PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk menjadi nama yang sering dicari setelah pemerintah menargetkan produksi massal sedan listrik nasional pada 2028. Perusahaan ini disiapkan sebagai salah satu basis manufaktur yang dapat mendukung ambisi Presiden Prabowo Subianto memperkuat industri kendaraan listrik dari dalam negeri.
VKTR bukan perusahaan milik negara, melainkan emiten swasta yang terafiliasi dengan Grup Bakrie. Dalam struktur yang banyak disorot publik, Anindya Novyan Bakrie memegang peran penting sebagai Presiden Komisaris, sementara operasional perusahaan dijalankan oleh Direktur Utama Gilarsi Wahju Setijono.
Siapa pemilik VKTR?
VKTR berada dalam ekosistem bisnis Bakrie & Brothers. Karena itu, ketika publik bertanya “VKTR milik siapa”, jawabannya merujuk pada perusahaan terbuka yang dikendalikan dalam jaringan usaha Grup Bakrie, dengan Anindya Bakrie sebagai salah satu figur sentral di level strategis.
Anindya bukan nama baru di dunia korporasi nasional. Ia dikenal sebagai pengusaha dari keluarga Bakrie, pernah aktif di berbagai sektor bisnis, dan kini juga menjabat Ketua Umum Kadin Indonesia untuk periode hingga 2029.
Dari sisi pendidikan, Anindya menempuh studi Teknik Industri di Northwestern University, Amerika Serikat. Ia juga mengikuti program bisnis global di Stanford Graduate School of Business, yang kerap disebut sebagai bagian dari pembentukan perspektif bisnis internasionalnya.
Peran Anindya di VKTR lebih banyak terkait arah besar perusahaan. Dalam konteks kendaraan listrik, arah itu tidak hanya menyentuh bisnis otomotif, tetapi juga isu transisi energi, pengurangan emisi, dan penguatan industri nasional.
Pabrik VKTR di Magelang dan target 2028
Perhatian besar kini tertuju pada fasilitas perakitan VKTR di Magelang, Jawa Tengah. Fasilitas ini diresmikan pada 9 April 2026 dan menjadi titik penting dalam peta jalan pengembangan kendaraan listrik perusahaan.
Saat ini, lini produksi VKTR masih berfokus pada kendaraan niaga berat seperti bus listrik dan truk listrik. Namun, pemerintah sudah memberi sinyal kuat bahwa basis produksi tersebut akan dikembangkan untuk kendaraan penumpang, termasuk sedan listrik.
Saat peresmian fasilitas tersebut, Prabowo menyampaikan target yang cukup jelas. “Rencana kita, saya berharap tahun 2028 kita akan produksi secara besar-besaran mobil sedan dari listrik,” ujar Prabowo, sebagaimana dikutip dari catatan BPMI Setpres yang juga dirujuk dalam laporan Suara.com.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pabrik Magelang tidak dilihat sebagai proyek biasa. Fasilitas tersebut diposisikan sebagai bagian dari strategi industrialisasi yang lebih luas untuk membangun kendaraan listrik buatan Indonesia.
Mengapa VKTR dipilih untuk peran ini
VKTR memulai langkahnya dari segmen kendaraan komersial. Strategi ini dinilai lebih realistis karena bus dan truk listrik lebih cepat masuk ke ekosistem transportasi publik dan logistik, sekaligus memberi ruang bagi perusahaan membangun skala produksi, rantai pasok, dan kemampuan manufaktur lokal.
Dalam narasi perusahaan, pengembangan kendaraan listrik didorong oleh dua agenda utama. Pertama, mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060 melalui percepatan dekarbonisasi.
Kedua, mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Dengan kata lain, kendaraan listrik diposisikan bukan sekadar produk industri, tetapi juga instrumen ketahanan energi nasional.
Dua tokoh kunci di balik VKTR
Ada dua nama yang paling menonjol dalam pengembangan VKTR saat ini. Keduanya berperan di level strategi dan eksekusi.
-
Anindya Novyan Bakrie
Presiden Komisaris VKTR dan figur penting dari Grup Bakrie. Ia banyak dikaitkan dengan arah jangka panjang perusahaan dan penguatan posisi VKTR dalam industri kendaraan listrik nasional. - Gilarsi Wahju Setijono
Direktur Utama VKTR yang memimpin operasional dan pengembangan bisnis. Ia dikenal sebagai mantan Direktur Utama PT Pos Indonesia periode 2015-2020 dan disebut berperan dalam transformasi VKTR dari distributor menjadi basis manufaktur.
Menurut data yang dirujuk dalam artikel referensi, di bawah kepemimpinan Gilarsi, kapasitas produksi perusahaan diklaim dapat menyentuh 10.000 unit bus listrik. Ia juga disebut mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN, yang menjadi isu penting dalam industri otomotif nasional.
Pada 2024, VKTR juga disebut telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah merek otomotif global seperti Hino, Mitsubishi Fuso, dan Toyota. Langkah ini penting karena pengembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya bergantung pada pabrik, tetapi juga pada kemitraan teknologi, komponen, dan ekosistem pendukung.
Posisi VKTR dalam industri otomotif nasional
Masuknya VKTR ke agenda besar produksi sedan listrik memberi sinyal bahwa industri otomotif Indonesia sedang bergerak ke fase baru. Jika selama ini pasar listrik lebih banyak diisi kendaraan impor atau model rakitan terbatas, target 2028 membuka peluang untuk membangun sedan listrik dalam skala lebih besar dari basis produksi domestik.
Tantangannya tetap besar. Industri ini membutuhkan rantai pasok baterai, komponen lokal, kesiapan SDM, insentif pasar, dan infrastruktur pengisian daya yang konsisten tumbuh.
Namun dari sudut pandang kebijakan industri, pabrik VKTR di Magelang sudah menjadi penanda bahwa pemerintah dan pelaku usaha mulai menyiapkan fondasi manufaktur jangka panjang. Karena itu, pertanyaan “VKTR milik siapa” kini tidak hanya berkaitan dengan identitas pemilik perusahaan, tetapi juga dengan posisi strategis perusahaan swasta nasional yang ikut masuk dalam proyek besar kemandirian otomotif Indonesia.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com