Geely Sindir Fast Charging Ultra Cepat, Isu Suhu Baterai Langsung Mengarah Ke BYD

Geely memunculkan perdebatan baru soal keamanan pengisian daya super cepat di industri otomotif China. Lewat akun resmi WeChat, perusahaan itu menyoroti batas suhu baterai saat pengisian dan langkah itu langsung dibaca banyak pihak sebagai sindiran ke BYD.

Pernyataan Geely menempatkan isu teknis di pusat rivalitas dua raksasa otomotif domestik. Di tengah persaingan penjualan yang ketat, topik yang diperdebatkan bukan lagi sekadar seberapa cepat mobil listrik bisa diisi, tetapi seberapa aman proses itu berjalan saat arus menjadi makin besar.

Sorotan Geely ke batas 65°C

Dalam unggahan pada Selasa, Geely memakai judul yang keras: “Temperature above 65°C? Not recommended!”. Perusahaan itu mengutip standar nasional China GB/T44500-2024, yang menyebut suhu pengisian maksimum untuk baterai lithium iron phosphate atau LFP tidak boleh melampaui 65°C.

Geely tidak menyebut nama pesaing dalam artikel itu. Namun banyak pihak menilai sasaran sindirannya adalah BYD, yang sedang gencar mempromosikan Blade Battery generasi kedua dan teknologi flash charging 1.500 kilowatt.

Geely juga mengajukan argumen berbasis fisika. Perusahaan itu merujuk hukum Joule dan menjelaskan bahwa panas baterai naik secara eksponensial ketika arus meningkat, sehingga laju pengisian yang lebih cepat akan mendorong suhu sel naik lebih cepat.

Menurut Geely, tantangan termal akan makin berat saat pengisian daya level megawatt menjadi lebih umum. Karena itu, manajemen termal baterai disebut harus memenuhi tuntutan teknis yang jauh lebih tinggi.

Data uji dan klaim keselamatan Geely

Geely menyebut Shendun Golden Battery miliknya, yang diuji oleh China Automotive Technology & Research Center, mencatat suhu puncak 64°C selama proses pengisian level megawatt penuh. Perusahaan itu juga menegaskan baterai tersebut telah lolos sertifikasi GB38031-2025 pada Mei lalu.

Standar GB38031-2025 bahkan disebut sebagai “strictest battery safety order in history”. Geely menutup pesannya dengan penekanan bahwa kecepatan isi daya saja tidak cukup jika keamanan belum terjamin.

Pemicu awal perdebatan datang dari uji BYD

Kontroversi ini berawal dari uji live seorang blogger industri baterai pada 6 Mei terhadap model flash charging BYD, Fang Cheng Bao Tai 3. Dalam kondisi suhu sekitar 25°C, kendaraan itu disebut mengisi daya dari 9% ke 97% dalam 9 menit 9 detik.

Namun uji tersebut juga menunjukkan suhu di beberapa titik melampaui 74°C, dengan puncak 76,42°C. Sang blogger menyebut suhu pengisian baterai umumnya sekitar 60°C dan di atas 70°C pada dasarnya tidak diperbolehkan.

Ia juga memperingatkan risiko gassing elektrolit dan potensi dekomposisi lapisan SEI jika suhu terlalu tinggi. Dari sana, diskusi tentang kecepatan pengisian berubah menjadi debat soal batas aman baterai.

BYD dan pemain lain memberi respons

BYD mula-mula memberi respons singkat. Li Yunfei, general manager branding and public relations, menulis di Weibo pada 7 Mei bahwa siapa pun dipersilakan datang ke Flaming Mountains di Turpan, Xinjiang, pada puncak panas Juli dan Agustus untuk mencoba flash charging di sana.

Polemik itu tidak mereda. Pada 17 Mei, seorang eksekutif Gotion High-tech mengatakan dalam sebuah konferensi industri bahwa ultra-fast charging memang memengaruhi umur baterai.

Eksekutif itu menyebut suhu operasi aman untuk baterai LFP adalah 60°C. Ia juga mengatakan lithium hexafluorophosphate mulai terurai perlahan pada 60°C dan terdekomposisi lebih cepat pada 70°C.

BYD membalas dengan penjelasan teknis

BYD kemudian merespons lebih tegas melalui Sun Huajun, chief technology officer di kelompok bisnis baterainya. Dalam wawancara dengan media China pada 19 Mei, Sun menolak klaim bahwa flash charging merusak baterai.

Ia mengatakan setiap lompatan dari 1C dan 2C ke 4C dan 5C selalu memunculkan pertanyaan serupa, tetapi teknologi terus maju. Menurutnya, struktur simetris Blade Battery memungkinkan arus keluar dari kedua ujung, sementara permukaan atas dan bawah sama-sama melepas panas sehingga hambatan termal relatif lebih rendah.

Sun juga mengatakan BYD telah mengoptimalkan dimensi Blade Battery generasi kedua untuk mendukung flash charging. Saat ditanya apakah 70°C adalah batas baterai, ia menjawab tidak dan menambahkan bahwa beberapa tahun lalu industri masih menganggap ambang suhu tinggi untuk baterai LFP hanya 60°C.

Rivalitas penjualan ikut membayangi

Debat teknis ini berlangsung di tengah persaingan pasar yang makin tajam antara Geely dan BYD. Berdasarkan data China Passenger Car Association, Geely memimpin penjualan ritel mobil di China untuk lima bulan pertama 2026 dengan 848.116 unit, meski turun 17,7% secara tahunan.

BYD berada di posisi kedua dengan 766.401 unit, turun 39,1% secara tahunan. Di segmen kendaraan energi baru atau NEV, BYD masih berada di posisi pertama, sementara Geely menempati posisi kedua dengan 470.396 unit.

BYD sendiri sudah berhenti memproduksi kendaraan berbahan bakar murni sejak Maret 2022 dan kini fokus pada model NEV, termasuk BEV dan PHEV. Geely masih mempertahankan lini mobil berbahan bakar, sehingga peta persaingan keduanya tetap berbeda meski sama-sama kuat di pasar China.

Source: cnevpost.com

Terkait