Peluncuran dua mobil baru Aion di Indonesia tampaknya tidak akan berjalan semulus yang sempat diharapkan. Di tengah persiapan menuju GIIAS 2026, merek ini justru memilih menahan diri setelah melihat kondisi pasar roda empat nasional yang sedang kurang bersahabat.
Keputusan itu membuat peluang debut dua model anyar di pameran otomotif tersebut ikut meredup. Padahal, keduanya sudah disiapkan untuk masuk ke pasar Indonesia dan sempat dipandang sebagai amunisi baru untuk menarik perhatian konsumen.
Pasar yang melemah jadi alasan utama
Aion mengaku langkah ini diambil setelah membaca situasi pasar mobil di Indonesia belakangan ini. Kondisi yang tidak begitu bagus, ditambah harga bahan bakar yang naik dan nilai tukar mata uang yang tidak stabil, membuat mereka menahan peluncuran model baru.
Situasi itu juga dinilai semakin berat setelah melihat hasil penjualan mobil sepanjang Mei. Tekanan pasar ini bukan hanya dirasakan Aion, tetapi juga merek lain yang kesulitan mengejar target penjualan di tengah penurunan yang terjadi.
Dua model yang sempat disiapkan
Model yang paling disorot adalah E9, yang sudah lebih dulu dijual di Singapura. Untuk pasar Indonesia, model ini disiapkan sebagai plug-in hybrid atau PHEV.
Karakter E9 membuat posisinya berbeda dari sejumlah rival di segmen yang sama. Denza D9, XPeng X9, dan Maxus Mifa 9 mengandalkan tenaga listrik murni alias BEV, sementara Toyota Alphard HEV masih memakai mesin bensin dengan bantuan elektrifikasi.
Model kedua adalah Emzoom. Berbeda dari E9, mobil ini memakai mesin bensin 1.500 cc turbo, sehingga beban operasionalnya ikut jadi pertimbangan di tengah harga bahan bakar yang sedang tinggi.
Tekanan di segmen listrik dan bensin
Aion sebenarnya punya modal kuat lewat model listrik murni yang sudah lebih dulu dijual di Indonesia. UT dan V menjadi andalan mereka sejauh ini, terutama karena mobil listrik dianggap lebih menarik saat harga bahan bakar naik.
Namun, kondisi pasar yang tidak menentu membuat model baru belum tentu langsung mendapat sambutan besar. Persaingan di pasar mobil listrik juga sangat ketat, sehingga Aion harus berhitung lebih cermat sebelum menambah lini produk.
Untuk Emzoom, tantangannya bahkan lebih berat. Mobil bermesin bensin tanpa teknologi ramah lingkungan seperti ini dinilai kurang ideal untuk segera diluncurkan saat biaya isi bahan bakar sedang menjadi perhatian utama konsumen.
Masih ada peluang masuk ke pasar Indonesia
Meski peluncuran di GIIAS 2026 dibatalkan, bukan berarti E9 dan Emzoom otomatis tertutup dari pasar Indonesia. Aion masih membuka peluang menjual keduanya ketika waktunya dianggap tepat.
E9 bahkan dinilai masih punya peluang lebih besar untuk masuk lebih cepat. Mobil PHEV masih cukup diminati di tengah kenaikan harga bensin, sehingga posisinya dianggap lebih masuk akal dibanding Emzoom.
Kemungkinan perakitan lokal masih terbuka
Belum ada kepastian soal apakah E9 dan Emzoom akan dirakit lokal setelah resmi diluncurkan. Untuk E9, opsi impor dari luar negeri dinilai lebih mungkin karena posisinya sebagai mobil mewah yang biasanya dijaga kualitasnya lewat produksi di tempat asal.
Emzoom punya peluang berbeda. Model ini disebut lebih mungkin diproduksi di Indonesia, mengingat Aion sudah punya pengalaman merakit model ramah lingkungan dan langkah itu juga bisa membantu mengurangi impor.
Jika produksi lokal benar terjadi, Emzoom berpotensi menjadi model yang lebih fleksibel untuk pasar Indonesia. Meski begitu, belum ada kejelasan apakah mesinnya akan ikut didatangkan dari luar negeri atau diproduksi di dalam negeri.
