Peluncuran Ferrari Luce langsung memicu perdebatan karena mobil listrik ini dinilai tidak membawa karakter Ferrari yang biasa dikenal publik. Bukan hanya penggemar yang kecewa, kritik juga datang dari mantan petinggi perusahaan hingga eks desainer yang menilai ada masalah mendasar pada bahasa desainnya.
Luca di Montezemolo bahkan disebut berkomentar bahwa emblem mobil tersebut “seharusnya dicopot”. Dari kubu rival, CEO Lamborghini Stephan Winkelmann menyebut keputusan Ferrari beralih dari ICE ke PHEV sudah tepat, sambil menegaskan bahwa permintaan EV belum meningkat.
Sorotan tajam juga datang dari Alexey Semenov, eks desainer yang pernah bekerja untuk Subaru, Fiat, NIO, Great Wall Motor, dan Fisker. Ia kini menjalankan A3 Agentur, perusahaan konsultan yang berfokus pada otomotif, roda, dan produk lainnya.
Menurut Semenov, Ferrari Luce meninggalkan identitas Ferrari yang selama ini dikenal anggun, eksotis, dan mengalir secara estetika. Ia menilai mobil itu justru memancarkan kesan visual yang terkompresi dan sulit diselesaikan hanya lewat pendekatan bahasa desain.
Masalah proporsi dan volume
Semenov menyoroti proporsi eksterior Luce yang menurutnya terasa pendek, sempit, dan tinggi. Kombinasi seperti itu, kata dia, memang menantang untuk estetika otomotif karena pengelolaan volume menjadi sangat penting.
Namun, ia menilai perlakuan volumetrik pada Luce belum sepenuhnya mengurangi ketegangan proporsional tersebut. Hasil akhirnya tetap memberi kesan kompresi visual yang sulit diatasi.
Ia juga menganggap Ferrari melewatkan aspek penting pada desain roda. Bagian roda aerodinamis dengan pembagian warna disebutnya sebagai peluang besar yang terlewat karena tidak memperkuat atau memperpanjang postur mobil.
Sebaliknya, roda itu justru terlihat lebih kecil dibandingkan massa bodi. Dalam pandangan Semenov, efek visual seperti ini membuat sisi samping Luce tidak tampil seimbang.
Depan dan belakang tidak selaras
Kritik Semenov tidak berhenti di profil samping. Ia menilai ada ketidakharmonisan antara bagian depan yang terasa percaya diri dengan bagian belakang yang tidak meneruskan bahasa visual yang sama.
Ia juga mengomentari penafsiran ulang grafis lampu belakang empat lingkaran khas Ferrari. Meski elemen itu dimaksudkan sebagai penghormatan pada warisan merek, Semenov menilai hasilnya belum terintegrasi meyakinkan ke bahasa desain baru mobil ini.
Dengan kata lain, menurut dia, Luce membawa beberapa isyarat klasik Ferrari, tetapi tidak menyatukannya secara utuh. Itulah yang membuat tampilannya terasa terpecah di mata sebagian pengamat.
Interior justru dipuji
Di tengah kritik keras pada eksterior, Semenov memberi penilaian positif untuk kabin Ferrari Luce. Ia menyebut interior mobil ini sebagai contoh desain produk yang percaya diri, koheren, dan terselesaikan dengan indah.
Ia juga menilai interior tersebut paling masuk akal untuk kendaraan listrik premium perkotaan. Menurutnya, ruang kabin itu kaya detail mekanis yang diperhitungkan, memiliki kualitas sentuhan yang baik, dan membawa filosofi desain yang jelas serta konsisten.
Meski begitu, pujian itu tidak menutup kritik utamanya. Semenov menyimpulkan bahwa ketidaksinkronan antara eksterior dan interior menjadi akar kontroversi Ferrari Luce.
Untuk mobil dengan titik harga seperti ini, apalagi membawa nama Ferrari, ketidakkonsistenan visual disebutnya sulit diabaikan. Kritik tersebut menempatkan Luce bukan hanya sebagai mobil listrik baru, tetapi juga sebagai produk yang memicu pertanyaan besar tentang arah identitas desain Ferrari ke depan.
