Minat pasar terhadap BYD M6 DM disebut menguat hanya dalam waktu singkat. Dalam sekitar sebulan sejak diperkenalkan pada 18 Mei 2026, BYD Indonesia mengklaim telah mengantongi sekitar 20.000 calon konsumen untuk model plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) tersebut.
Angka itu menjadi sorotan karena M6 DM merupakan model PHEV pertama BYD di Indonesia. Klaim ini juga menunjukkan respons awal yang dinilai positif, meski perusahaan menegaskan jumlah tersebut belum berarti seluruhnya telah berubah menjadi pemesanan resmi.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan, mengatakan data itu dihimpun dari seluruh jaringan dealer BYD di Indonesia. Menurut dia, angka 20.000 tersebut merefleksikan leads atau hot prospect yang masuk setelah model itu diperkenalkan ke pasar.
BYD menekankan bahwa fase awal peluncuran M6 DM memang belum difokuskan untuk mengejar surat pemesanan kendaraan atau SPK. Perusahaan saat itu lebih menitikberatkan edukasi publik mengenai teknologi DM sebelum harga resmi diumumkan.
Luther menjelaskan pendekatan itu dipilih karena harga belum diluncurkan pada tahap awal. Karena itu, aktivitas pemasaran kala itu lebih diarahkan untuk memperkenalkan teknologi yang dibawa mobil tersebut kepada masyarakat.
Meski belum mengejar SPK sejak awal, BYD menilai antusiasme konsumen tetap tinggi. Luther mencontohkan, pada hari pengumuman harga resmi masih ada konsumen yang bersedia langsung melakukan pembayaran.
Ia menyebut BYD bahkan membawa 20 konsumen pada momen tersebut yang tetap mau melakukan pembayaran. Dari perhitungan internal perusahaan, minat yang masuk dari jaringan dealer kemudian tercatat di kisaran 20.000 calon konsumen.
Belum Semua Berujung Pemesanan
BYD juga memberi penegasan penting soal status angka tersebut. Tidak semua calon konsumen yang tercatat itu sudah melakukan pemesanan atau menandatangani SPK.
Perusahaan saat ini masih menghitung ulang data transaksi yang benar-benar sudah masuk. Rekapitulasi mencakup konsumen yang telah melakukan down payment maupun pembayaran melalui jaringan dealer.
Karena proses pengumpulan data itu masih berjalan, BYD belum dapat memastikan jumlah final pemesanan resmi. Jadwal penyerahan perdana M6 DM kepada konsumen juga masih belum diumumkan.
Luther mengatakan perusahaan masih mengumpulkan dan menghitung data dari dealer-dealer. Proses itu diperlukan sebelum BYD bisa memberi gambaran lebih pasti soal distribusi awal ke pembeli.
Distribusi Mulai Disiapkan
Di tengah tingginya minat, BYD menyatakan distribusi unit dilakukan secara bertahap. Sejumlah unit M6 DM disebut sudah mulai dikirim ke beberapa cabang untuk kebutuhan display dan test drive.
Langkah itu menandai fase lanjutan setelah perkenalan produk dan pengumuman harga. Kehadiran unit display dan test drive di dealer juga biasanya menjadi tahap penting sebelum pengiriman massal ke konsumen dimulai.
BYD menyebut pasokan unit akan terus disalurkan secara bertahap. Namun perusahaan belum mengungkap jadwal pasti kapan penyerahan perdana ke tangan konsumen akan dilakukan.
Soal produksi, BYD memastikan M6 DM akan dibuat secara lokal. Model ini akan diproduksi di fasilitas manufaktur BYD yang berada di Subang, Jawa Barat.
Pernyataan itu penting karena menunjukkan strategi BYD untuk mengoptimalkan basis produksi di Indonesia. Produksi lokal juga menjadi bagian dari kesiapan perusahaan dalam memenuhi permintaan pasar yang mulai terbentuk.
Konteks Peluncuran M6 DM
M6 DM diperkenalkan sebagai produk PHEV pertama BYD di pasar Indonesia. Posisi itu membuat model ini bukan sekadar tambahan lini produk, tetapi juga menjadi pintu masuk BYD untuk memperluas pilihan teknologi elektrifikasi di dalam negeri.
Dalam fase perkenalannya, edukasi menjadi salah satu fokus utama perusahaan. BYD tampaknya ingin memastikan konsumen lebih dahulu memahami teknologi DM sebelum dorongan penjualan dilakukan secara penuh.
Pendekatan tersebut terlihat dari pengakuan perusahaan yang belum langsung mengejar SPK ketika harga resmi belum diumumkan. Meski begitu, munculnya puluhan ribu calon konsumen dalam waktu singkat dinilai memberi sinyal bahwa pasar merespons model ini dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Di sisi lain, angka minat yang besar belum otomatis mencerminkan volume penjualan sesungguhnya. Konversi dari calon konsumen menjadi pembeli tetap akan sangat bergantung pada pemesanan resmi, pembayaran, serta kesiapan distribusi unit ke dealer dan konsumen.
Untuk saat ini, fokus BYD masih terbagi pada dua hal. Perusahaan melanjutkan rekap data pemesanan dari seluruh jaringan dealer, sembari memperluas distribusi unit display dan test drive serta menyiapkan produksi lokal di Subang, Jawa Barat.
Source: otomotif.kompas.com






