Volvo dikenal sebagai merek yang menjadikan keselamatan sebagai fondasi sejak awal. Namun, keputusan paling berpengaruh justru datang ketika perusahaan memilih membagikan bebas salah satu temuannya yang paling berharga: sabuk pengaman tiga titik.
Latar belakangnya berawal dari era ketika kecelakaan lalu lintas menjadi masalah besar yang makin nyata. Pada 1950, pemerintah Amerika Serikat mulai melacak korban jiwa di jalan raya dan mencatat 33.186 kematian, sementara desain sabuk dua titik yang lebih awal dinilai memiliki banyak kekurangan.
Volvo sendiri lahir sebagai anak usaha produsen bantalan asal Swedia, AB SKF, dan meluncurkan mobil pertamanya, ÖV4 atau Jakob, pada 1927. Pada 1944, Volvo PV444 menjadi mobil produksi pertama yang memakai kaca depan berlapis, dengan kaca lebih tebal yang tidak pecah menjadi serpihan tajam saat hancur.
Perhatian terhadap keselamatan lalu dipercepat oleh pengalaman pribadi di pucuk pimpinan Volvo. Gunmar Engellau, CEO Volvo dari 1956 hingga 1971, kehilangan salah satu kerabat dalam kecelakaan lalu lintas, dan dari situ muncul dorongan untuk mencari solusi yang lebih baik.
Engellau merekrut insinyur Nils Bohlin dari Saab pada 1958. Setelah menangani kursi lontar dan sabuk empat titik di Saab, Bohlin menjadi Chief Safety Engineer pertama Volvo dan mendapat tugas merancang sabuk pengaman yang lebih aman dalam tabrakan berkecepatan tinggi.
Dalam waktu kurang dari setahun, Bohlin menciptakan sabuk pengaman tiga titik. Desain itu menahan tubuh bagian atas dan bawah sekaligus, dengan satu strap di dada dan satu lagi di pinggul, serta dibuat agar mudah dipakai dengan satu tangan.
Bohlin mengajukan dan memperoleh paten pada 1958. Mobil pertama yang memakai sabuk pengaman tiga titik secara standar adalah Volvo PV544 yang debut pada 1959, meski fitur itu sempat disambut skeptis.
Volvo kemudian melakukan serangkaian uji tabrak dan pengujian sejak akhir 1950-an hingga 1960-an untuk membuktikan manfaatnya. Hasil studi Bohlin pada 1967, yang mencakup 28.000 kecelakaan jalan raya, menunjukkan nol korban jiwa di antara 37.511 orang yang terlibat ketika mereka semua memakai sabuk pengaman tiga titik.
Yang membuat inovasi ini berbeda adalah keputusan bisnis Volvo setelahnya. Perusahaan dan Bohlin membuka paten itu untuk semua pihak dan menolak memungut biaya lisensi maupun royalti.
Keputusan itu membuat desain sabuk tiga titik menyebar lebih luas. Pada 1963, Volvo membawa teknologi ini ke Amerika Serikat dan pasar lain, lalu sabuk pengaman menjadi standar untuk semua mobil baru di Amerika mulai 1968.
Sabuk pengaman tiga titik kemudian diakui sebagai salah satu inovasi keselamatan paling penting dalam sejarah otomotif. Menjelang wafatnya Bohlin pada September 2002, teknologi ini disebut telah menyelamatkan jutaan nyawa, termasuk lebih dari 11.000 orang Amerika setiap tahun.
Volvo sebenarnya bisa meraup keuntungan besar dari paten tersebut. Tetapi perusahaan memilih jalan berbeda karena alasan yang sangat sederhana: menyelamatkan nyawa.
Peran Bohlin juga tidak berhenti di sabuk pengaman. Pada 1970-an, ia ikut mengerjakan SIPS atau Side Impact Protection System, dan Volvo kembali menjadi pelopor saat menghadirkan fitur keselamatan besar dengan inflatable side curtains.
