TKDN Motor Listrik MBG Tembus 48,5 Persen, Tapi Batu Sand’arnya Masih Impor China?

Kepala Badan Gizi Nasional memastikan motor listrik yang dipakai untuk program Makan Bergizi Gratis memiliki kandungan dalam negeri yang tinggi. Unit kendaraan operasional itu disebut mencapai tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN sebesar 48,5 persen.

Pernyataan ini muncul setelah publik menyoroti kemiripan desain motor listrik MBG dengan model asal China, Kollter ES1-X PRO. Meski tampak serupa, Badan Gizi Nasional menegaskan bahwa unit yang dipakai untuk program tersebut diproduksi di dalam negeri, tepatnya di fasilitas manufaktur Citeureup, Jawa Barat.

Produksi lokal dan dorongan untuk industri nasional

BGN menyebut penggunaan motor listrik lokal bukan hanya soal efisiensi operasional. Kebijakan ini juga ditujukan untuk memperkuat rantai pasok domestik dan mendorong nilai tambah industri di dalam negeri.

Dalam penjelasan yang beredar, proses produksi melibatkan sejumlah komponen dan aktivitas yang dilakukan di Indonesia. Faktor seperti tenaga kerja lokal, fasilitas pabrik di dalam negeri, dan penggunaan listrik PLN ikut masuk dalam penilaian komponen TKDN.

Mengapa angka TKDN bisa mencapai 48,5 persen

Pakar kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia, Hendro Sutono, menilai angka tersebut masih masuk akal secara perhitungan. Ia merujuk pada aturan Permenperin Nomor 28 Tahun 2023 yang memberi bobot besar pada proses perakitan dan aktivitas manufaktur.

Berikut faktor yang ikut mendorong nilai TKDN menurut penjelasan tersebut:

  1. Tenaga kerja WNI di lini produksi.
  2. Bangunan pabrik yang berdiri di atas lahan Indonesia.
  3. Penggunaan mesin pabrik yang mendapat pasokan listrik dari PLN.
  4. Proses perakitan di dalam negeri.
  5. Komponen lokal seperti ban.
  6. Perakitan baterai atau pack assembly di Indonesia.

Hendro menyebut perakitan saja sudah bisa menyumbang nilai belasan persen dari total TKDN. Ia juga menjelaskan bahwa meski sel baterai masih diimpor dari China, biaya produksi yang dibukukan melalui importir resmi di Indonesia tetap dapat masuk dalam perhitungan domestik.

Sorotan terhadap desain dan rantai pasok

Di sisi lain, publik tetap menaruh perhatian pada asal-usul basis desain motor tersebut. Model yang disebut mirip dengan Kollter ES1-X PRO diketahui dipasarkan di platform perdagangan digital Alibaba dengan harga sekitar Rp 10 juta per unit.

Kondisi ini memunculkan perdebatan tentang sejauh mana nilai TKDN menggambarkan kemandirian industri. Sebagian pihak menilai TKDN memang membantu mendorong aktivitas manufaktur di dalam negeri, tetapi belum selalu berarti penguasaan teknologi inti sudah sepenuhnya berada di tangan industri lokal.

Perhitungan TKDN dan tantangan industrialisasi

Hendro juga menyoroti risiko industrialisasi dangkal atau shallow industrialization. Menurut dia, perhitungan TKDN saat ini lebih banyak mencerminkan perputaran uang di dalam negeri daripada penguasaan teknologi utama kendaraan listrik.

Dalam kerangka regulasi yang berlaku, riset dan pengembangan memiliki bobot tersendiri yang dapat diklaim melalui sertifikasi dan pengujian di laboratorium lokal. Namun, bila pasokan komponen inti dari negara asal terganggu, proses produksi di dalam negeri berpotensi ikut tersendat.

Poin utama yang perlu dicatat

  1. BGN memastikan motor listrik MBG merupakan produk dalam negeri.
  2. TKDN unit tersebut diklaim mencapai 48,5 persen.
  3. Produksi dilakukan di Citeureup, Jawa Barat.
  4. Sorotan publik muncul karena desainnya mirip model asal China.
  5. Pakar menilai angka TKDN itu mungkin dicapai lewat bobot besar pada perakitan dan aktivitas pabrik.

Di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik, kasus motor listrik MBG menunjukkan bahwa TKDN tetap menjadi instrumen penting. Namun, perdebatan soal desain, komponen inti, dan penguasaan teknologi masih akan terus mewarnai pembahasan industri kendaraan listrik nasional.

Terkait