Pameran otomotif nasional kerap menghadirkan pemandangan yang tampak bertolak belakang dengan kondisi ekonomi. Saat dunia usaha mengeluhkan pelemahan permintaan domestik, biaya produksi naik, harga kebutuhan pokok menekan rumah tangga, dan daya beli masyarakat melemah, stan mobil premium justru ramai didatangi calon pembeli.
Bahkan, tidak sedikit model baru yang langsung memperoleh surat pemesanan kendaraan dalam jumlah signifikan. Fenomena ini membuat satu pertanyaan terus muncul di tengah pasar yang lesu: mengapa mobil mewah tetap laris saat ekonomi terasa melambat?
Jawabannya tidak menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Sebaliknya, gejala ini memperlihatkan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi semakin terfragmentasi, karena yang melemah bukan seluruh daya beli, melainkan daya beli mayoritas masyarakat.
Secara teori, konsumsi agregat kerap menyesatkan bila tidak dibedah berdasarkan kelompok pendapatan. Ketika rata-rata konsumsi masih terlihat bertahan, hal itu tidak otomatis berarti semua lapisan masyarakat memiliki kemampuan belanja yang sama.
Kelompok berpendapatan tinggi cenderung tidak terlalu sensitif terhadap inflasi maupun perlambatan ekonomi. Mereka memiliki aset finansial, portofolio investasi, dan sumber pendapatan yang lebih beragam dibandingkan kelas menengah dan bawah.
Joseph Stiglitz menyebut kondisi semacam ini sebagai ekonomi dengan konsentrasi kekayaan yang meningkat. Saat distribusi pendapatan makin timpang, perlambatan ekonomi tidak dirasakan merata, karena sebagian masyarakat turun kesejahteraannya sementara sebagian lain justru menambah kekayaan.
Data industri otomotif memperkuat gambaran itu. Sepanjang 2023, penjualan mobil nasional berada di sekitar 1,01 juta unit, lalu turun menjadi sekitar 865.000 unit pada 2024. Hingga 2025, penjualan belum kembali ke level sebelum perlambatan dan masih berada di bawah satu juta unit.
Penurunan paling terasa terjadi pada segmen kendaraan mass market dengan harga di bawah Rp 400 juta. Segmen ini sangat bergantung pada kredit konsumen dan daya beli kelas menengah.
Sebaliknya, produsen mobil premium seperti BMW, Mercedes-Benz, Lexus, Porsche, hingga merek ultra-luxury masih melaporkan minat pasar yang relatif stabil di berbagai pameran otomotif nasional. Beberapa model limited edition bahkan habis dipesan selama pameran berlangsung.
Fenomena serupa tampak pada GIIAS dan IIMS dalam beberapa tahun terakhir. Nilai transaksi tetap tinggi meski pasar kendaraan secara keseluruhan sedang melambat, sehingga kendaraan premium seolah bergerak di jalur yang berbeda dari pasar massal.
Dua mesin konsumsi
Pasar sepeda motor memberi gambaran yang sedikit berbeda. Penjualan roda dua masih bertahan di kisaran 6,2–6,5 juta unit per tahun selama periode 2023–2025, tetapi pertumbuhannya relatif stagnan.
Artinya, masyarakat masih membeli kendaraan untuk kebutuhan mobilitas, bukan karena meningkatnya optimisme ekonomi. Kontras ini memperlihatkan dua mesin konsumsi yang bekerja berbeda di dalam perekonomian.
Mesin pertama adalah konsumsi kelas menengah dan bawah. Mesin ini sangat sensitif terhadap inflasi pangan, kenaikan suku bunga, cicilan kredit, harga BBM, dan ketidakpastian pekerjaan.
Mesin kedua adalah konsumsi kelompok berpendapatan tinggi. Mesin ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan nilai aset, keuntungan investasi, apresiasi pasar modal, dan ekspansi bisnis.
Karena itu, saat ekonomi melambat, mesin pertama kehilangan tenaga lebih dulu. Mesin kedua sering tetap berputar karena pemiliknya masih ditopang kekayaan yang terdiversifikasi.
