Isu pembelian Pertalite dibatasi maksimal Rp 50.000 per sepeda motor ramai beredar di media sosial. PT Pertamina Patra Niaga menegaskan kabar itu tidak benar dan menyatakan belum ada rencana pembatasan pembelian BBM subsidi di SPBU.
Penegasan ini penting karena belakangan minat masyarakat terhadap Pertalite meningkat. Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter membuat sebagian pengguna kendaraan beralih ke Pertalite yang dibanderol Rp 10.000 per liter.
Pertamina Bantah Ada Pembatasan
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan hingga saat ini belum ada penerapan pembatasan pembelian BBM subsidi. Menurut dia, pemerintah juga belum merencanakan aturan pembatasan tersebut, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Roberth menyebut masyarakat masih bisa membeli Pertalite dengan ketentuan yang berlaku saat ini. Ia juga menegaskan tidak ada aturan atau arahan dari pemerintah mengenai pembatasan Pertalite berdasarkan merek kendaraan tertentu maupun kapasitas mesin kendaraan.
Pernyataan itu sekaligus menjawab keresahan konsumen yang mendengar kabar pembelian Pertalite dibatasi nominal tertentu. Sampai saat ini, tidak ada informasi resmi yang menyebut pembelian Pertalite maksimal Rp 50.000 per motor.
Peralihan dari Pertamax ke Pertalite Makin Terlihat
Perbedaan harga yang cukup lebar menjadi alasan utama perubahan perilaku konsumen di SPBU. Selisih antara Pertamax dan Pertalite mencapai Rp 6.250 per liter, sehingga mendorong banyak pengendara mencari opsi yang lebih ringan di kantong.
Pantauan di salah satu SPBU di Tangerang Selatan menunjukkan antrean pembelian Pertalite lebih panjang dibandingkan antrean Pertamax. Kondisi ini menggambarkan adanya perpindahan konsumsi yang terjadi di lapangan setelah perubahan harga BBM nonsubsidi.
Salah satu konsumen pengguna skutik 160 cc mengaku sengaja beralih dari Pertamax ke Pertalite karena pertimbangan biaya. Ia menilai uang Rp 30.000 kini terasa jauh lebih efektif saat dibelanjakan untuk Pertalite dibandingkan untuk Pertamax.
Konsumen bernama Adit itu mengatakan sebelumnya selalu menggunakan Pertamax. Namun setelah harga naik, ia memilih Pertalite karena Rp 30.000 bisa mendapatkan sekitar 3 liter, sementara untuk Pertamax jumlahnya tidak sampai 2 liter.
Meski demikian, ia juga mengakui ada perbedaan rasa penggunaan pada motornya setelah berganti BBM. Pengakuan ini menunjukkan keputusan beralih bukan semata soal preferensi teknis, melainkan lebih kuat didorong tekanan biaya harian.
Belum Ada Informasi Resmi di SPBU
Di tingkat SPBU, belum ada pemberitahuan resmi mengenai pembatasan pembelian Pertalite maksimal Rp 50.000. Informasi ini sejalan dengan penegasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa aturan tersebut memang belum ada.
Kejelasan dari operator distribusi BBM menjadi penting di tengah cepatnya penyebaran kabar di media sosial. Isu pembatasan mudah memicu kepanikan, terutama saat konsumen sedang mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah.
Dengan bantahan resmi ini, masyarakat diharapkan merujuk pada informasi dari Pertamina dan pemerintah. Selama belum ada kebijakan baru, pembelian Pertalite tetap mengikuti ketentuan yang berlaku saat ini.
Situasi di lapangan juga menunjukkan bahwa faktor harga masih sangat menentukan pilihan konsumen. Ketika selisih harga antarproduk melebar, pergeseran antrean di SPBU menjadi gambaran paling nyata dari perubahan perilaku pembelian.
Karena itu, kabar mengenai pembatasan pembelian Pertalite perlu dicermati secara hati-hati. Hingga pernyataan resmi terbaru dari Pertamina Patra Niaga, tidak ada pembatasan pembelian Pertalite berdasarkan nominal Rp 50.000 per sepeda motor, tidak ada pembatasan berdasarkan merek kendaraan, dan tidak ada pembatasan berdasarkan kapasitas mesin.
