Indonesia mulai menempatkan software-defined vehicle atau SDV bukan sekadar sebagai teknologi mobil masa depan, melainkan alat untuk memangkas ongkos logistik nasional. Di tengah biaya distribusi yang masih tinggi, fokus ini dinilai lebih relevan bagi ekonomi Indonesia ketimbang hanya mengejar tren mobil penumpang pintar.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai peluang terbesar SDV ada pada manajemen armada dan logistik. Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 6,5 juta truk, kendaraan pertambangan, dan kendaraan logistik, serta sekitar 300 ribu bus yang membutuhkan sistem pengelolaan lebih efisien.
Tekanan biaya logistik
Anindya menyoroti karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau. Kondisi itu membuat efisiensi distribusi barang dan jasa menjadi tantangan besar, sementara biaya logistik nasional diperkirakan masih berada di sekitar 17 persen dari Produk Domestik Bruto.
Menurut dia, angka itu perlu ditekan hingga mendekati 5 persen agar daya saing ekonomi nasional meningkat. Ia menilai teknologi SDV dan kecerdasan buatan dapat menjadi salah satu jalan untuk mencapai target tersebut melalui pengelolaan armada yang lebih efisien.
“Ketika berbicara mengenai shared mobility, itu memang penting. Tetapi bagi Indonesia, yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat menurunkan biaya logistik untuk menggerakkan perekonomian,” ujarnya.
SDV bukan hanya soal mobil listrik
Pandangan itu disampaikan Anindya dalam sesi bertajuk When Cars Became Software pada rangkaian 17th Annual Meeting of the New Champions 2026 atau Summer Davos yang digelar World Economic Forum di Dalian, China, Selasa, 23 Juni 2026. Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa transformasi otomotif menuju kendaraan berbasis perangkat lunak tidak berhenti pada fitur digital di kabin atau teknologi bantuan mengemudi.
Ia menjelaskan bahwa perubahan menuju kendaraan berbasis perangkat lunak juga berkaitan dengan platform yang lebih luas. Platform itu mencakup perangkat lunak, data, material maju, mineral kritis, energi, dan kemampuan manufaktur berteknologi tinggi.
“Ketika kita berbicara mengenai mobil yang menjadi perangkat lunak, kita juga berbicara mengenai sebuah platform, bukan hanya untuk perangkat lunak dan data, tetapi juga untuk ilmu material, mineral kritis, energi, dan tentu saja manufaktur maju,” kata Anindya.
Dukungan industri dan mineral kritis
Anindya juga mengaitkan pengembangan SDV dengan kesiapan Indonesia dalam rantai pasok material. Ia menyebut Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan termasuk lima besar dunia untuk komoditas tembaga, seng, bauksit, dan timah.
Menurut dia, posisi itu penting karena berbagai mineral tersebut dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik maupun SDV. Kemampuan mengolah mineral kritis dinilai akan ikut memperkuat perkembangan ekosistem kendaraan berbasis perangkat lunak di Indonesia.
Di saat yang sama, Anindya menilai pengembangan industri pengolahan material baterai dan produksi baterai memerlukan kemitraan dengan investor dan perusahaan global. Ia menyebut kerja sama itu penting untuk menarik investasi asing langsung, membuka lapangan kerja, dan menjaga stabilitas ekonomi.
“Pengolahan material baterai dan produksi baterai membutuhkan mitra. Mitra membawa investasi asing langsung, menciptakan lapangan kerja, dan membantu memperkuat stabilitas ekonomi,” katanya.
Arah industrialisasi nasional
Bagi Anindya, pemanfaatan SDV dan AI tidak hanya berkaitan dengan efisiensi operasional, tetapi juga dengan industrialisasi nasional yang lebih kuat. Ia menilai Indonesia perlu mengelola peluang ini dengan baik agar bisa naik ke level berikutnya.
Dalam keterangannya, ia juga menyebut harapan agar teknologi tersebut dapat mulai memberi dampak nyata dalam tiga tahun ke depan. Fokus utamanya tetap pada penurunan biaya logistik, karena sektor itu dianggap paling langsung mempengaruhi pergerakan ekonomi nasional.







