BYD menyiapkan skema yang tidak biasa untuk pengguna mobil dengan fitur mengemudi otomatis. Perusahaan itu menyatakan siap menanggung biaya kerusakan jika insiden terjadi saat sistem God’s Eye digunakan, tetapi perlindungan ini tidak berlaku untuk semua pasar.
Kabar yang paling penting bagi calon pengguna adalah syarat utamanya cukup ketat. Jaminan penuh itu hanya berlaku di Tiongkok, dimulai pada 2026, dan hanya aktif selama 12 bulan pertama kepemilikan kendaraan.
Program ini disebut sebagai full damage coverage guarantee. Cakupannya ditujukan untuk kerusakan yang terjadi saat fitur autopilot God’s Eye sedang aktif digunakan.
Fungsi yang masuk dalam perlindungan antara lain intelligent self-parking dan urban-speed navigate-on-autopilot atau NOA. Artinya, perlindungan tidak berlaku secara umum untuk semua situasi berkendara, melainkan terkait penggunaan fungsi tertentu dari sistem tersebut.
Setelah masa 12 bulan berakhir, tanggung jawab kembali berada di tangan pengemudi. Ini menjadi batas penting yang perlu dipahami konsumen sejak awal, karena jaminan tidak bersifat permanen selama usia kendaraan.
BYD disebut menjadi produsen pertama yang berani memberi jaminan penuh atas kerusakan ketika autopilot aktif. Langkah ini langsung menempatkan perusahaan pada posisi agresif dalam persaingan teknologi kendaraan otonom.
Hanya untuk pasar Tiongkok
Meski terdengar menarik, perlindungan ini tidak berlaku di luar Tiongkok. BYD menegaskan bahwa pasar lain, termasuk Indonesia, tidak masuk dalam cakupan program tersebut.
Bagi konsumen di Indonesia, artinya risiko kerusakan saat menggunakan fitur sejenis tetap harus ditanggung sendiri sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi, kabar ini tidak otomatis mengubah posisi tanggung jawab pengguna BYD di pasar lokal.
Fokus BYD pada Tiongkok bukan tanpa alasan. Negara itu merupakan basis pengguna terbesar perusahaan, sehingga menjadi tempat paling masuk akal untuk menguji skema tanggung jawab seperti ini dalam skala besar.
Lebih dari 3,15 juta kendaraan BYD yang sudah beredar disebut kompatibel dengan sistem God’s Eye-B. Jumlah itu memberi perusahaan basis data dan armada yang sangat besar untuk memantau performa sistem di dunia nyata.
Alasan BYD berani memberi jaminan
Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap teknologi autopilot. Dengan menanggung risiko kerusakan pada fase awal penggunaan, BYD ingin menunjukkan bahwa sistemnya dinilai cukup aman untuk dipakai.
Perusahaan juga memanfaatkan volume data perjalanan yang sangat besar untuk menyempurnakan algoritma. Data perjalanan harian yang dikelola BYD disebut mencapai 200 juta kilometer.
Skala data itu memberi keuntungan besar dalam mengukur akurasi sistem dan mengevaluasi insiden. BYD juga bisa menindaklanjuti kejadian di lapangan dengan pendekatan yang lebih transparan karena memiliki rekaman operasional dari jutaan kendaraan.
Pengembangan sistem ini didukung lebih dari 5.000 insinyur. Mereka berfokus pada perangkat lunak dan perangkat keras, dua komponen yang menjadi inti peningkatan kemampuan sistem autopilot.
Teknologi di balik God’s Eye-B
God’s Eye-B bukan sekadar fitur bantuan parkir biasa. Sistem ini menggabungkan sensor LiDAR, aktuator listrik, baterai, platform komputasi, dan model AI dalam satu ekosistem terintegrasi.
Kombinasi itu memungkinkan mobil mengendalikan diri dalam berbagai skenario perkotaan. Dalam praktiknya, sistem dirancang agar kendaraan dapat beroperasi dengan perhatian pengemudi yang lebih sedikit dibanding mode berkendara biasa.
BYD menyebut God’s Eye-B mendukung otonomi Level 3 hingga Level 4. Ini menandakan kemampuan sistem berada di atas fitur bantuan mengemudi dasar, meski tetap tidak menghapus tanggung jawab pengguna di semua kondisi.
Otak utama sistem ini adalah chip otomotif Xuanji A3 berteknologi 4 nanometer. Chip tersebut mendukung integrasi software dan hardware BYD untuk kebutuhan autopilot dan advanced driver assist system.
Bagi pasar Tiongkok, jaminan ini memberi rasa aman tambahan saat konsumen mulai mencoba fitur-fitur otomatis yang lebih canggih. Bagi pasar lain, kabar ini lebih relevan sebagai sinyal arah industri, bahwa produsen mobil listrik mulai mencari cara baru untuk membangun kepercayaan terhadap teknologi otonom.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah BYD menunjukkan bahwa kepercayaan pada sistem mengemudi otomatis tidak hanya dibangun lewat klaim teknologi. Perusahaan kini mulai mendorong keyakinan pasar dengan mengambil sebagian risiko finansial, setidaknya pada tahun pertama dan hanya di Tiongkok.
Source: www.suara.com






