Penjualan BYD di Indonesia turun tajam pada Mei 2026. Data Gaikindo menunjukkan distribusi dari pabrik ke diler atau wholesales merosot dari 4.625 unit menjadi 895 unit.
Penurunan itu membuat BYD mencatat angka bulanan terendah sejak masuk ke pasar Indonesia tahun lalu. Posisi BYD juga turun hingga keluar dari daftar 10 besar merek mobil terlaris nasional.
BYD menyatakan penurunan tersebut bukan dipicu oleh melemahnya minat pasar. Perusahaan menegaskan gejolak angka penjualan terjadi karena transisi sumber produksi yang sedang berjalan.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T Panjaitan, mengatakan perusahaan sebelumnya masih mengandalkan impor. Dalam fase sekarang, BYD sedang mengubah basis pasokan dari skema completely built up atau CBU menuju produksi lokal secara completely knocked down atau CKD.
Transisi produksi jadi penjelasan utama
Menurut Luther, perubahan sumber produksi itu berdampak langsung pada angka wholesales. Sebab, wholesales merefleksikan penjualan dari principal ke jaringan diler, sehingga gangguan penyesuaian pasokan bisa terlihat jelas dalam data bulanan.
BYD menyebut saat ini perusahaan sedang membenahi sistem supply. Penyesuaian itu dilakukan seiring perpindahan dari kendaraan impor utuh ke produksi lokal.
Luther menyebut ada sedikit shock pada sisi angka penjualan selama masa transisi tersebut. Namun, dia mengatakan kondisi itu akan kembali normal pada bulan ini.
Penjelasan ini menjadi penting karena penurunan BYD terjadi sangat dalam dalam waktu singkat. Dari ribuan unit pada bulan sebelumnya, angka distribusi Mei 2026 turun ke bawah 1.000 unit.
Penurunan menyebar di hampir semua model
Tekanan penjualan tidak hanya terjadi pada satu model. Distribusi turun di hampir seluruh lini produk BYD selama Mei 2026.
Sealion menjadi model BYD dengan distribusi tertinggi pada bulan itu. Model ini mencatat wholesales 258 unit.
Di bawahnya ada M6 dengan 197 unit. Atto 3 menyusul dengan 174 unit.
E6 membukukan 129 unit. Dolphin mencatatkan 101 unit.
Atto 1 hanya membukukan 26 unit. Sementara Seal menjadi yang terendah dengan 10 unit.
Sebaran angka ini menunjukkan tidak ada satu model pun yang mampu menahan penurunan total distribusi BYD pada Mei. Bahkan model yang sebelumnya menjadi sorotan pasar juga ikut terdampak oleh fase penyesuaian pasokan.
Atto 1 ikut jadi perhatian
Angka Atto 1 menjadi salah satu yang paling banyak disorot. Model yang baru diluncurkan itu hanya mencatatkan wholesales 26 unit sepanjang Mei 2026.
BYD kembali menegaskan bahwa capaian tersebut tidak menggambarkan permintaan riil dari pasar. Luther menyebut angka rendah Atto 1 juga merupakan bagian dari dampak transisi produksi yang sedang berlangsung.
Menurut dia, shock pengurangan yang cukup signifikan memang bisa terbaca dari data distribusi bulanan. Namun BYD melihat persoalan utamanya berada pada sisi pengaturan suplai, bukan pada lemahnya respons konsumen.
Pernyataan itu sejalan dengan penjelasan perusahaan sebelumnya soal perubahan dari CBU ke CKD. Dalam konteks wholesales, setiap penyesuaian logistik dan produksi dapat memengaruhi pengiriman unit ke diler dalam jangka pendek.
Dampak pada posisi BYD di pasar
Turunnya distribusi pada Mei 2026 langsung berpengaruh pada posisi BYD di pasar nasional. Merek asal China itu terlempar dari 10 besar merek mobil terlaris di Indonesia.
Perubahan peringkat ini terjadi setelah BYD sebelumnya mampu mencatat volume jauh lebih tinggi. Karena itu, penurunan Mei menjadi salah satu pergerakan paling mencolok dalam peta persaingan pasar otomotif nasional.
Meski begitu, BYD memberi sinyal bahwa kondisi tersebut bersifat sementara. Perusahaan menyatakan normalisasi distribusi diharapkan terjadi setelah proses transisi pasokan dan produksi berjalan lebih stabil.
Konteks ini penting karena data wholesales sering dibaca sebagai cerminan kekuatan pasar sebuah merek. Dalam kasus BYD, perusahaan meminta agar penurunan Mei dipahami sebagai efek perubahan jalur produksi, bukan semata penurunan permintaan konsumen.
Dengan kata lain, fokus utama BYD saat ini ada pada pembenahan supply chain. Arah kebijakan itu sekaligus menunjukkan perusahaan sedang menyiapkan peralihan yang lebih besar menuju produksi lokal di Indonesia.
Source: otomotif.kompas.com






