Dongfeng Nissan Tembus 100 Ribu NEV, Serangan Balik JV China Makin Serius

Author: Qoo Media

Dongfeng Nissan mencatat tonggak penting di pasar mobil listrik China dengan melahirkan unit ke-100.000 dari lini N-series NEV. Pencapaian ini hadir sekitar 14 bulan setelah N7, sedan listrik pertama di seri tersebut, masuk ke pasar dan langsung menjadi wajah baru kebangkitan merek joint venture.

Momentum itu penting karena persaingan kendaraan listrik di China sempat didominasi merek lokal. Namun, data terbaru menunjukkan merek joint venture mulai mengejar lagi lewat pengembangan yang lebih lokal dan strategi harga yang jauh lebih agresif.

Kebangkitan yang dipicu N7

Dongfeng Nissan mengandalkan N7 sebagai model pembuka untuk membangun kembali posisi di segmen listrik. Mobil ini diluncurkan pada akhir April 2025 dengan harga awal 119.900 yuan hingga 149.900 yuan, level yang dianggap sekelas dengan Xpeng Mona M03.

Harga yang lebih rendah dari perkiraan itu menjadi salah satu sinyal perlawanan paling jelas dari merek joint venture di China. Penjualan ritel N7 sempat mencapai 10.148 unit pada Agustus 2025, meski turun menjadi 1.447 unit pada bulan lalu.

Secara kumulatif, model ini membantu mendorong output lini N-series hingga menembus 100.000 unit. Bagi Dongfeng Nissan, angka tersebut juga menegaskan bahwa strategi baru mereka tidak berhenti pada satu model saja.

Peta persaingan yang mulai berubah

Sebelum N7 meluncur, posisi merek joint venture di pasar NEV China masih tertinggal jauh. Pada Maret 2025, tingkat penetrasi NEV di penjualan ritel untuk merek joint venture arus utama hanya 6 persen, jauh di bawah 72 persen milik merek lokal menurut China Passenger Car Association.

Perkembangan kemudian bergerak ke arah yang lebih positif. Pada Mei 2026, penetrasi NEV ritel merek joint venture arus utama naik menjadi 14,5 persen.

Kenaikan itu menunjukkan bahwa pasar mulai memberi ruang lebih besar bagi produk joint venture yang dirancang lebih dekat dengan selera konsumen China. Dongfeng Nissan menjadi salah satu contoh paling menonjol dari pergeseran tersebut.

Produk dirancang lebih lokal

N7 menjadi model pertama Dongfeng Nissan yang dirancang dan dikembangkan oleh tim China. Mobil ini dibangun di atas arsitektur Tianyan milik perusahaan, yang menjadi fondasi untuk pendekatan produk yang lebih lokal.

Dongfeng Nissan juga memasukkan teknologi dari mitra lokal ke dalam N7. Sistem bantuan pengemudi dikembangkan bersama startup China Momenta, sementara kabinnya memakai model bahasa besar AI termasuk DeepSeek-R1.

Pendekatan itu memperlihatkan bagaimana joint venture mencoba menyaingi merek domestik bukan hanya lewat harga, tetapi juga lewat kecepatan adaptasi teknologi. Langkah ini penting di pasar yang sangat sensitif terhadap fitur cerdas dan pengalaman digital.

Seri N terus diperluas

Setelah N7, Dongfeng Nissan mempercepat peluncuran produk N-series lainnya. Pada Desember 2025, perusahaan meluncurkan N6 plug-in hybrid sedan dengan harga awal terbatas 91.900 yuan.

Model itu diposisikan untuk bersaing dengan kendaraan populer seperti BYD Qin L DM-i. Kehadiran N6 memperluas jangkauan Dongfeng Nissan ke segmen hybrid yang masih kuat di pasar China.

Pada April, perusahaan juga meluncurkan NX8, model pertama yang menawarkan opsi electric vehicle jarak jauh atau EREV. SUV menengah hingga besar ini memiliki harga resmi mulai 159.900 yuan, atau 149.900 yuan setelah insentif terbatas waktu.

Permintaan awal untuk NX8 juga terlihat kuat. Dalam 30 menit setelah peluncuran, model itu mencatat 8.423 pesanan.

Tekanan pasar makin tajam

Pertumbuhan cepat lini N-series ikut mendorong Dongfeng Nissan masuk ke arena persaingan yang makin keras. Pada April, Li Xiang, pendiri sekaligus chairman dan CEO Li Auto, menuduh Dongfeng Nissan mengatur akun untuk mencemarkan produk inti perusahaannya saat peluncuran NX8.

Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China kemudian dilaporkan memanggil kedua pihak untuk berbicara. Sengketa terbuka yang jarang terjadi ini menunjukkan ketegangan antarpabrikan di pasar otomotif terbesar dunia semakin tinggi di tengah perlambatan pertumbuhan.

Bagi Dongfeng Nissan, pencapaian 100.000 unit bukan sekadar angka produksi. Itu juga menjadi penanda bahwa merek joint venture masih punya peluang untuk melawan balik di China, asalkan mampu bergerak cepat, menekan harga, dan menyesuaikan produk dengan selera lokal.

Source: cnevpost.com
Terbaru