justru bisa menekan pengeluaran dalam jangka panjang.
Pemerintah dan industri sama-sama melihat bahwa investasi pada keselamatan bukan beban tambahan. Langkah ini dinilai dapat mencegah biaya besar yang muncul akibat kecelakaan, kerusakan kendaraan, hingga terganggunya rantai distribusi.
Keselamatan Jadi Dasar Pengelolaan Armada
Ketua Tim Substansi Angkutan Barang Umum Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Adrian Tri Laksana, menegaskan bahwa regulator menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam transportasi logistik. Ia menyebut efisiensi tetap penting, tetapi keselamatan menjadi fondasi utamanya.
“Fokus dari regulator adalah keselamatan. Kami sebagai regulator mengatur keselamatan, efisiensi itu bonusnya,” kata Adrian dalam diskusi “Logistik Makin Efisien: Strategi Mengelola Armada di Tengah Tekanan Biaya” di GIICOMVEC 2026, Jakarta.
Ia menambahkan bahwa keselamatan memang membutuhkan biaya, namun pengeluaran itu lebih masuk akal dibanding menanggung kerugian saat terjadi insiden di lapangan. Dalam logistik, satu kecelakaan dapat memicu biaya perbaikan, keterlambatan pengiriman, klaim, hingga gangguan terhadap kontrak layanan.
Kebijakan yang Mendukung Efisiensi
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga armada tetap layak jalan dan aman digunakan. Langkah itu mencakup penggratisan uji KIR untuk kendaraan angkutan barang, pembatasan usia kendaraan maksimal 20 tahun, dorongan penggunaan GPS untuk pelacakan armada, serta larangan truk ODOL atau over dimension dan overload.
Kebijakan tersebut ditujukan agar perusahaan lebih disiplin dalam memantau kondisi kendaraan. Saat kendaraan berada dalam kondisi optimal, potensi gangguan operasional dapat ditekan dan biaya tak terduga bisa dikurangi.
Berikut beberapa strategi yang mendapat sorotan dalam pengelolaan armada logistik:
- Melakukan uji kelayakan kendaraan secara rutin.
- Menggunakan GPS dan telematik untuk memantau armada secara real-time.
- Membatasi usia pakai kendaraan agar risiko kerusakan tidak meningkat.
- Menghindari praktik ODOL yang bisa mempercepat kerusakan kendaraan.
- Memastikan perawatan dilakukan sesuai jadwal, bukan saat kendaraan sudah bermasalah.
Perawatan Rutin Lebih Murah daripada Kerusakan Besar
Dari sisi pelaku usaha, General Manager Sales PT Batavia Prosperindo Trans Tbk atau Batavia Rent, Butar Tio, menilai keselamatan harus masuk dalam keputusan bisnis sehari-hari. Ia menekankan penggunaan suku cadang asli dan perawatan berkala sebagai bagian dari cara menjaga armada tetap produktif.
“Efisiensi yang sesungguhnya dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan mengelola, merawat, dan memantau kendaraan,” ujar Butar. Menurut dia, memangkas biaya perawatan justru dapat menciptakan biaya yang lebih besar di kemudian hari.
Pendekatan itu penting karena kendaraan logistik bekerja dengan intensitas tinggi. Jika perawatan diabaikan, risiko kendaraan berhenti beroperasi semakin besar dan itu langsung berdampak pada keterlambatan distribusi serta turunnya produktivitas.
Skema Rental Dinilai Lebih Fleksibel
Batavia Rent memilih model rental dengan pengelolaan maintenance rutin dan monitoring berkala bersama mitra produsen kendaraan. Perusahaan menyebut skema ini memudahkan pelanggan menerima laporan lengkap atas pemakaian unit, sehingga evaluasi bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.
Butar juga menilai skema rental kendaraan B2B dapat membantu perusahaan yang ingin efisien tanpa harus menanggung seluruh biaya kepemilikan armada. Dengan lebih dari 7.400 unit kendaraan, perusahaan penyedia rental disebut memiliki daya tawar lebih besar dalam layanan purnajual dan suku cadang.
Teknologi Kendaraan Jadi Penopang Operasional 24 Jam
Dari sisi produsen, Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Aji Jaya, menyoroti pentingnya layanan purnajual bagi industri logistik yang beroperasi tanpa henti. Ia mengatakan armada logistik harus siap bergerak 24 jam, sehingga dukungan servis dan pemantauan kendaraan menjadi bagian penting dari efisiensi.
Aji juga menekankan penggunaan fitur berbasis teknologi seperti sistem telematik pada Mitsubishi Fuso. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kendaraan secara real-time, termasuk perilaku pengemudi, sehingga perusahaan bisa mengevaluasi pola operasional dan menutup celah inefisiensi lebih cepat.
Dalam praktiknya, kombinasi antara keselamatan, perawatan rutin, kepatuhan regulasi, dan penggunaan teknologi memberi peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk menjaga armada tetap produktif, menekan risiko kerusakan, dan mempertahankan kelancaran distribusi di tengah biaya operasional yang terus diawasi.
Source: www.liputan6.com








