
Penjualan mobil Low Cost Green Car atau LCGC di Indonesia kembali tertekan setelah sempat menjadi tulang punggung pasar otomotif nasional. Di saat yang sama, kehadiran kendaraan listrik murah membuat segmen ini menghadapi persaingan yang jauh lebih ketat karena kini konsumen punya lebih banyak pilihan di rentang harga yang mirip.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, LCGC pertama kali masuk pasar pada 2013 dan langsung menarik perhatian masyarakat. Pada masa awal, segmen ini tumbuh cepat dan sempat menyumbang porsi besar dari total penjualan mobil di Tanah Air.
Dari pendatang baru menjadi andalan pasar
Saat diluncurkan pada 2013, penjualan LCGC masih berada di angka 51,1 ribu unit dengan pangsa pasar 4,2 persen. Setahun berikutnya, distribusinya melonjak menjadi 172,1 ribu unit dan pangsa pasarnya naik ke 14,2 persen.
Puncak performa segmen ini terjadi pada 2016. Kehadiran model baru berkapasitas tujuh penumpang dari kolaborasi Toyota dan Daihatsu ikut mendorong distribusi LCGC hingga 235,1 ribu unit, dengan pangsa pasar 22,1 persen.
Angka itu menjadi capaian tertinggi dalam sejarah LCGC. Pada periode setelahnya, penjualan masih sempat bertahan di kisaran 200 ribuan unit sebelum industri otomotif masuk ke fase sulit akibat pandemi Covid-19.
Pandemi dan pemulihan yang belum bertahan lama
Tekanan besar datang pada periode 2020-2022 ketika penjualan LCGC turun ke sekitar 100 ribuan unit per tahun. Meski begitu, pasar sempat memberi sinyal pemulihan pada 2023 lewat distribusi 204.705 unit.
Pemulihan itu ternyata belum cukup kuat untuk bertahan lama. Pada 2024, penjualan kembali susut menjadi 176.766 unit dan terus melemah pada 2025 hingga hanya 122.686 unit.
Pangsa pasar LCGC ikut terkikis dan berada di level 15,3 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa segmen yang dulu sangat dominan kini tidak lagi punya ruang yang sama besar di pasar otomotif nasional.
Mobil listrik murah mulai menggeser minat pembeli
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai penurunan tersebut berkaitan erat dengan kemunculan mobil listrik berharga di bawah Rp 200 juta. Menurut dia, konsumen kini menimbang lebih banyak opsi yang masuk ke area harga yang bersinggungan langsung dengan LCGC.
Kukuh menekankan bahwa konsumen mencari kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Ia juga menyoroti bahwa sejumlah pembeli, terutama di kota besar seperti Jakarta, tertarik pada mobil listrik karena bebas dari aturan ganjil genap.
“Jadi itu salah satu yang mendorong masyarakat beli mobil listrik,” ujar Kukuh.
Daya tarik itu membuat kendaraan listrik murah tidak lagi hanya menjadi alternatif baru, tetapi juga pesaing langsung bagi LCGC. Dalam situasi ini, mobil berbahan bakar bensin di kelas paling terjangkau harus berbagi ruang dengan produk listrik yang menawarkan keuntungan praktis tambahan.
Pasar lebih ramai, tapi tidak otomatis menguat
Gaikindo juga melihat bahwa bertambahnya jumlah anggota dan produsen di industri otomotif tidak otomatis membuat pasar membesar. Kukuh menyebut jumlah anggota Gaikindo kini naik dari sekitar 30-an menjadi 62 perusahaan, namun kondisi volume pasar belum menunjukkan penguatan berarti.
“Harus kita terima, alternatifnya banyak sekarang,” kata Kukuh.
Pernyataan itu menggambarkan perubahan besar di pasar mobil Indonesia. LCGC tidak lagi berdiri sendirian sebagai pilihan utama bagi pembeli mobil murah, karena kini ada kendaraan listrik murah yang masuk ke pertimbangan yang sama.
Dengan semakin banyaknya opsi kendaraan baru dan melemahnya pasar otomotif secara umum, LCGC menghadapi tantangan yang tidak sekadar berasal dari penurunan daya beli. Persaingan kini bergerak ke arah preferensi konsumen, dan mobil listrik murah berhasil mengambil sebagian perhatian yang dulu banyak mengalir ke segmen mobil hemat konvensional ini.









