VinFast kini sudah punya sekitar 2.000 bus listrik di Vietnam, dan skala itu langsung memunculkan pertanyaan yang relevan untuk Indonesia: kapan armada serupa bisa hadir dalam jumlah besar di jalan-jalan kota Tanah Air. Angka tersebut menunjukkan bahwa bus listrik bukan lagi proyek percontohan bagi produsen otomotif Vietnam itu, melainkan bagian nyata dari sistem transportasi massal yang terus meluas.
Di pasar domestik, bus listrik VinFast paling banyak terlihat di Hanoi, sementara operasionalnya juga berjalan di kota besar lain seperti Haiphong dan Ho Chi Minh City. Armada itu dipakai bukan hanya oleh VinBus, tetapi juga oleh operator lain seperti Transerco untuk mendukung layanan transportasi perkotaan.
Armada besar, operasional sudah matang
Dari sekitar 2.000 bus listrik yang ada, sekitar 600 unit dioperasikan langsung oleh VinBus, perusahaan transportasi di bawah grup VinFast. Hingga akhir 2025, armada VinBus tercatat telah menempuh sekitar 73 juta kilometer, angka yang memberi gambaran bahwa penggunaan bus listrik sudah masuk fase operasional intensif.
VinBus sendiri berdiri pada 2019 dengan investasi 1 triliun dong Vietnam atau setara lebih dari Rp661 miliar. Perusahaan itu menjadi operator pertama bus listrik di Vietnam dan kini melayani lima kota besar.
Untuk menunjang operasional, VinBus mengandalkan depo Ocean Park di Hanoi sebagai salah satu dari tiga pusat operasionalnya di ibu kota Vietnam. Fasilitas seluas sekitar 10.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 100 bus listrik sekaligus.
Depo tersebut juga punya 40 unit pengisian daya yang dapat mengisi baterai hingga 80 bus secara bersamaan. Selain itu, fasilitasnya dilengkapi panel surya, bengkel perawatan, area parkir dengan pengisian daya baterai, dan sistem pencucian otomatis untuk menjaga efisiensi kerja armada.
Ukuran bus yang pas untuk kota
Salah satu ciri menarik pasar Vietnam adalah pemakaian bus listrik yang lebih ringkas. Ukuran yang umum dipakai berada di rentang 6 meter, 8 meter, hingga 10 meter, dan untuk operasional dalam kota, bus 10 meter menjadi dimensi terbesar yang lazim digunakan.
Pola ini penting karena menunjukkan bahwa adopsi bus listrik tidak selalu harus dimulai dari kendaraan besar. Bagi kota-kota dengan kebutuhan rute padat dan ruas jalan yang terbatas, pilihan ukuran yang lebih kompak bisa menjadi langkah awal yang realistis.
VinBus juga menerapkan inspeksi rutin setiap 5.000 kilometer berdasarkan daftar pengecekan teknis yang telah ditentukan. Perusahaan ini bahkan menyediakan layanan perawatan untuk bus VinFast milik operator pihak ketiga.
Siap menyebar ke Eropa
Di saat pasar domestik terus berkembang, VinFast sudah menyiapkan langkah berikutnya ke Eropa. Produsen otomotif Vietnam itu berencana meluncurkan bus listrik EB 12 dan EB 8 setelah debut global di ajang Busworld Europe 2025.
Tahap awal ekspansi Eropa akan dimulai lewat EB12 yang sudah mengantongi homologasi pasar Eropa. Setelah itu, EB8 dijadwalkan menyusul untuk menambah lini bus listrik VinFast dalam dua tahun ke depan.
Untuk pasar Eropa, VinFast membidik kawasan Benelux dan Jerman pada tahap awal. Perusahaan juga telah membuka kantor di Amsterdam, Paris, dan Frankfurt, serta membangun pusat logistik suku cadang di Belanda untuk memperkuat jaringan operasional.
EB12 sendiri akan memakai baterai 422 kWh, lebih besar dibanding bus listrik VinFast yang saat ini menggunakan baterai CATL berkapasitas 281 kWh. Berdasarkan data yang dihimpun Busworld, bus listrik VinFast rata-rata mampu menempuh sekitar 260 kilometer dalam sekali pengisian.
Indonesia masih punya ruang besar
Perkembangan VinFast memperlihatkan bahwa ekosistem bus listrik bisa dibangun dari produksi kendaraan, operasional armada, sampai dukungan depo dan perawatan. Bagi Indonesia, capaian itu menjadi pengingat bahwa transportasi massal berbasis listrik dapat menjadi bagian dari strategi mobilitas perkotaan sekaligus penguatan industri otomotif lokal.
