Honda, Nissan, Mitsubishi Bikin Langkah Baru Lawan China, Komponen EV Akan Dibagi Bersama

Author: Qoo Media

Honda, Nissan, dan Mitsubishi bersiap mengambil langkah yang lebih dalam untuk menghadapi tekanan dari produsen mobil China dan Tesla. Tiga merek Jepang itu dilaporkan akan berbagi komponen Electronic Control Unit atau ECU untuk produk kendaraan mereka.

Kolaborasi ini muncul sebagai strategi efisiensi biaya di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Di saat pasar kendaraan listrik terus berubah cepat, kerja sama komponen menjadi cara untuk menekan ongkos sekaligus menjaga daya saing.

ECU jadi inti strategi kendaraan berbasis software

ECU yang disiapkan bersama itu dirancang untuk mengintegrasikan berbagai fungsi penting pada kendaraan berbasis perangkat lunak atau Software Defined Vehicle. Sistem ini mencakup teknologi bantuan mengemudi otonom hingga fitur infotainment.

Rencananya, ECU tersebut akan dipakai pada kendaraan hybrid dan listrik Honda, Nissan, dan Mitsubishi di masa mendatang. Penggunaan platform bersama ini dipandang dapat mempermudah pengembangan sekaligus mengurangi beban produksi.

Laporan Nikkei Asia menyebut ketiga perusahaan berpotensi mencapai kesepakatan dalam beberapa pekan ke depan. Meski begitu, kerangka kerja untuk pengembangan dan pengadaan komponen itu masih dalam tahap penyempurnaan.

Dorongan menghadapi pesaing China dan Tesla

Salah satu alasan utama kolaborasi ini adalah tekanan dari produsen mobil China yang agresif memperluas pasar EV. Tesla juga ikut menjadi pembanding besar karena terus memperkuat posisinya di segmen kendaraan listrik global.

Dengan berbagi ECU, Honda, Nissan, dan Mitsubishi berharap bisa bergerak lebih efisien tanpa mengorbankan arah pengembangan teknologi. Langkah ini juga memperlihatkan bahwa persaingan EV kini tidak hanya soal baterai dan jarak tempuh, tetapi juga soal kontrol biaya dan kecepatan inovasi.

Honda dan Nissan juga bahas perangkat lunak bersama

Selain ECU, Honda dan Nissan disebut sedang menjajaki pengembangan perangkat lunak dan sistem operasi kendaraan yang sama. Pembahasan ini penting karena ekosistem SDV bergantung pada integrasi software yang kuat dan konsisten antarmodel.

Jika tercapai, kerja sama itu akan memperluas kolaborasi mereka dari level komponen fisik ke arsitektur digital kendaraan. Mitsubishi juga disebut akan ikut memanfaatkan ekosistem tersebut di masa depan.

Kelanjutan dari rangkaian pembicaraan yang lebih luas

Langkah ini bukan muncul dari nol. Sebelumnya, Honda dan Nissan sempat merencanakan merger sekitar 18 bulan lalu, tetapi rencana itu gagal karena tidak ada kesepakatan soal struktur manajemen.

Kala itu, Honda ingin Nissan menjadi anak usaha. Nissan yang saat itu menghadapi penurunan penjualan di Jepang tidak yakin skema tersebut bisa mengoptimalkan kinerja perusahaan.

Dalam enam bulan terakhir, kedua pabrikan juga dilaporkan membahas kerja sama produksi di Amerika Utara. Salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah Nissan memproduksi truk pikap untuk Honda dan Mitsubishi, sekaligus bekerja sama mengembangkan kendaraan berukuran besar.

Laporan pada Maret lalu bahkan menyebut Nissan berencana memproduksi truk pikap Honda di fasilitas perakitannya di Canton, Amerika Serikat. Pabrik itu disebut masih memiliki kapasitas produksi yang belum optimal setelah Nissan membatalkan proyek pengembangan dua sedan listrik di lokasi tersebut pada 2025.

Bila seluruh rencana itu berjalan, kolaborasi Honda, Nissan, dan Mitsubishi akan menjadi langkah strategis untuk memperkuat efisiensi operasional. Di saat yang sama, aliansi ini bisa menjadi senjata baru bagi tiga merek Jepang untuk bertahan di era elektrifikasi dan kendaraan berbasis software.

Terbaru