Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai pasar mobil di Indonesia sedang bergerak menuju keseimbangan baru antara merek China dan Jepang. Proyeksi ini muncul seiring meningkatnya penjualan mobil asal China yang dalam beberapa waktu terakhir tampil lebih agresif di pasar domestik.
Perubahan tersebut terlihat dari komposisi merek terlaris pada Maret 2026. Empat dari sepuluh merek mobil terlaris di Indonesia berasal dari China, yakni BYD, Jaecoo, Wuling, dan Chery.
Pergeseran yang Mulai Terlihat di Pasar
BYD menjadi sorotan karena berhasil menempati posisi kelima merek terlaris. Pencapaian itu membuat merek tersebut melewati Honda dan mendekati Suzuki yang berada di urutan keempat.
Meski begitu, dominasi Jepang belum hilang dari peta persaingan. Data sepanjang 2025 menunjukkan delapan dari sepuluh merek mobil terlaris masih dikuasai pabrikan Jepang, sehingga perubahan yang terjadi belum bisa disebut sebagai pergantian total kekuatan pasar.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai pasar Indonesia akan menuju titik seimbang, bukan kondisi ketika satu kelompok merek menyingkirkan kelompok lain. Ia menyebut masyarakat justru akan mendapat lebih banyak pilihan teknologi dari berbagai produsen.
"Mungkin nanti yang terjadi adalah keseimbangan brand. Jadi masyarakat punya pilihan. Jadi yang konvensional masih ada dan mereka akan mengadopsi teknologi modern," kata Kukuh Kumara di Menteng, Jakarta Pusat.
China Kian Kuat Berkat Kendaraan Listrik
Salah satu pendorong utama kenaikan merek China adalah minat konsumen pada kendaraan listrik atau EV. Segmentasi itu menjadi keunggulan penting bagi produsen China yang menawarkan teknologi elektrifikasi lebih agresif ke pasar Indonesia.
Gaikindo melihat tren ini sebagai bagian dari perubahan preferensi konsumen, bukan semata-mata pergeseran sesaat. Di sisi lain, pabrikan Jepang masih memiliki kekuatan besar berkat basis pelanggan yang loyal dan kemampuan beradaptasi pada teknologi mesin konvensional.
Persaingan Tidak Menghapus Pemain Lama
Kukuh juga menilai kehadiran merek-merek baru dari China tidak otomatis menghilangkan posisi merek lama. Menurut dia, pasar otomotif Indonesia sedang menuju fase yang memberi ruang bagi dua karakter utama, yaitu kendaraan konvensional dan teknologi modern.
Ia menambahkan bahwa banyak merek China berhasil masuk ke pasar global melalui proses adopsi teknologi dan merger, sehingga mereka tidak benar-benar membangun industri dari nol. Pandangan ini disebut mirip dengan perjalanan merek Jepang pada era 1970-an yang sempat diragukan, namun kemudian tumbuh menjadi kekuatan besar dunia otomotif.
Situasi tersebut menunjukkan kompetisi di Indonesia kini tidak hanya soal angka penjualan, tetapi juga soal arah teknologi yang dipilih konsumen. Dengan munculnya lebih banyak merek China di daftar terlaris, pasar mobil nasional bergerak ke fase baru yang mempertemukan kekuatan tradisional Jepang dengan dorongan teknologi elektrifikasi dari China.