Pola yang tidak hanya terjadi di Indonesia
Fenomena ini juga terlihat di negara lain. Amerika Serikat mengalami kondisi serupa setelah pandemi, ketika penjualan barang mewah tetap meningkat meski konsumsi masyarakat umum melambat.
Di sana, inflasi sempat mencapai level tertinggi dalam empat dekade dan suku bunga dinaikkan secara agresif oleh bank sentral. Penjualan rumah dan kendaraan kelas menengah melemah, sementara banyak perusahaan teknologi melakukan PHK massal.
Namun, penjualan mobil premium seperti Ferrari, Lamborghini, Porsche, Rolls-Royce, dan Bentley tetap kuat. Ferrari bahkan beberapa kali menyatakan bahwa daftar tunggu pembelian kendaraan mereka mencapai lebih dari satu tahun.
Bentley juga menegaskan bahwa perlambatan ekonomi belum langsung memengaruhi buku pesanannya, karena pelanggan mereka berasal dari kelompok ultra-high-net-worth individuals. Kelompok ini tetap diuntungkan oleh kenaikan harga saham, obligasi, dan aset keuangan.
India menunjukkan pola yang mirip. Di satu sisi, pengangguran kaum muda masih tinggi, kesenjangan pendapatan melebar, dan sektor informal masih mendominasi tenaga kerja.
Di sisi lain, BMW, Mercedes-Benz, Audi, dan Lexus terus mencetak rekor penjualan selama beberapa tahun setelah pandemi. Produsen mobil premium bahkan memperluas kapasitas produksi dan jaringan dealer karena permintaan dari kelompok kaya terus meningkat.
Baru memasuki 2026, pasar India mulai menunjukkan tanda perlambatan setelah lima tahun berturut-turut bertumbuh. Ekonom di sana menyebut gejala itu sebagai consumption bifurcation, atau konsumsi masyarakat yang terbelah menjadi dua dunia berbeda.
Risiko salah baca indikator
China juga memperlihatkan pola serupa, meski dengan dinamika yang berbeda. Ketika krisis properti melanda dan banyak pengembang besar gagal bayar, konsumsi rumah tangga melemah dan pertumbuhan ekonomi turun dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Pada fase awal perlambatan, merek seperti Hermès, Louis Vuitton, Ferrari, dan Porsche masih memperoleh penjualan yang relatif kuat. Namun, memasuki 2025, perlambatan yang berkepanjangan mulai menjangkau segmen premium, dan penjualan mobil mewah asing ikut menurun.
Pelemahan kepercayaan konsumen kaya, krisis properti, serta meningkatnya preferensi terhadap merek domestik seperti BYD ikut menekan pasar tersebut. Artinya, kelompok kaya pun tidak sepenuhnya kebal bila perlambatan berlangsung terlalu lama.
Bagi Indonesia, isu ini menjadi lebih sensitif karena tekanan ekonomi terjadi bersamaan dengan melemahnya permintaan domestik, efisiensi tenaga kerja di sejumlah perusahaan, pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih lambat dari pertumbuhan angkatan kerja, dan kenaikan harga pangan yang menggerus pendapatan riil rumah tangga.
Di beberapa daerah, distribusi BBM sempat mengalami gangguan dan menambah biaya logistik. Dalam kondisi seperti ini, mobil mewah yang tetap laris bisa menciptakan ilusi bahwa ekonomi nasional masih kuat.
Padahal, indikator tersebut hanya menggambarkan kesehatan segmen yang sangat kecil dari populasi. Satu pembelian mobil Rp 8 miliar memang bernilai besar dalam transaksi, tetapi dampaknya terhadap pemerataan kesejahteraan sangat berbeda dari banyak pembelian kendaraan atau barang konsumsi lain oleh masyarakat luas.
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup dilihat dari ramainya showroom mobil premium. Yang lebih penting adalah seberapa luas masyarakat masih mampu membeli kebutuhan pokok, memiliki pekerjaan layak, dan mempertahankan kualitas hidupnya.
Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB. Maka, pelemahan daya beli kelas menengah memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap pertumbuhan dibandingkan naiknya konsumsi kelompok kaya.
