Polda Metro Jaya masih menelusuri kemungkinan gangguan medan magnet sebagai pemicu taksi listrik Green SM mogok di tengah rel pada perlintasan sebidang kereta. Insiden itu berujung pada rangkaian kecelakaan kereta yang menewaskan 16 orang dan membuat 90 lainnya luka-luka.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan penyelidikan berjalan paralel bersama Puslabfor dan KNKT. Ia menegaskan tim masih bekerja untuk memastikan apakah medan magnet atau medan listrik ikut memengaruhi kendaraan tersebut.
Dugaan gangguan pada sistem kendaraan
Budi menjelaskan taksi listrik itu tiba-tiba mati saat berada di jalur rel. Sopir yang berada di dalam kendaraan juga sempat kesulitan keluar karena pintu tidak bisa dibuka.
Menurut dia, posisi transmisi kendaraan sempat berpindah ke huruf P atau parkir. Sopir baru bisa menyelamatkan diri setelah kaca mobil diturunkan dan dibantu warga sekitar melalui jendela bagian sopir.
Polda juga belum memastikan penyebab pasti taksi listrik itu mati mendadak. Namun, peristiwa ini menjadi salah satu fokus utama penyelidikan karena terjadi tepat sebelum tabrakan di perlintasan sebidang.
Tanggapan peneliti ITB
Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB Agus Purwadi membenarkan bahwa mobil listrik memang rentan bermasalah saat melintas di perlintasan kereta. Ia menyebut sistem kontrol kendaraan bisa terpengaruh medan magnet kuat dari rel kereta.
Agus menjelaskan arus listrik kereta yang melintas di jalur atas dan rel dapat memengaruhi sensor kendaraan. Dalam penjelasannya, mobil listrik maupun mobil konvensional sama-sama memakai sistem elektronik seperti PCU, VCU, dan ECU.
Ia juga menyinggung adanya pengujian EMC atau Electro Magnetic Compatibility untuk mobil listrik UNR 100 dan motor listrik UNR 136. Pengujian itu dilakukan agar sistem kontrol tidak saling mengganggu atau terganggu oleh medan elektromagnetik pada batas tertentu yang dipersyaratkan.
Sopir baru bekerja tiga hari
Di tengah proses penyelidikan, terungkap bahwa sopir taksi listrik berinisial RRP baru bekerja selama tiga hari sebelum kecelakaan. Keterangan ini menambah perhatian pada detail insiden yang memicu rangkaian kecelakaan besar di lintasan kereta.
Taksi Green SM itu mogok di perlintasan sebidang dan kemudian dihantam KRL yang melintas pada Senin malam, 27 April. Dampak tabrakan itu tidak berhenti di satu lokasi karena KRL lain tujuan Cikarang harus berhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur.
Rangkaian tabrakan beruntun
KRL yang berhenti darurat kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Benturan lanjutan itu membuat gerbong belakang khusus wanita ringsek dan menewaskan belasan orang.
Polisi masih mendalami seluruh kemungkinan yang membuat taksi listrik itu berhenti mendadak di atas rel. Hingga kini, perhatian penyidik tertuju pada apakah gangguan medan magnet, masalah kelistrikan, atau faktor lain berperan dalam insiden yang memicu kecelakaan beruntun tersebut.
