Pertamax Naik Hampir Rp 4 Ribu, Pertamina Sebut Harganya Baru Setengah dari Nilai Asli

Author: Qoo Media

Harga Pertamax kini mencapai Rp 16.250 per liter setelah naik Rp 3.950. Namun, kenaikan itu disebut baru mencerminkan sekitar 50 persen dari harga keekonomian yang seharusnya berlaku di pasar.

Pernyataan itu datang dari Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun. Menurut dia, penyesuaian harga Pertamax saat ini belum sepenuhnya mengikuti nilai keekonomian BBM RON 92 yang dipengaruhi harga pasar dan pergerakan internasional.

Kenaikan belum penuh

Roberth menjelaskan, Pertamax merupakan BBM non-subsidi atau Jenis Bahan Bakar Minyak Umum. Karena status itu, harga jualnya pada dasarnya fluktuatif dan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.

Ia menyebut harga Pertamax saat ini masih ditahan dan belum disesuaikan penuh. Dengan kualitas dan angka oktan yang lebih tinggi, secara keekonomian harga Pertamax memang berada di atas Pertalite.

Menurut Roberth, penyesuaian yang dilakukan pada 10 Juni merupakan jalan tengah. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan antara kemampuan fiskal pemerintah, kondisi badan usaha, dan daya beli masyarakat.

Ia juga menegaskan ada peran pemerintah dan Pertamina dalam harga jual Pertamax saat ini. Karena itu, harga yang berlaku belum sepenuhnya mengikuti harga pasar atau harga internasional.

Sempat ditahan

Sebelum penyesuaian pada Juni, pemerintah disebut sempat berkoordinasi dengan Pertamina agar harga Pertamax tidak dinaikkan per 1 April. Langkah itu diambil pada periode yang dinilai krusial agar lonjakan harga tidak langsung membebani masyarakat.

Roberth mengatakan penahanan harga dilakukan untuk mengamankan daya beli dan stabilitas ekonomi. Pada saat yang sama, kebijakan itu juga mempertimbangkan agar beban fiskal pemerintah dan badan usaha tetap kondusif.

Pertamina bukan satu-satunya pihak yang bergerak menyesuaikan harga. Roberth menyebut seluruh badan usaha swasta penyedia BBM di Indonesia juga mengambil langkah serupa.

Harga pasar disebut jauh lebih tinggi

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menyebut harga pasar RON 92 sempat sudah berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000. Dalam kondisi itu, Pertamina mengaku masih berupaya menahan harga jual Pertamax di level yang lebih rendah.

Sigit menegaskan penahanan harga dilakukan cukup lama. Alasannya, Pertamina ingin menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu.

Ia juga menyampaikan bahwa harga BBM dengan RON 91 dan 92 di sejumlah negara sekitar Indonesia berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000. Menurut dia, kenaikan harga kepada konsumen perlu dilakukan agar ketersediaan pasokan di pasar tetap terjaga.

Perbandingan dengan negara tetangga

Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di kawasan, posisi harga Pertamax terlihat beragam. Di Malaysia, tidak ada BBM RON 92 yang dijual karena bensin yang tersedia memiliki oktan 95 dan 97.

RON 95 bersubsidi di Malaysia dibanderol 1,99 ringgit atau sekitar Rp 8.796. Sementara RON 95 non-subsidi dijual 3,72 ringgit atau sekitar Rp 16.444.

Di Thailand, BBM RON 91 dijual 42,74 baht atau sekitar Rp 23.327 per liter. Angka ini lebih tinggi dibanding harga Pertamax saat ini di Indonesia.

Di Filipina, bensin tanpa timbal RON 91 dibanderol 90,36 peso per liter atau sekitar Rp 26.430. Bensin RON 95 dijual 96,87 peso atau sekitar Rp 28.335, sedangkan RON 97 mencapai 105,35 peso atau sekitar Rp 30.815.

Vietnam menjadi salah satu negara yang disebut memiliki harga lebih rendah untuk BBM setara. Bensin RON 92 di negara itu berada di kisaran Rp 14 ribuan, atau sedikit di bawah harga Pertamax saat ini.

Alasan di balik penyesuaian

Di tengah lonjakan harga pasar, pemerintah dan Pertamina memilih tidak langsung membebankan seluruh kenaikan kepada konsumen. Kebijakan itu diposisikan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara realitas pasar dan kemampuan beli masyarakat.

Karena itu, kenaikan hampir Rp 4.000 per liter yang berlaku sekarang belum dianggap sebagai penyesuaian penuh. Pesan utama dari Pertamina adalah harga Pertamax yang sudah naik saat ini masih berada di bawah harga keekonomian yang dinilai sebenarnya.

Situasi itu juga menjelaskan mengapa ruang penyesuaian harga masih terbuka jika mengacu pada pasar murni. Untuk saat ini, harga Rp 16.250 per liter disebut masih merupakan hasil intervensi kebijakan, bukan semata-mata cerminan harga internasional.

Source: oto.detik.com
Terbaru