Tiga tahun pemakaian menunjukkan Gesits bukan sekadar motor listrik lokal yang menarik di awal, tetapi juga cukup tahan untuk dipakai harian. Namun, setelah usia penggunaan bertambah, sejumlah masalah mulai muncul dan menjadi catatan penting bagi calon pembeli.
Gambaran ini datang dari pengalaman pengguna di Surabaya yang memakai Gesits sejak 2020, saat motor listrik masih tergolong baru di pasar Indonesia. Pada masa itu, Gesits dikenal sebagai salah satu pionir motor listrik buatan dalam negeri hasil kolaborasi ITS dan PLN.
Masih Nyaman Setelah Dipakai Lama
Di tengah munculnya beberapa kendala teknis, satu hal yang tetap menonjol adalah kenyamanan berkendara. Aspek ini justru menjadi nilai jual utama yang masih bertahan setelah tiga tahun penggunaan.
Suspensi belakang monoshock dinilai empuk dan nyaman, termasuk saat motor dipakai berboncengan. Karakter ini membuat pengendara maupun penumpang tetap merasa nyaman saat digunakan untuk mobilitas sehari-hari.
Posisi duduk dan ergonomi juga disebut tidak menyulitkan adaptasi. Rasa berkendaranya masih mirip motor konvensional, sehingga pengguna baru motor listrik tidak perlu banyak penyesuaian.
Dari sisi performa, motor ini masih dianggap cukup mumpuni untuk kelasnya. Akselerasi dan kecepatan dinilai masih bisa bersaing dengan motor berbahan bakar bensin di segmen yang setara.
Masalah yang Mulai Terasa
Meski dasar kenyamanan dan performanya masih terjaga, pemakaian jangka panjang mulai membuka sisi lemah Gesits. Keluhan paling mengganggu datang dari indikator baterai di speedometer yang dinilai tidak akurat.
Dalam pengalaman tersebut, indikator sempat menunjukkan baterai habis meski kondisi sebenarnya masih terisi. Akibatnya, pengguna harus memeriksa langsung baterai di bawah jok untuk memastikan sisa daya yang tersedia.
Masalah lain yang sempat muncul adalah rem depan yang tiba-tiba macet. Kondisi ini membuat motor sulit digerakkan dan akhirnya harus ditangani di bengkel umum.
Beberapa bagian bodi juga mulai menunjukkan penurunan kualitas setelah dipakai lama. Batok lampu dilaporkan menjadi longgar dan bergetar saat motor melaju di jalan.
Finishing panel bodi doff ikut menjadi sorotan. Seiring waktu, tampilannya dinilai lebih mudah kusam sehingga mengurangi kesan rapi pada motor.
Gangguan Kecil, Tapi Tetap Mengganggu
Selain masalah mekanis dan bodi, gangguan pada sistem kelistrikan juga sempat dirasakan. Salah satunya adalah lampu sein yang tetap menyala tetapi tanpa suara penanda.
Keluhan seperti ini memang tergolong minor, tetapi tetap mengganggu kenyamanan berkendara. Pada kendaraan harian, masalah kecil semacam itu bisa terasa cukup merepotkan jika muncul berulang.
Pengguna juga mencatat adanya gejala penurunan tenaga sesaat saat motor dipakai. Gangguan ini tidak berlangsung terus-menerus, tetapi cukup terasa dan diduga berkaitan dengan sistem baterai atau controller.
Di sisi lain, kondisi baterai secara umum masih dianggap aman setelah tiga tahun pemakaian. Waktu pengisian daya dari 30 persen hingga penuh disebut berkisar 4 sampai 6 jam, dan masih tergolong normal.
Catatan Penting untuk Perawatan
Pengalaman penggunaan jangka panjang ini juga memberi gambaran soal pola perawatan yang perlu diperhatikan. Salah satu anjuran utamanya adalah tidak membiarkan baterai habis sampai nol persen sebelum diisi ulang.
Pengisian daya ideal disebut dilakukan saat kapasitas baterai masih tersisa sekitar 20 persen. Pola ini dianggap penting untuk membantu menjaga kondisi baterai tetap sehat.
Cara berkendara juga berpengaruh terhadap konsumsi daya. Penggunaan mode kecepatan tinggi secara terus-menerus disebut bisa mempercepat baterai terkuras dan mengurangi jarak tempuh.
Karena itu, motor ini dinilai tetap cocok untuk kebutuhan harian jarak dekat, selama pengguna memahami karakter pemakaiannya. Dalam konteks komuter perkotaan, efisiensi dan kenyamanan masih menjadi sisi yang cukup menonjol.
After Sales Dinilai Cukup Responsif
Layanan purna jual menjadi bagian lain yang ikut disorot setelah pemakaian tiga tahun. Pada beberapa kasus, teknisi disebut bisa datang langsung ke rumah untuk menangani perbaikan ringan.
Respons seperti ini memberi nilai tambah, terutama bagi pengguna yang membutuhkan penanganan cepat. Namun untuk masalah tertentu, seperti controller, perbaikan tetap harus dilakukan di bengkel resmi.
Di titik ini, keterbatasan jaringan servis masih menjadi catatan yang tidak bisa diabaikan. Ketika masalah masuk ke komponen yang lebih spesifik, kemudahan penanganan menjadi sangat bergantung pada akses ke layanan resmi.
Pengalaman panjang ini menunjukkan Gesits masih layak dipakai untuk kebutuhan harian, terutama karena kenyamanan dan performanya tetap terasa. Tetapi indikator baterai yang kurang akurat, kualitas beberapa komponen, serta urusan servis menjadi sisi yang kini mulai lebih jelas terlihat setelah motor dipakai dalam jangka panjang.







