Honda kembali menjadi sorotan setelah memutuskan menghentikan operasional di Korea Selatan pada akhir tahun ini. Langkah itu menandai berakhirnya perjalanan merek asal Jepang tersebut di pasar yang sudah mereka masuki sejak penjualan dimulai pada 2004.
Keputusan ini muncul di tengah persaingan yang makin berat, terutama ketika Hyundai dan Kia terus mendominasi pasar lokal. Kehadiran pemain baru seperti BYD juga ikut menekan ruang gerak Honda di Korea Selatan.
Pasar kecil, persaingan besar
Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip pada Minggu, 26 April, Korea Selatan bukan pasar utama bagi Honda. Volume penjualannya tergolong rendah dibandingkan merek lokal yang sudah lebih kuat secara jaringan, citra, dan pangsa pasar.
Honda hanya menjual kurang dari 2.000 mobil di Korea Selatan pada tahun lalu. Angka itu turun 20 persen dibandingkan periode sebelumnya dan memperlihatkan lemahnya daya saing Honda di negeri ginseng.
Situasi tersebut membuat Honda sulit mempertahankan skala bisnis yang efektif. Di tengah pasar yang semakin kompetitif, keberadaan merek asing tanpa posisi kuat menjadi semakin rentan.
Tekanan juga datang dari pasar Asia lain
Masalah Honda tidak berhenti di Korea Selatan. Di Tiongkok, penjualan ritel Honda dilaporkan turun 60 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya, dengan capaian hanya 646.000 unit pada 2025.
Penurunan itu bahkan berdampak pada struktur bisnis perusahaan. Honda mengumumkan akan menutup setidaknya satu pabrik mobil dari usaha patungan di Tiongkok.
Kondisi serupa juga terasa di Indonesia. Penjualan Honda di pasar Tanah Air turun 30,8 persen menjadi 71.233 unit, atau bahkan lebih rendah dibandingkan masa pandemi COVID-19 pada 2020 yang mencapai 73.317 unit.
Langkah efisiensi di tengah tekanan industri
Rangkaian penurunan penjualan membuat Honda berada dalam posisi yang menantang. Perusahaan kini harus menyesuaikan operasi di sejumlah pasar sambil menghadapi perubahan preferensi konsumen dan kompetisi yang makin agresif.
Di berbagai negara, pasar otomotif Asia memang bergerak cepat. Produk dari Korea Selatan dan Tiongkok terus memperluas jangkauan, sementara merek lama dipaksa menurunkan biaya dan mengurangi risiko kerugian.
Honda juga menghadapi dinamika serupa di pasar global lain. Salah satu keputusan yang mencuri perhatian adalah pembatalan peluncuran EV di Amerika Serikat, termasuk Afeela dari usaha patungan Sony-Honda Mobility (SHM).
Perubahan arah itu menunjukkan bahwa Honda sedang berhati-hati dalam melanjutkan proyek yang dinilai belum aman secara bisnis. Dalam kondisi pasar saat ini, perusahaan tampak memilih membatasi eksposur pada model dan wilayah yang berpotensi menambah tekanan keuangan.
Pembatalan sejumlah model EV
Sebelum kabar soal Afeela, Honda juga telah membatalkan peluncuran tiga model EV terbarunya. Ketiganya adalah 0 Saloon, 0 SUV, dan Acura RSX.
Honda menyampaikan bahwa melanjutkan produksi dan penjualan model-model tersebut dalam kondisi bisnis saat ini berisiko memperburuk kerugian jangka panjang. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keputusan perusahaan tidak hanya dipicu oleh penjualan, tetapi juga oleh perhitungan terhadap keberlanjutan bisnis.
Di tengah kondisi tersebut, langkah keluar dari Korea Selatan tampak sebagai bagian dari penyesuaian yang lebih luas. Honda kini harus menjaga keseimbangan antara ekspansi teknologi baru dan pengetatan strategi di pasar yang tidak lagi memberi hasil optimal.
Perkembangan ini menegaskan bahwa persaingan otomotif di Asia semakin ketat dan cepat berubah, terutama bagi merek besar yang tidak lagi memiliki keunggulan mutlak di hadapan produsen lokal maupun pendatang baru dari Tiongkok.







