Rupiah Kian Tertekan, BBM Nonsubsidi Makin Dekat Ke Harga Naik

Pelemahan rupiah yang sudah menembus Rp17.529 per USD memunculkan sinyal baru bagi pasar energi nasional. Di saat yang sama, harga minyak dunia disebut berada di level USD105 per barel, jauh di atas asumsi APBN, sehingga harga BBM nonsubsidi dinilai berpotensi ikut terkerek.

Kondisi itu menjadi perhatian karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk menutup kebutuhan dalam negeri. Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, menyebut produksi nasional belum mampu mengejar konsumsi masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari.

Beban impor makin berat

Hamid menjelaskan, impor minyak dibayar dengan mata uang dolar AS. Karena itu, pelemahan rupiah langsung memperbesar biaya pembelian bahan baku energi.

Ia menegaskan bahwa kurs sangat mempengaruhi harga BBM, terutama untuk jenis nonsubsidi yang mengikuti mekanisme pasar. Dalam situasi seperti ini, kenaikan biaya impor akan cepat terasa di level harga jual.

Di atas asumsi APBN

Tekanan biaya juga datang dari sisi harga acuan. Dalam APBN 2026, asumsi nilai tukar tercatat Rp16.500 per USD, sementara harga minyak dunia diasumsikan USD70 per barel.

Kondisi pasar saat ini disebut sudah melampaui dua parameter itu. Jika rupiah terus melemah dan minyak dunia tetap tinggi, beban energi impor akan semakin besar bagi pelaku usaha maupun negara.

Prediksi kenaikan BBM nonsubsidi

Hamid menilai wajar bila Pertamina kembali menaikkan harga BBM. Ia juga memprediksi pelemahan rupiah masih berlanjut hingga akhir tahun, sehingga tekanan terhadap harga energi belum mereda.

Menurut dia, harga jual BBM nonsubsidi memang tidak dicampuri pemerintah. Sejak lima tahun terakhir, badan usaha swasta dan Pertamina disebut selalu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pasar.

Mekanisme pasar jadi penentu

Hamid menyebut, bila bahan baku naik, maka harga BBM juga harus menyesuaikan. Ia menilai kondisi itu sudah dipahami pasar, sehingga perubahan harga nonsubsidi relatif tidak menimbulkan gejolak besar.

Ia juga mengingatkan bahwa bila badan usaha, termasuk Pertamina, tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi saat biaya naik, dampaknya bisa sangat besar bagi kondisi finansial perusahaan. Karena itu, penyesuaian harga dipandang sebagai konsekuensi dari struktur biaya yang berubah.

Pasar kini menunggu apakah tekanan dari rupiah dan minyak dunia akan segera diteruskan ke harga jual di SPBU. Selama dua variabel itu masih bergerak di luar asumsi, ruang untuk menahan harga BBM nonsubsidi dinilai makin sempit.

Berita Terkait

Back to top button