Suzuki Grand Vitara menunjukkan bahwa jalur menanjak tidak selalu identik dengan konsumsi bahan bakar yang melonjak tajam. Pada rute yang memadukan tol, jalan perkotaan, hingga tanjakan pegunungan, SUV ini tetap mencatat efisiensi yang menarik.
Hal itu menjadi sorotan karena tanjakan biasanya memaksa mesin bekerja lebih keras saat akselerasi. Kondisi seperti ini umumnya membuat konsumsi BBM meningkat dibanding saat mobil melaju di jalan datar.
Kunci utama efisiensi Grand Vitara terletak pada teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki atau SHVS. Sistem mild hybrid ini memadukan mesin bensin 1.462 cc K15C, Integrated Starter Generator, dan baterai lithium-ion.
Sistem tersebut tidak bekerja seperti full hybrid yang bisa menggerakkan roda sepenuhnya dengan motor listrik. Pada Grand Vitara, motor listrik berperan membantu kerja mesin pada momen tertentu, terutama saat akselerasi awal dan ketika mobil membutuhkan tambahan tenaga.
Bantuan itu penting saat mobil mulai menanjak atau ketika pengemudi harus menambah kecepatan untuk menyalip. Karena beban mesin bisa diringankan, konsumsi bahan bakar dapat ditekan tanpa mengorbankan respons tenaga.
Di atas kertas, mesin K15C pada Grand Vitara menghasilkan tenaga 103 PS dan torsi 136,8 Nm. Angka ini memang bukan yang terbesar di kelasnya, tetapi dinilai cukup untuk mendukung perjalanan jarak jauh.
Karakter tenaga itulah yang terasa relevan saat mobil diajak keluar dari jalur datar menuju rute yang lebih menuntut. Responsnya disebut tetap linear ketika pedal gas diinjak untuk menghadapi tanjakan atau kebutuhan akselerasi lain.
Efisiensi Grand Vitara di jalur menanjak diuji dalam perjalanan dari Jakarta menuju Ciwidey. Rute ini mencakup tol dengan kecepatan konstan, lalu lintas perkotaan, serta tanjakan dan tikungan khas kawasan pegunungan Bandung Selatan.
Kombinasi kondisi tersebut membuat pengujian menjadi lebih representatif untuk penggunaan harian maupun perjalanan wisata. Mobil tidak hanya melaju stabil di jalan bebas hambatan, tetapi juga harus menghadapi perubahan kontur jalan yang menuntut performa mesin.
Dalam skenario seperti itu, sistem SHVS membantu menjaga akselerasi tetap halus. Pengemudi tidak perlu bekerja ekstra saat mobil harus menyesuaikan tenaga di tanjakan panjang atau saat berpindah dari jalur tol ke kawasan wisata pegunungan.
Hasilnya, konsumsi bahan bakar yang tercatat masih berada di angka 18,3 km per liter. Angka ini diperoleh setelah mobil menempuh perjalanan dengan kombinasi jalan yang jauh dari kondisi ideal.
Catatan tersebut menjadi menarik karena pengujian tidak dilakukan dalam situasi yang sepenuhnya mulus. Selain menghadapi tanjakan, kendaraan juga beberapa kali berhenti untuk kebutuhan dokumentasi dan pengambilan gambar.
Artinya, efisiensi yang ditunjukkan bukan sekadar hasil dari kecepatan konstan di jalan bebas hambatan. Ada faktor stop and go, perubahan ritme berkendara, dan medan pegunungan yang biasanya memberi tekanan lebih besar pada konsumsi BBM.
Dari sisi pengendaraan, karakter Grand Vitara juga disebut nyaman untuk perjalanan jauh. Hal ini penting karena efisiensi saja tidak cukup jika mobil terasa berat atau melelahkan saat dipakai di rute menantang.
Pada Grand Vitara, bantuan tenaga dari sistem mild hybrid membuat transisi akselerasi terasa lebih natural. Efeknya bukan hanya pada penghematan bahan bakar, tetapi juga pada rasa berkendara yang lebih ringan saat mobil membutuhkan dorongan tambahan.
Pendekatan mild hybrid seperti SHVS memang tidak berfokus pada penggerak listrik murni. Fokus utamanya adalah membantu mesin bensin bekerja lebih efisien pada momen-momen yang paling membutuhkan tenaga ekstra.
Itu sebabnya teknologi ini terasa relevan di medan menanjak. Saat mesin biasanya harus bekerja lebih keras, sistem bantuan dari ISG dan baterai lithium-ion ikut meringankan tugas tersebut sehingga konsumsi BBM tidak cepat membengkak.
Dengan kombinasi mesin bensin yang efisien dan dukungan sistem SHVS, Grand Vitara menawarkan paket yang menonjol untuk perjalanan luar kota. Terutama bagi pengguna yang kerap berpindah dari jalan tol ke jalur pegunungan, efisiensi 18,3 km per liter di rute Jakarta-Ciwidey menjadi gambaran bahwa tanjakan panjang tidak selalu membuat SUV ini boros.
