Sebuah Ferrari klasik yang pernah berada di garasi Eric Clapton kini kembali masuk pasar dengan banderol sekitar $3.9 juta. Namun yang membuat mobil ini menonjol bukan hanya harganya, melainkan riwayatnya yang penuh kejadian tidak biasa, dari balap amatir di Kenya sampai adu cepat melawan pesawat.
Mobil itu adalah Ferrari 275 GTB/4 lansiran 1966, salah satu model paling dihormati di jajaran Ferrari klasik. Classic-car specialist Fiskens menawarkannya dengan harga £2.95 million, dan unit ini membawa salah satu riwayat kepemilikan paling terdokumentasi di dunia kolektor.
Ferrari yang memang bukan mobil biasa
275 GTB/4 debut pada 1966 sebagai versi lebih agresif dari 275 GTB. Mobil ini mendapat kap mesin lebih panjang, bonnet dengan tonjolan tenaga, dan mesin Colombo V-12 empat cam yang menghasilkan 300 horsepower.
Performa itu membuatnya mampu melaju 0-60 mph dalam 5.5 detik dan mencapai kecepatan puncak 163 mph. Ferrari juga membekalinya dengan transaxle manual lima percepatan dan suspensi independen di keempat roda, sebuah kombinasi yang pertama kali hadir pada mobil jalan raya Ferrari.
Ferrari hanya membuat 300 unit 275 GTB/4 antara 1966 dan 1968. Mobil yang satu ini, dengan nomor rangka 09261, bahkan lebih langka karena menjadi salah satu dari 31 unit berpenggerak setir kanan.
Sempat salah kirim ke Afrika, lalu dipakai sungguhan
Kisah mobil ini dimulai pada Juli 1966 ketika pebisnis Robin Houry memesan mobil melalui distributor Ferrari di Inggris. Rencananya, mobil itu akan dipakai di Britania Raya sebelum dikirim ke Kenya.
Namun ada kekeliruan di pabrik yang membuat Ferrari itu justru dikirim langsung ke Mombasa sebelum Houry sempat menerimanya di rumah. Alih-alih memprotes, Houry memilih membiarkannya tetap di Afrika dan benar-benar menggunakannya.
Mobil ini lalu turun di ajang amatir bersama East African Motor Sports Club. Pada masa banyak mobil kolektor disimpan rapat dalam kondisi ideal, unit ini justru mengumpulkan kisah lapangan yang keras.
Dari taruhan melawan pesawat sampai perjalanan 300 mil
Bagian paling mencolok dari riwayat mobil ini terjadi setelah Houry menjualnya pada 1968 kepada rekan bisnisnya, Brian Lees. Lees bertaruh dengan pilot pesawat Douglas DC-3 bermesin ganda bahwa Ferrari itu bisa mengalahkan pesawat di rute sekitar 300 mil antara Nairobi dan Mombasa.
Di jalan yang di beberapa bagian masih nyaris belum beraspal, Ferrari itu menang. Mobil tersebut dilaporkan melaju dengan rata-rata di atas 80 mph, sebuah cerita yang kini menjadi bagian penting dari daya tariknya di pasar kolektor.
Dibongkar seorang ilustrator, lalu dipulihkan lagi oleh Clapton
Mobil ini kembali ke Inggris pada 1970 dan dibeli pada tahun berikutnya oleh ilustrator otomotif James Allington. Selama lebih dari tiga dekade, Allington menyimpannya, bahkan membongkar seluruh mobil untuk mempelajari detail 275 GTB/4 sebelum merakitnya kembali dan mengecatnya merah agar sesuai dengan karya ilustrasinya.
Setelah Allington meninggal, mobil itu dilelang di Christie’s pada akhir 2002, tetapi gagal terjual karena tidak mencapai harga reserve. Eric Clapton kemudian membelinya dan langsung mengirimnya ke DK Engineering untuk restorasi selama setahun agar kembali ke warna asli Grigio Argento.
Harga tinggi, tapi pasar memang mendukung
Clapton menjual mobil ini pada 2005, lalu mobil berpindah tangan beberapa kali. Salah satu pemiliknya, eksekutif peralatan musik Niall Holden, sempat mengecatnya ulang dengan warna biru tua metalik.
Pada Januari 2022, desainer yacht Terence Disdale membeli mobil ini dan menghabiskan sekitar $250,000 selama dua tahun untuk restorasi baut demi baut. Ia juga menambah sekitar $33,000 agar mobil kembali ke spesifikasi asli.
Dari sisi pasar, banderol hampir $4 juta itu masih berada di tengah dibandingkan hasil lelang 275 GTB/4 lain. Sebuah mobil berwarna kuning tahun 1967 terjual $2.86 million di Mecum Indy pada May, sementara unit biru es tahun 1967 mencapai $3.4 million di The Amelia pada March.
Di sisi atas, sebuah 275 GTB/4 berbodi alloy tahun 1967 menembus $6.05 million di lelang Mecum Kissimmee. Dengan sejarah lintas benua, kepemilikan oleh Eric Clapton, dan riwayat pemakaian yang jauh dari kata biasa, mobil ini menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki Ferrari klasik lain: bukan sekadar spesifikasi, tetapi cerita yang terus bertambah nilainya.







