
BYD kembali menarik perhatian lewat video yang memperlihatkan mobil listriknya tetap mampu mengisi daya sangat cepat meski sebelumnya didiamkan dalam suhu ekstrem. Dalam demonstrasi itu, pabrikan asal China tersebut tampak ingin menegaskan bahwa hambatan terbesar EV di musim dingin mulai bisa dipatahkan.
Uji tersebut menempatkan Denza Z9GT, sebuah EV mewah yang baru diluncurkan di Eropa, di kondisi subzero selama satu hari penuh pada minus 30 derajat Celsius atau minus 22 derajat Fahrenheit. Setelah itu, mobil disambungkan ke salah satu pengisi daya Flash terbaru BYD yang diklaim mampu menyalurkan daya hingga 1.500 kilowatt.
Hasilnya mencolok. Baterai naik dari 20 persen ke 97 persen hanya dalam 12 menit, sejalan dengan klaim sebelumnya BYD untuk baterai Blade generasi kedua.
Di layar, jarak tempuh yang ditampilkan ikut naik hingga hampir 626 mil. Namun angka itu tampaknya mengacu pada standar uji CLTC di China, yang umumnya lebih longgar dibanding estimasi berbasis jalan raya yang dipakai di beberapa pasar lain.
BYD tampak sengaja menempatkan video ini sebagai bukti bahwa paket baterai dan pengisian barunya tetap bekerja saat suhu jatuh sangat rendah. Pesan itu penting karena banyak pengemudi masih menganggap EV paling rentan ketika musim dingin datang.
Jika performa seperti ini benar-benar bertahan di penggunaan sehari-hari, dampaknya bisa besar bagi pengemudi di wilayah dingin. Waktu tunggu di stasiun pengisian sebelum berangkat kerja, saat menjalankan urusan harian, atau ketika bepergian jarak jauh bisa menjadi jauh lebih singkat.
Manfaatnya juga menyentuh kelompok pengguna yang bergantung pada perputaran cepat. Penghuni apartemen, pengemudi ride-hail, armada pengiriman, dan siapa pun yang membutuhkan isi ulang singkat dapat melihat EV menjadi pilihan yang lebih praktis.
Lebih luas lagi, baterai yang tetap cepat di suhu beku bisa membantu kota dan perusahaan menjaga armada bus listrik, kendaraan layanan, dan logistik tetap berjalan saat musim dingin. Itu berpotensi menekan biaya bahan bakar, mengurangi polusi udara, dan membuat sistem transportasi lebih andal ketika badai mengganggu rutinitas normal.
Di sisi perbandingan, Mercedes-AMG menyebut GT EV miliknya dapat menerima daya hingga 600 kilowatt dan mengisi dari 10 persen ke 80 persen dalam 11 menit dalam kondisi ideal. Lucid Gravity juga mencatat 0 persen ke 50 persen dalam 12,5 menit dalam pengujian independen.
Meski demikian, BYD tetap terlihat unggul dalam konteks demonstrasi ini karena uji dilakukan setelah mobil berada di suhu sangat dingin selama satu hari. Dalam penjelasan terpisah, Chairman BYD Wang Chuanfu menyebut perusahaan menyisakan buffer pengisian kecil dalam tes seperti ini agar regenerative braking tetap bekerja setelah mobil diisi daya.
Itu membuat hasil di video ini bukan hanya soal angka pengisian yang cepat, tetapi juga soal kesiapan teknologi menghadapi cuaca ekstrem. Bagi pasar EV global, terutama di negara dengan musim dingin panjang, performa seperti ini bisa menjadi pembeda yang sulit diabaikan.









