China Punya Target 40 Persen Truk Listrik, Biaya Murahnya Bisa Ubah Logistik Dunia

China sedang menyiapkan langkah besar untuk mengubah pasar truk beratnya. Melalui rencana yang melibatkan 11 kementerian dan lembaga pemerintah, negara itu menargetkan kendaraan berat berbasis energi baru atau new energy heavy-duty trucks menguasai 40 persen pasar pada 2030.

Target itu bukan sekadar soal jumlah unit yang terjual. Pemerintah China ingin truk energi baru menembus 1,6 juta unit pada akhir dekade ini, atau sekitar 20 persen dari total populasi truk berat yang beroperasi di negara tersebut.

Dorongan besar dari ambisi emisi

Di balik lonjakan ini, ada tujuan yang lebih besar daripada pertumbuhan pasar. China ingin menekan emisi karbon dari sektor transportasi, dengan truk berat sebagai salah satu fokus utama karena penggunaan mesin diesel masih dominan.

Pemerintah juga menargetkan kendaraan ini menangani sekitar 18 persen volume angkutan barang di jalan raya. Langkah itu menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi industri logistik dan transportasi nasional yang terus dipacu.

Infrastruktur jadi kunci

Untuk mengejar target tersebut, China mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung. Fokus utamanya ada pada penambahan stasiun pengisian daya berdaya tinggi dan fasilitas penukaran baterai khusus kendaraan komersial.

Pemerintah menilai fasilitas itu penting agar operasional truk listrik tetap efisien. Kebutuhan ini terutama besar di sektor logistik jarak menengah dan pendek, yang menuntut kendaraan terus bergerak tanpa jeda lama.

Pasar sudah bergerak lebih cepat

Arah kebijakan itu muncul saat pasar sebenarnya sudah menunjukkan penguatan. Sepanjang 2025, penetrasi truk berat energi baru di China terus meningkat dan menandakan adopsi yang semakin luas di kalangan operator.

Pada Desember 2025, penjualan kendaraan jenis ini menembus lebih dari 45 ribu unit. Untuk pertama kalinya, truk berat energi baru menguasai lebih dari 53 persen pasar truk berat bulanan.

Biaya operasional ikut mendorong adopsi

Salah satu alasan utama pertumbuhan itu adalah biaya penggunaan yang lebih rendah. Biaya operasional tahunan truk energi baru disebut lebih murah dibandingkan model diesel konvensional, sehingga menarik bagi perusahaan logistik yang ingin menekan pengeluaran armada.

Keunggulan biaya ini membuat elektrifikasi truk berat tidak lagi hanya dipandang sebagai agenda lingkungan. Bagi banyak operator, perhitungan bisnis juga mulai mendukung peralihan ke kendaraan listrik.

Peta industri bisa berubah

Dengan target 40 persen pada 2030, China kembali memperlihatkan ambisinya dalam elektrifikasi kendaraan. Jika rencana itu berjalan sesuai jalur, pasar truk berat energi baru di negara tersebut berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Dampaknya bisa meluas ke industri transportasi komersial global. Lonjakan truk listrik China bukan hanya soal penjualan domestik, tetapi juga soal arah baru yang dapat memengaruhi standar dan strategi pasar kendaraan berat di berbagai negara.

Source: www.liputan6.com

Terkait