Ekspor Mobil Indonesia Anjlok 20 Persen Di Maret 2026, Toyota Sebut Penyebabnya Bukan Perang

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menegaskan penurunan ekspor mobil Indonesia pada Maret 2026 bukan dipicu oleh perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Perusahaan menyebut faktor utama yang menekan kinerja ekspor adalah berkurangnya hari kerja akibat libur Lebaran 2026.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan aktivitas produksi dan distribusi ikut melambat karena waktu kerja efektif pada bulan lalu hanya sekitar dua pekan. “Bayangkan hari kerja bulan lalu hanya sekitar 2 pekan,” ujar Bob di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ekspor CBU Turun 20 Persen

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan ekspor kendaraan utuh buatan lokal atau completely built-up (CBU) pada Maret 2026 mencapai 36.867 unit. Angka itu turun 20 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencatat 46.585 unit.

Jika dibandingkan secara tahunan, capaian ekspor CBU juga tercatat melambat 7,5 persen. Kondisi ini menunjukkan pelemahan terutama terjadi pada periode bulanan, sejalan dengan lebih singkatnya waktu operasional selama bulan tersebut.

Penjelasan dari TMMIN juga menepis anggapan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah ikut menekan ekspor mobil nasional. Bob menegaskan kembali bahwa pelemahan itu tidak berkaitan dengan konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Ekspor CKD dan Komponen Juga Melandai

Selain CBU, ekspor mobil secara terurai atau completely knocked down (CKD) juga mengalami penurunan. Gaikindo mencatat ekspor CKD pada Maret 2026 berada di level 5.038 set unit, turun 36,2 persen dari Februari 2026 yang sebesar 7.898 set unit.

Meski begitu, ekspor komponen otomotif masih menunjukkan daya tahan di tengah perlambatan bulanan. Volume ekspor komponen tercatat 15.629.731 pieces pada Maret 2026, lebih rendah dari Februari 2026 yang mencapai 16.597.457 pieces.

Namun secara tahunan, ekspor komponen masih lebih baik dibanding Maret tahun lalu. Pada periode itu, ekspor komponen berada di angka 14.260.063 pieces, sehingga capaian Maret 2026 tetap memperlihatkan pertumbuhan dari sisi perbandingan tahunan.

Dampak Waktu Kerja yang Lebih Pendek

Kondisi pada Maret 2026 menegaskan bahwa sektor otomotif sangat dipengaruhi ritme kerja bulanan. Saat hari kerja berkurang tajam, kapasitas produksi dan pengiriman ikut menyesuaikan, terutama untuk kendaraan yang membutuhkan proses produksi dan logistik yang lebih panjang.

Dalam konteks ekspor mobil, penurunan CBU dan CKD pada bulan tersebut lebih mencerminkan faktor kalender kerja daripada perubahan permintaan global. Karena itu, penjelasan TMMIN penting untuk membaca data ekspor secara lebih proporsional, terutama ketika hasil bulanan dibandingkan langsung dengan bulan sebelumnya.

Data Gaikindo juga menunjukkan bahwa ekspor komponen masih bergerak di atas level tahun lalu, meski tidak setinggi Februari 2026. Hal ini mengindikasikan bahwa performa ekspor otomotif Indonesia pada Maret 2026 tidak merata di semua lini, dengan kendaraan utuh dan CKD terdampak lebih besar dibanding komponen.

Dengan demikian, perlambatan ekspor mobil Indonesia pada Maret 2026 perlu dilihat sebagai dampak sementara dari berkurangnya hari kerja selama libur Lebaran. Di sisi lain, kinerja ekspor komponen yang masih lebih tinggi secara tahunan memberi gambaran bahwa rantai pasok otomotif nasional tetap memiliki ketahanan di tengah perlambatan musiman.

Source: otomotif.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button