Honda Gandeng Nissan Demi Pangkas Rugi, Fokus Garap Otak Mobil Masa Depan

Honda kembali membuka jalur kerja sama dengan Nissan setelah mencatat kerugian besar pertamanya dalam hampir 70 tahun. Fokus kolaborasi ini bukan merger, melainkan langkah konkret untuk menekan biaya agar tekanan keuangan tidak terulang.

Arah kerja sama yang kini menguat menyasar teknologi kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicle (SDV). Area ini dinilai penting karena akan menentukan daya saing pabrikan Jepang di tengah laju produsen Amerika Serikat dan China yang lebih cepat dalam pengembangan teknologi otomotif generasi baru.

Menurut The Asahi Shimbun, kedua produsen berada di tahap akhir kesepakatan untuk mengembangkan banyak unit komputer yang dibutuhkan dalam SDV. Sumber yang dikutip media itu menyebut komponen utama yang digarap adalah electronic control unit atau ECU.

Penggunaan ECU yang sama dinilai dapat memangkas biaya pengembangan secara signifikan. Dengan berbagi fondasi perangkat keras, Honda dan Nissan dapat menghindari beban investasi terpisah untuk sistem yang fungsinya serupa.

SDV sendiri merupakan konsep kendaraan generasi berikutnya yang sangat bergantung pada perangkat lunak. Sistem ini memungkinkan pembaruan melalui internet sehingga performa kendaraan dapat ditingkatkan dan fitur baru bisa ditambahkan tanpa harus mengubah banyak komponen fisik.

Fitur yang dimungkinkan dalam pendekatan SDV antara lain kemampuan mengemudi otonom dan aplikasi peta. Karena itu, kendaraan jenis ini diperkirakan akan menjadi model dominan di negara-negara maju.

Fokus Baru Setelah Opsi Merger Gagal

Rencana kedekatan Honda dan Nissan sebenarnya bukan hal baru. Wacana itu sudah muncul sejak dua tahun lalu ketika Honda sempat disebut akan merger dengan aliansi Nissan.

Namun skenario penggabungan penuh tersebut tidak terwujud. Dalam perkembangan berikutnya, pembicaraan bergeser ke arah kolaborasi yang lebih spesifik dan pragmatis, terutama di bidang yang bisa langsung menekan biaya dan mempercepat pengembangan teknologi.

Pada 2024, Honda dan Nissan telah mengumumkan kesepakatan untuk bekerja sama dalam pengembangan SDV, baterai, dan bidang lain. Pembicaraan itu bahkan sempat berlanjut ke kemungkinan merger.

Akan tetapi, Nissan menolak proposal Honda untuk menjadi anak perusahaannya. Setelah opsi itu kandas, diskusi di antara keduanya tetap berjalan untuk mencari bentuk kerja sama yang lebih realistis.

Kini, titik temu yang paling menonjol ada pada pengembangan komponen inti SDV. Model kerja sama ini memberi ruang bagi kedua perusahaan untuk tetap berdiri sendiri, sambil berbagi beban pengembangan teknologi yang mahal.

Apa yang Sedang Digarap

Menurut sumber yang dikutip The Asahi Shimbun, ECU hasil pengembangan bersama itu dapat dipasang pada kendaraan produksi kedua perusahaan paling cepat pada 2029. Artinya, kerja sama ini tidak berhenti pada tahap konsep, tetapi diarahkan ke implementasi produk.

Bukan hanya perangkat keras yang dibahas. Sumber yang sama menyebut Honda dan Nissan juga sedang mendiskusikan pembagian perangkat lunak sistem operasi yang dipasang di kendaraan mereka.

Jika pembahasan itu berlanjut, kerja sama tidak hanya akan menekan biaya komponen fisik, tetapi juga biaya pengembangan ekosistem digital kendaraan. Langkah ini menjadi penting karena SDV membutuhkan integrasi kuat antara perangkat keras dan perangkat lunak.

Mitsubishi Motors Corp., yang saat ini menjadi afiliasi Nissan, juga disebut dapat memanfaatkan ECU tersebut. Keterlibatan ini berpotensi memperluas skala penggunaan komponen dan membuat efisiensi biaya menjadi lebih besar.

Semakin luas pemakaian platform yang sama, semakin besar pula peluang menurunkan ongkos pengembangan per unit. Dalam industri otomotif yang sedang beralih ke kendaraan lebih terkoneksi, skala seperti ini menjadi faktor penting.

Tahap Pembicaraan Disebut Sudah Maju

Asia Nikkei melaporkan Presiden dan CEO Honda Motor Co., Toshihiro Mibe, mengatakan perkembangan kerja sama dengan Nissan sudah cukup jauh. Bahkan, beberapa aspek kerja sama disebut mendekati pengumuman resmi.

Pernyataan itu menunjukkan pembicaraan tidak lagi berada pada tahap eksplorasi awal. Ada indikasi bahwa kedua pihak sudah mengerucutkan bidang mana yang bisa langsung dijalankan lebih dulu.

Meski demikian, bentuk kolaborasi yang mengemuka saat ini tetap berbeda dari merger. Honda dan Nissan tampak memilih pola kerja sama yang lebih terukur, dengan fokus pada bidang yang memberi manfaat langsung bagi efisiensi dan daya saing.

Pilihan itu juga mencerminkan perubahan strategi di tengah besarnya biaya pengembangan kendaraan masa depan. Ketika SDV, baterai, dan sistem operasi kendaraan menuntut investasi besar, berbagi pengembangan menjadi jalan yang lebih masuk akal dibanding berjalan sendiri.

Bagi Honda, langkah ini penting karena berhubungan langsung dengan upaya menghindari kerugian lanjutan. Bagi Nissan, kolaborasi ini membuka peluang memperkuat posisi di teknologi kendaraan masa depan tanpa harus menanggung seluruh biaya pengembangan sendirian.

Dengan fokus pada ECU dan kemungkinan berbagi sistem operasi kendaraan, kerja sama Honda dan Nissan bergerak ke inti transformasi industri otomotif. Jika terealisasi sesuai pembahasan saat ini, hasilnya bisa mulai terlihat pada kendaraan produksi paling cepat pada 2029.

Source: oto.detik.com

Terkait