Mobil sport dirancang untuk terasa cepat, ringan, dan menyenangkan saat dikendarai. Di titik itu, mesin diesel justru sering membawa kompromi yang sulit diterima oleh penggemar sport car.
Mesin diesel memang punya tenaga putaran bawah yang kuat dan efisien. Namun, efisiensi bukan prioritas utama bagi pemilik sports car, yang lebih mencari performa, karakter mesin, suara, dan rasa berkendara yang hidup.
Kenapa diesel sulit cocok
Secara sederhana, sebuah sports car perlu punya tenaga besar, bobot ringan, dan suara yang menarik. Mesin diesel cenderung berbenturan dengan tiga hal itu karena karakter dasarnya lebih menonjolkan torsi ketimbang putaran mesin yang tinggi.
Diesel juga umumnya lebih berat. Hal ini terkait dengan konstruksinya yang membutuhkan rasio kompresi lebih tinggi sehingga memakai komponen yang lebih kuat, dan bobot ekstra itu tidak ideal untuk mobil sport.
Karakter lain yang ikut membatasi adalah putaran mesin yang tidak setinggi mesin bensin. Akibatnya, rentang tenaga atau power band diesel terasa lebih sempit, padahal mobil sport biasanya diharapkan responsif dalam spektrum putaran yang luas.
Suara mesin juga menjadi faktor penting. Diesel biasanya tidak menghasilkan bunyi yang dianggap menyenangkan oleh banyak penggemar mobil sport, sehingga sensasi emosional yang dicari justru berkurang.
Diesel justru lama populer di kendaraan lain
Dalam waktu yang panjang, diesel lebih banyak dipakai di truk dan bus. Mesin ini cocok untuk mengangkut beban berat karena punya torsi bawah yang baik dan lebih ekonomis dibanding mesin bensin.
Seiring waktu, teknologi diesel berkembang. Salah satu dorongan terbesar datang dari turbocharger yang membuat diesel turbo mampu meningkatkan performa secara signifikan.
Popularitas diesel juga terlihat di sedan kencang. Di berbagai pasar, terutama di luar Amerika Serikat, mesin diesel bertenaga tetap punya tempat karena menawarkan kombinasi tenaga dan efisiensi.
Di Amerika Serikat, pasar diesel memang lebih banyak identik dengan truk dan SUV. Di luar itu, banyak negara lain tetap mengenal mobil diesel yang kuat, termasuk di segmen performa.
Pernah ada percobaan menuju diesel sport
Meski tidak umum, bukan berarti tidak pernah ada upaya membuat mobil sport diesel. Audi pernah mendekati wilayah supercar diesel pada 2008 lewat R8 Le Mans Concept yang memasang mesin V12 TDI.
Mobil konsep itu memakai mesin dari Audi R10 TDI Le Mans, yang saat itu mendominasi balap ketahanan. Mesin V12 twin-turbo tersebut menghasilkan 493 bhp dan 1.000 Nm torsi.
Namun proyek itu tidak berlanjut menjadi produksi massal. Pemasangan V12 ke bodi R8 dianggap terlalu besar tantangannya, meski mesin tersebut akhirnya debut di Audi Q7 V12 TDI.
Ada juga beberapa mobil sporty yang memakai diesel dan sempat mendapat perhatian. Golf GTD, misalnya, menjadi hot hatch diesel yang populer di pasar Eropa.
Nama lain yang ikut muncul di ranah itu termasuk Audi S5, BMW 440d, dan model diesel Alpina. Meski demikian, pasar Amerika tidak pernah benar-benar menjadi lahan utama untuk performance diesel, sehingga mobil-mobil semacam itu jauh lebih dikenal di wilayah lain.
Intinya, diesel bukan mesin yang buruk untuk performa, tetapi karakter dasarnya tidak sejalan dengan apa yang dicari dari sebuah sports car. Mobil sport lebih membutuhkan ringan, respons cepat, suara yang menggugah, dan putaran mesin tinggi, sementara diesel lebih kuat di torsi bawah, efisiensi, dan daya angkut.







