
Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menyoroti problem yang masih sering muncul di sektor angkutan barang dan penumpang di Indonesia, yakni pengemudi dan mekanik bus serta truk yang merasa sudah tahu banyak hal padahal belum memahami standar dasar kendaraan. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat memicu kesalahan perawatan, salah pengoperasian, dan pada akhirnya meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar soal keterampilan teknis, tetapi juga soal sikap terhadap keselamatan. Ia menyebut banyak mekanik dan pengemudi yang “sok pintar” dan terlalu percaya diri, termasuk yang mengaku hafal workshop manual, padahal menurutnya bahkan orang pabrikan sendiri tidak mungkin menghafal seluruh isi panduan itu.
Masalah yang Dianggap Klasik di Lapangan
Menurut KNKT, kebiasaan mengandalkan pengalaman tanpa merujuk pada buku manual masih sangat kuat di lapangan. Padahal, kendaraan niaga modern punya sistem yang kompleks dan setiap prosedur perawatan seharusnya mengikuti petunjuk pabrikan agar fungsi rem, mesin, dan komponen keselamatan tetap optimal.
Wildan menjelaskan bahwa mekanik yang benar-benar kompeten justru akan selalu membuka workshop manual sebelum bekerja. Manual itu memang dirancang agar dipakai sebagai acuan, bukan diingat di luar kepala, karena detail teknis kendaraan tidak seharusnya ditangani hanya dengan perkiraan.
Minim Sekolah Khusus Jadi Akar Persoalan
KNKT juga menilai kurangnya sekolah mengemudi khusus bus dan truk ikut memperlemah kualitas pengemudi kendaraan niaga di Indonesia. Akibatnya, masih banyak pengemudi dan mekanik yang belum memahami hal dasar seperti sistem pengereman, meski mereka setiap hari menangani armada berukuran besar dan membawa beban tinggi.
Dalam contoh yang disampaikan Wildan, ia pernah diminta menyeleksi 120 pengemudi terbaik dari sebuah perusahaan besar dengan armada dan pengemudi berjumlah ribuan. Dari 20 orang yang kemudian diwawancarai, hampir tidak ada yang memahami sistem rem secara memadai.
Hal Dasar yang Masih Banyak Belum Dipahami
Berikut beberapa contoh pengetahuan dasar yang menurut KNKT masih lemah di kalangan sebagian pengemudi dan mekanik bus dan truk:
- Perbedaan sistem rem pada kendaraan niaga.
- Cara kerja full hidrolik brake.
- Cara kerja air over hidrolik brake.
- Cara kerja full air brake.
- Prosedur perawatan sesuai workshop manual.
Kelemahan di titik-titik dasar seperti ini berisiko besar karena rem adalah sistem paling vital dalam kendaraan berat. Saat operator, pengemudi, dan mekanik tidak memahami fungsi teknis kendaraan, kesalahan kecil bisa berkembang menjadi masalah operasional yang serius.
Sekolah Bukan Sekadar Urusan Sertifikat
Wildan mendorong operator bus dan truk untuk benar-benar menyekolahkan pengemudi dan mekaniknya. Ia menekankan bahwa pelatihan bukan hanya untuk mengejar sertifikat, tetapi untuk memastikan armada lebih selamat dan biaya operasional tidak boros akibat kesalahan teknis yang berulang.
Pandangan ini penting bagi industri transportasi karena kecelakaan kendaraan niaga sering kali tidak berdiri sendiri. Dalam banyak kasus, faktor manusia, pemeliharaan yang tidak sesuai standar, dan kurangnya pemahaman terhadap sistem kendaraan saling berkaitan dan memperbesar risiko di jalan.
Tantangan Keselamatan Transportasi Masih Besar
Isu yang diangkat KNKT menunjukkan bahwa keselamatan transportasi darat tidak cukup ditopang oleh pengalaman kerja semata. Industri bus dan truk memerlukan disiplin teknis, pendidikan yang terstruktur, dan kebiasaan bekerja berdasarkan data serta manual resmi dari pabrikan.
Selama masih ada pengemudi dan mekanik yang mengandalkan rasa tahu tanpa verifikasi, masalah keselamatan akan terus berulang. Karena itu, dorongan KNKT agar operator investasi pada pelatihan dan sekolah teknis menjadi salah satu langkah penting untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia di sektor kendaraan niaga.
Source: oto.detik.com








