Kemarau mulai terasa menekan sejumlah wilayah di Jawa Tengah, dan dampaknya sudah membuat ribuan warga bergantung pada suplai air bersih. BPBD Jawa Tengah mencatat hingga 24 Juni 2026 total 654 ribu liter air bersih telah disalurkan ke daerah yang mulai dilanda kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan distribusi itu sudah menjangkau enam kabupaten/kota. Bantuan tersebut diterima 4.808 kepala keluarga atau sekitar 16.258 jiwa yang terdampak berkurangnya pasokan air di lingkungan mereka.
Klaten jadi wilayah dengan kebutuhan terbesar
Dari data BPBD, Kabupaten Klaten menjadi daerah dengan kebutuhan bantuan paling besar. Wilayah ini telah menerima sekitar 553 ribu liter air bersih.
Selain Klaten, suplai air juga disalurkan ke Purbalingga sebanyak 30 ribu liter, Banjarnegara 26 ribu liter, Cilacap 20 ribu liter, Jepara 20 ribu liter, dan Purworejo 5 ribu liter. Sebaran bantuan ini menunjukkan kekeringan sudah mulai dirasakan di beberapa titik dengan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda.
Kekeringan sudah terdeteksi di 11 desa
BPBD juga mencatat kekeringan saat ini telah terdeteksi di 11 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Klaten dan Purbalingga masing-masing memiliki tiga desa terdampak, sementara Banjarnegara dua desa.
Jepara, Purworejo, dan Cilacap masing-masing tercatat satu desa terdampak. Kondisi ini menunjukkan sebaran kekeringan mulai meluas meski kemarau baru memasuki fase awal.
Stok air disiapkan untuk antisipasi perluasan dampak
Untuk mengantisipasi kondisi yang diperkirakan semakin meluas, pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah telah menyiapkan cadangan air bersih dalam jumlah besar. Total stok yang disiagakan mencapai sekitar 123 juta liter.
Bergas menyebut distribusi air bersih sudah berjalan di sejumlah daerah yang mulai terdampak kekeringan. Dengan cadangan yang disiapkan, penanganan di lapangan diproyeksikan tetap bergerak mengikuti perluasan dampak kemarau di wilayah-wilayah rawan.
Source: jateng.jpnn.com






