Malaysia Gasak Era Mobil Tanpa Sopir, Target Level 3 Dipacu Pada 2030

Malaysia mulai menyiapkan lompatan besar menuju kendaraan tanpa sopir dengan target kemampuan otonom Level 3 pada 2030. Langkah ini menandai pergeseran penting dari fokus pada kendaraan tradisional ke ekosistem mobilitas yang lebih otomatis.

Wakil Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Sim Tze Tzin, menilai diskusi soal kendaraan otonom tidak bisa lagi ditunda. Ia menyebut Malaysia perlu segera membangun fondasi agar tidak tertinggal dari perkembangan industri otomotif global.

Dorongan agar industri bergerak lebih cepat

Sim mengatakan pembahasan kendaraan otonom masih belum menjadi fokus utama di negaranya. Karena itu, ia mendorong industri otomotif dan pemerintah untuk mulai serius menyiapkan transisi tersebut sejak sekarang.

Ia juga menegaskan bahwa Institut Otomotif, Robotika, dan IoT Malaysia atau Malaysia Automotive, Robotics and IoT Institute akan diberi tugas membangun dasar pengembangan teknologi kendaraan otonom. Menurutnya, persiapan itu penting agar Malaysia memiliki arah yang jelas dalam mengejar teknologi yang terus berkembang.

Penerapan sistem mengemudi otonom dipandang akan mengubah banyak sektor sekaligus. Dampaknya tidak hanya terasa pada mobil, tetapi juga pada desain semikonduktor, perangkat lunak, produksi sensor, dan infrastruktur jalan.

Ekosistem pendukung juga harus siap

Pemerintah Malaysia ingin perusahaan lokal ikut masuk ke rantai pasok teknologi otonom. Sim menyebut vendor dalam negeri perlu meningkatkan kemampuan untuk memasok chip, sensor, dan perangkat lunak yang dibutuhkan industri.

Ia juga menyoroti peran pemerintah daerah serta dinas pekerjaan umum dalam menyiapkan lingkungan jalan yang memadai. Perbaikan kondisi jalan, rambu lalu lintas, dan fasilitas pendukung lain dianggap menjadi bagian penting dari ekosistem kendaraan otonom.

Sim menilai mobil otonom tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan infrastruktur yang sesuai. Karena itu, kesiapan lintas sektor menjadi syarat agar teknologi tersebut bisa berfungsi optimal.

Level 3 dan arti di balik target 2030

Menurut klasifikasi SAE International, kendaraan otonom terbagi dari Level 0 hingga Level 5. Level 0 berarti seluruh kendali masih di tangan pengemudi, sedangkan Level 5 menandakan kendaraan dapat beroperasi sepenuhnya tanpa campur tangan manusia dalam segala kondisi.

Level 3 berada di tengah perkembangan itu. Pada tahap ini, mobil dapat mengemudi sendiri dalam situasi tertentu, tetapi pengemudi tetap harus siaga dan bisa mengambil alih kendali kapan saja.

Target Level 3 pada 2030 menunjukkan Malaysia memilih langkah bertahap, bukan langsung mengejar otomatisasi penuh. Strategi itu sekaligus memberi ruang bagi industri dan regulator untuk membangun fondasi teknis, hukum, dan infrastruktur secara lebih terukur.

Malaysia sudah punya pijakan awal

Sebenarnya, Malaysia bukan benar-benar memulai dari nol. Pada November 2020, pemerintah setempat menetapkan jalur uji coba kendaraan otonom pertama di jalan umum kawasan Cyberjaya.

Persetujuan penggunaan jalur itu diberikan sebulan kemudian, dan eMoovit Technology menjadi perusahaan pertama yang memperoleh izin untuk menguji kendaraan otonom di lokasi tersebut. Langkah itu menjadi salah satu tanda awal bahwa Malaysia sudah mulai membuka jalan bagi teknologi mobilitas masa depan.

Sim juga melihat perkembangan kendaraan otonom di Amerika Serikat sebagai bukti percepatan global. Ia menyebut jumlah kota yang menerapkan kendaraan otonom di sana naik dari sekitar empat kota pada tahun lalu menjadi sekitar 40 kota tahun ini, dan diperkirakan bertambah 60 kota lagi tahun depan.

Menurut Sim, Malaysia tidak boleh hanya mengejar teknologi yang sudah ada saat ini. Ia menilai masa depan mobilitas yang sebenarnya ada pada pengemudian otonom, dan negara itu masih punya peluang untuk membangun posisi kuat jika fondasinya dimulai sekarang.

Source: voi.id

Berita Terkait

Back to top button