DFSK memilih langkah yang lebih realistis ketimbang memaksakan teknologi paling mutakhir dari lini Aito ke Indonesia. Alih-alih langsung membawa Seres 7 sebagai versi lokal dari Aito M7, pabrikan asal Tiongkok itu justru menyiapkan DFSK E5 Plus PHEV sebagai model yang dinilai lebih cocok untuk pasar Tanah Air.
Strategi itu muncul setelah DFSK sempat memamerkan dua model hasil kerja sama dengan Huawei, yakni Aito M9 dan Aito M7, pada ajang GIIAS 2026. Keduanya hadir dalam bentuk purwarupa bernama Seres 9 Concept dan Seres 7, yang sekaligus memberi gambaran arah portofolio produk Seres di Indonesia.
Terlalu canggih untuk pasar yang belum siap
Pilihan tidak membawa Aito M7 secara utuh bukan semata soal produk, tetapi juga soal kebutuhan pasar. Salah satu nilai jual utama kolaborasi Huawei dan Seres ada pada fitur Autonomous Driving yang disematkan di lini Aito.
CEO PT Sokonindo Automobile Alexander Barus menilai fitur itu belum tentu relevan untuk konsumen Indonesia. “Kita sudah perkenalkan di sini (produk Aito), M9 dan M7 yang tidak perlu sopir. Tetapi apakah itu applicable untuk masyarakat Indonesia? Pertanyaannya itu,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.
Menurut Alexander, masih banyak konsumen di Tanah Air yang belum melihat Autonomous Driving sebagai kebutuhan utama. Ia juga menekankan bahwa teknologi pintar seperti itu pasti ikut mengerek harga jual, sehingga pasar yang bisa dijangkau menjadi lebih sempit.
DFSK E5 Plus PHEV sebagai jalan tengah
Di titik ini, DFSK memilih pendekatan yang lebih sederhana dan terukur. E5 Plus PHEV disiapkan sebagai jalan tengah untuk memperkuat kehadiran DFSK di pasar Indonesia, tanpa membawa seluruh kompleksitas teknologi yang melekat pada Aito.
Menariknya, DFSK E5 Plus PHEV atau Seres Landian E5 disebut bisa dianggap sebagai varian ekonomis dari Aito M7. Artinya, kendaraan ini tetap mengusung konsep serupa, tetapi tanpa tambahan fitur-fitur Huawei yang membuat Aito tampil lebih canggih.
Pendekatan tersebut juga memberi ruang bagi harga yang lebih kompetitif. Dengan komposisi teknologi yang lebih sederhana, E5 Plus PHEV dinilai lebih mudah diterima oleh pasar dibanding Aito M7 yang berada di kelas lebih tinggi.
Segmen yang lebih masuk akal
Alexander juga menyinggung kemungkinan pasar Aito di Indonesia akan sangat terbatas. Ia memperkirakan pembeli model itu hanya datang dari kalangan menengah ke atas, bahkan dengan volume yang kecil.
“Ya mungkin bisa ada orang yang beli (Aito) sampai 100 unit,” kata dia. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa DFSK membaca pasar secara hati-hati sebelum memutuskan model mana yang layak didorong lebih dulu.
Pilihan untuk fokus ke E5 Plus PHEV juga punya konsekuensi pada lini produk yang sudah ada. Jika model ini resmi meluncur, penjualan salah satu SUV bermesin bensin mereka, Glory i-Auto, disebut akan terdampak.
Arah peluncuran di GIIAS 2026
DFSK menyiapkan peluncuran E5 Plus PHEV di GIIAS 2026. Namun, perusahaan masih menutup rapat spesifikasi resmi untuk pasar Indonesia maupun kisaran harganya.
Kondisi itu membuat E5 Plus PHEV menjadi model yang paling menarik untuk dipantau dari langkah DFSK berikutnya. Di satu sisi, mobil ini menjadi representasi teknologi yang lebih masuk akal untuk pasar lokal, sementara di sisi lain ia menunjukkan alasan mengapa Seres M7 versi Indonesia belum diprioritaskan.
