
BYD kembali tercatat mengimpor mobil utuh dari China ke Indonesia setelah jeda selama dua bulan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan pengiriman pada Maret 2026 kembali berjalan, dengan model yang didatangkan adalah Atto 3 Advanced Standard Range.
Langkah ini menegaskan bahwa BYD belum sepenuhnya menghentikan skema impor, meski perusahaan tengah mempercepat arah produksi lokal. Di saat yang sama, pabrikan asal Shenzhen itu terus membangun fondasi untuk merakit kendaraan di dalam negeri melalui pabrik di Subang.
Impor kembali muncul setelah jeda dua bulan
Dalam data impor Gaikindo periode Maret 2026, tercatat 200 unit BYD Atto 3 Advanced Standard Range masuk ke Indonesia. Angka itu menjadi sinyal bahwa rantai pasok BYD tetap fleksibel, terutama untuk memenuhi kebutuhan model tertentu di pasar domestik.
Sebelumnya, BYD dikenal mengandalkan impor utuh atau completely built up untuk kendaraan yang dijual di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, merek ini bahkan tercatat mengimpor mobil lebih banyak dibanding banyak kompetitor lain di pasar nasional.
Strategi ganda: impor untuk cadangan, produksi lokal sebagai fokus
Head of PR and Government BYD Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan impor masih akan dipakai sebagai cadangan dalam kondisi tertentu. Ia menyebut skema itu dibutuhkan untuk menghadapi permintaan pasar yang spesifik, meski arah utama perusahaan tetap pada produksi lokal.
“Importasi adalah bagian dari back up plan untuk kondisi-kondisi tertentu khususnya demand market khusus. Artinya kami tidak bisa bilang nol tapi kami masih bisa mengutilisasi itu untuk demand khusus tapi kita akan fokus untuk produksi lokal,” kata Luther, mengutip Detik.
Pernyataan itu menunjukkan BYD tidak menutup total jalur impor. Namun, perusahaan memberi sinyal bahwa volume impor akan bergantung pada kebutuhan pasar, bukan menjadi jalur utama distribusi.
Model yang masuk dan posisi Atto 3 di pasar
Unit yang datang pada periode terbaru adalah Atto 3 Advanced Standard Range. Sebelumnya, BYD juga sempat meluncurkan Atto 3 Advanced Plus di ajang Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026 dengan harga Rp415 juta.
Kehadiran dua varian Atto 3 ini memperlihatkan bahwa BYD masih aktif membaca kebutuhan konsumen Indonesia. Di pasar mobil listrik, strategi semacam ini penting karena preferensi pelanggan kerap bergeser antara harga, jarak tempuh, dan kelengkapan fitur.
Berikut ringkasan informasi pentingnya:
- Model yang diimpor kembali: Atto 3 Advanced Standard Range
- Jumlah unit yang tercatat: 200 unit
- Sumber data: Gaikindo periode Maret 2026
- Harga varian lain yang sudah diluncurkan: Rp415 juta untuk Atto 3 Advanced Plus
- Arah bisnis BYD: produksi lokal, dengan impor sebagai cadangan
Pabrik Subang jadi penentu langkah berikutnya
BYD tidak hanya mengandalkan distribusi impor untuk Indonesia. Perusahaan juga mempercepat pembangunan pabrik di kawasan Subang yang diproyeksikan mulai beroperasi pada 2026.
Fasilitas ini sudah melalui serangkaian tes resmi untuk memastikan kesiapan produksi. BYD juga disebut telah mengantongi sejumlah sertifikasi penting, termasuk WMI atau World Manufacturer Identifier untuk NIK, Certificate of Standard, serta sertifikat IKD atau Incompletely Knocked Down.
Luther menyebut kondisi itu membuat BYD “sangat eligible untuk segera berproduksi”. Sinyal tersebut penting karena kehadiran manufaktur lokal biasanya memberi efek lanjutan pada efisiensi pasokan, kecepatan distribusi, dan potensi penyesuaian harga di masa depan.
Mengapa impor masih dibutuhkan
Dalam industri otomotif, impor utuh sering dipakai saat pabrikan ingin menjaga ketersediaan unit sebelum lini perakitan lokal stabil. Pola ini juga lazim dipakai untuk model tertentu yang permintaannya belum cukup besar agar diproduksi penuh di dalam negeri.
Bagi BYD, pasar Indonesia termasuk strategis karena pertumbuhan kendaraan listrik masih berlangsung cepat. Karena itu, kombinasi impor dan produksi lokal dapat menjadi cara untuk menjaga suplai tanpa mengorbankan rencana investasi jangka panjang.
Jika pabrik Subang benar-benar mulai beroperasi sesuai target, peta pasokan BYD di Indonesia kemungkinan akan berubah lebih besar. Namun untuk sementara, data terbaru Gaikindo menunjukkan jalur impor masih tetap hidup sebagai penopang kebutuhan pasar tertentu.
Source: www.cnnindonesia.com








