Kolaborasi antara industri dan kampus kembali menyentuh kebutuhan langsung masyarakat. PT Altama Surya Anugerah selaku pemegang merek Tekiro menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menggelar servis kendaraan gratis sekaligus pelatihan otomotif bagi mahasiswa.
Kerja sama yang berlangsung sejak Mei 2026 itu menarik perhatian karena menggabungkan dua sasaran sekaligus. Program ini tidak hanya memberi layanan publik, tetapi juga mendorong peningkatan kompetensi generasi muda di sektor otomotif.
Bagi masyarakat, dampak paling terasa hadir lewat servis kendaraan gratis yang dibuka untuk umum. Kegiatan ini dijalankan Tekiro bersama tim mekanik dari Lembaga Bengkel Mahasiswa Mesin (LBMM) ITS di Lapangan Ole-ole Ngagel.
Jumlah kendaraan yang mendapat layanan terbilang besar untuk kegiatan komunitas dan edukasi. Sebanyak 265 sepeda motor dan 25 mobil memperoleh servis ringan, penggantian busi, serta penggantian oli mesin dan gardan.
Program ini menunjukkan model kolaborasi yang tidak berhenti pada seremoni. Mahasiswa terlibat dalam aktivitas teknis yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pemilik kendaraan di lapangan.
Di saat yang sama, kerja sama ini juga diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan vokasional dan teknis. Tekiro dan ITS menempatkan pelatihan otomotif sebagai jalur pembinaan talenta muda yang lebih terstruktur.
Sebanyak 160 peserta mengikuti pelatihan yang dikhususkan bagi mahasiswa di Surabaya. Peserta berasal dari kalangan yang memiliki minat pada bidang teknik mesin dan otomotif.
Program pelatihan itu dirancang sebagai pintu masuk ke dunia teknik otomotif dari dua sisi sekaligus. Mahasiswa diperkenalkan pada aspek keilmuan dan keprofesian agar pemahaman mereka tidak berhenti di ruang kelas.
Pendekatan yang dipakai bersifat praktis. Tujuannya ialah mengintegrasikan teori akademik dengan keterampilan teknis perawatan kendaraan secara nyata.
Tekiro menilai sinergi dengan perguruan tinggi penting untuk menjawab kebutuhan industri. Brand Marketing Manager Tekiro, Novitasari, menyebut kolaborasi dengan institusi pendidikan seperti ITS sebagai investasi jangka panjang.
Menurut Novitasari, penyelarasan antara teori di bangku kuliah dan realita lapangan menjadi poin utama dalam kerja sama ini. Melalui servis gratis, perusahaan membantu masyarakat, sementara melalui pelatihan, mahasiswa dipersiapkan menjadi teknisi yang siap kerja.
Pernyataan itu menegaskan arah program yang tidak hanya berfokus pada promosi merek. Kolaborasi dibangun untuk menciptakan manfaat yang bisa dirasakan publik sekaligus memperkuat kesiapan sumber daya manusia otomotif.
Dari sisi pelaksanaan teknis, seluruh proses servis dilakukan memakai peralatan kerja yang terstandarisasi. Pembersihan komponen mesin dilakukan menggunakan cairan perawatan Rexco Lubricant, sedangkan penyetelan komponen memanfaatkan perkakas Tekiro.
Penggunaan alat dan bahan yang spesifik ini menjadi bagian penting dari pembelajaran di lapangan. Mahasiswa tidak hanya memahami prosedur servis, tetapi juga mengenal standar kerja yang dibutuhkan untuk hasil yang rapi dan efisien.
Ketua LBMM ITS, Muhammad Fathan Firjatullah, menekankan bahwa keberhasilan servis tidak hanya ditentukan kemampuan teknisi. Ia menyebut kualitas peralatan yang digunakan juga sangat berpengaruh terhadap hasil pengerjaan.
Fathan menjelaskan bahwa Tekiro selalu menjadi perkakas yang dipilih untuk mendukung tim saat melakukan proses servis. Menurut dia, alat tersebut membantu pekerjaan menjadi lebih rapi, cepat, dan efektif.
Ia juga menyebut perkakas itu menunjang aktivitas servis harian di LBMM ITS. Keterangan ini menunjukkan bahwa hubungan antara kampus dan industri tidak terjadi sesaat, melainkan sudah terkait dengan kebutuhan praktik yang rutin.
Dalam konteks yang lebih luas, kerja sama seperti ini menjadi contoh pertemuan antara kepentingan pendidikan, industri, dan masyarakat. Kampus memperoleh ruang praktik yang relevan, mahasiswa mendapat pengalaman teknis, dan warga menerima layanan kendaraan secara langsung.
Model seperti ini juga memperlihatkan bahwa pembinaan kompetensi otomotif bisa dilakukan dengan pendekatan yang aplikatif. Mahasiswa tidak hanya berlatih dalam simulasi, tetapi ikut menghadapi kebutuhan riil pemilik kendaraan.
Bagi sektor otomotif, keterhubungan antara dunia akademik dan dunia kerja menjadi isu penting. Kesenjangan antara teori dan praktik sering menjadi tantangan, sehingga program yang menghadirkan pengalaman lapangan mempunyai nilai strategis.
Karena itu, servis gratis dan pelatihan yang dijalankan Tekiro bersama ITS tidak hanya menjadi agenda kegiatan biasa. Program ini menjadi ruang pembelajaran langsung yang mempertemukan standar industri, kemampuan teknis mahasiswa, dan kebutuhan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.
Source: otomotif.kompas.com






