Bekasi Berubah Jadi Petaka Besar, Kecelakaan Kereta Dan Taksi Green SM Menguak Masalah Serius

Kecelakaan kereta dengan taksi Green SM di dekat Stasiun Bekasi menjadi sorotan besar karena insiden itu memicu tabrakan beruntun yang berujung pada petaka di lintasan. Peristiwa ini kembali menyorot keamanan operasional taksi ijo yang memakai mobil listrik VinFast, setelah sebelumnya sejumlah insiden lain juga ikut menyeret nama layanan tersebut.

Di balik insiden itu, muncul pertanyaan soal kesiapan pengemudi dan karakter kendaraan listrik yang dipakai armada Green SM. Sejumlah pihak yang terlibat, termasuk penumpang, sopir, dan rekanan, menyebut ada banyak hal janggal yang mereka rasakan, mulai dari kondisi kendaraan hingga kemampuan driver dalam mengemudikan mobil listrik.

Perekrutan driver yang dinilai longgar

Dalam obrolan dengan beberapa driver, proses perekrutan disebut tidak terlalu ketat pada awalnya. Seorang sopir yang tidak ingin disebut namanya mengatakan bahwa riwayat sebagai driver BlueBird bisa membuat seseorang langsung diterima tanpa tes dan langsung memperoleh unit.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran karena tidak semua pengemudi memahami perilaku mobil listrik. Padahal, kendaraan listrik memiliki karakter berbeda jauh dari mobil bensin, terutama saat digunakan untuk membawa penumpang di jalan raya.

Karakter mobil listrik menuntut adaptasi

Sejumlah driver mengaku baru pertama kali memegang mobil listrik ketika bergabung dengan Green SM. Situasi ini dinilai berisiko karena pengemudi perlu segera memahami perbedaan karakter kendaraan, termasuk cara memanfaatkan fitur-fitur yang tidak ditemui pada mobil bermesin pembakaran internal.

Mobil listrik memiliki getaran yang sangat minim, torsi yang jauh lebih besar, dan suara mesin yang hampir tidak terdengar. Jika pengemudi tidak paham, mobil bisa melaju tanpa terasa sehingga meningkatkan risiko kesalahan dalam berkendara.

Fitur canggih belum tentu aman jika tak dipahami

Selain karakter dasar kendaraan, ada juga persoalan fitur bantuan berkendara atau ADAS yang dinilai perlu penyesuaian dengan kondisi di Indonesia. Beberapa fitur bekerja otomatis atau aktif sebagai pengaturan bawaan, sehingga pengemudi dituntut selalu siap mengendalikan situasi di jalan.

Jika sopir tidak benar-benar memahami cara kerja fitur tersebut, risiko bagi pengguna jalan lain ikut meningkat. Dalam konteks itulah insiden di Bekasi dianggap bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan alarm soal kesiapan manusia dan teknologi yang berjalan bersamaan di layanan transportasi baru ini.

Sorotan terhadap armada listrik dan keselamatan operasional

Green SM menjadi perhatian karena memakai unit mobil listrik sebagai armada taksi. Status itu semula dipandang sebagai langkah modern, tetapi rangkaian insiden yang melibatkan kendaraan ini justru memunculkan keraguan soal penerapan keselamatan di lapangan.

Sejumlah cerita dari sopir dan pihak terkait menunjukkan adanya jarak antara teknologi kendaraan dan kesiapan operator. Saat armada listrik dipakai untuk layanan massal tanpa pemahaman yang merata, risiko di jalan bisa membesar dan dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang, tetapi juga pengguna jalan lain di sekitarnya.

Exit mobile version