Nissan Cuma Menjual 144 Unit Hingga April 2026, Makin Tertekan Oleh Mobil China?

Nissan kini berada di titik yang jauh berbeda dibanding masa ketika merek ini rutin masuk jajaran 10 besar penjualan mobil di Indonesia. Hingga bulan lalu, penjualannya hanya mencapai 144 unit, angka yang menunjukkan betapa beratnya situasi yang sedang dihadapi pabrikan asal Jepang itu.

Kondisi ini juga memunculkan pertanyaan soal peran merek-merek China yang makin agresif di pasar otomotif nasional. Namun, penurunan Nissan ternyata tidak terjadi tiba-tiba karena tekanan kompetitor baru, sebab tren melemahnya penjualan sudah terlihat jauh lebih dulu.

Dulu Nissan sempat sejajar dengan merek besar seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Honda. Pada 2020, Nissan masih mencatat lebih dari 10 ribu unit secara wholesales dan 7.408 unit secara retail.

Setelah itu, angka penjualannya terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2021, penjualan wholesales tercatat 3.177 unit dan retail 6.185 unit, lalu turun lagi menjadi 2.413 unit pada 2022, 1.639 unit pada 2023, 1.377 unit pada 2024, dan 1.041 unit pada 2025.

Penurunan yang makin tajam

Kondisi Nissan makin terasa berat saat memasuki 2026. Dalam periode Januari hingga April, merek ini hanya membukukan 106 unit, padahal biasanya penjualannya bisa tembus lebih dari 500 unit pada periode yang sama.

Salah satu masalah yang ikut membebani adalah minimnya penyegaran produk. Nissan memang memiliki delapan model yang dipasarkan, mulai dari Serena e-Power, X-Trail e-Power, Kicks e-Power, Leaf, Livina, Terra, hingga Magnite.

Masalahnya, peluncuran model baru tidak berlangsung konsisten. Dalam beberapa momen, Nissan bisa merilis dua mobil dalam setahun, tetapi setelah itu tidak ada model anyar lain yang datang untuk menjaga momentum.

Harga juga disebut belum cukup ramah untuk membuat model-model Nissan lebih mudah bersaing. Di pasar yang semakin padat, kondisi itu membuat banyak produknya kesulitan mencuri perhatian konsumen.

Tekanan dari pasar dan rival baru

Di segmen mobil ramah lingkungan, tantangannya bahkan lebih besar. Leaf hadir sebagai mobil listrik pertama Nissan di Indonesia, tetapi harganya yang di bawah Rp 1 miliar tetap belum cukup untuk menandingi hatchback seperti Geely EX2 yang hadir sejak akhir tahun lalu.

Serena e-Power masih punya ruang di segmen MPV boxy, tetapi lawannya tidak ringan. Di kelas ini, Toyota Voxy dan Honda Step WGN e:HEV menjadi rival kuat yang membuat persaingan tetap ketat.

Nasib X-Trail e-Power juga belum memberi gambaran yang jelas. Model yang dirilis tahun lalu itu disebut belum memiliki hasil penjualan yang diketahui sampai sekarang.

Model lama ikut terseret

Kicks e-Power dan Magnite juga disebut hampir tidak terdengar lagi sejak mendapat penyegaran. Sementara itu, Terra masih berjuang menghadapi dominasi Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan Isuzu MU-X di segmen SUV ladder frame.

Livina juga tak lagi sekuat dulu. Model yang pernah menjadi lawan berat Avanza itu kini berada di posisi paling akhir di segmen LMPV, sementara penyegarannya tidak mengikuti kembarannya.

Di sisi lain, kehadiran merek China ikut mengubah peta persaingan, terutama di pasar mobil ramah lingkungan. Banyak merek asal China menawarkan mobil listrik murah dan terus memperluas lini produk, sehingga pilihan konsumen menjadi lebih beragam.

Meski begitu, tekanan dari merek China bukan satu-satunya penyebab. Penurunan Nissan sudah terjadi sebelum gelombang kompetitor baru itu menguat, sehingga persoalannya lebih luas dari sekadar persaingan harga atau popularitas merek pendatang.

Di tengah situasi tersebut, Indomobil masih tetap menjual mobil Nissan di Indonesia. Harapannya, model seperti Serena atau X-Trail e-Power masih bisa menjadi tumpuan, meski untuk saat ini Nissan jelas butuh langkah lebih serius agar tidak semakin tertinggal di pasar domestik.

Source: ridertua.com
Exit mobile version