Insiden truk yang menghantam deretan sepeda motor di Simpang Unisma, Bekasi, kembali menyorot satu pelajaran penting di jalan raya: mengerem pada kendaraan besar bukan sekadar menekan pedal. Kasus ini menunjukkan bahwa risiko kecelakaan tidak selalu bisa dilihat hanya dari kemungkinan gangguan teknis, tetapi juga dari cara pengemudi mengendalikan kendaraan sejak awal.
Di jalan perkotaan yang padat, satu keputusan kecil di balik kemudi bisa berujung fatal ketika kendaraan berbobot besar kehilangan kendali. Karena itu, kasus truk Isuzu Giga di Jalan Cut Meutia, dekat persimpangan Universitas Islam 45 (Unisma), Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, menjadi pengingat bahwa disiplin mengemudi sama pentingnya dengan kondisi kendaraan.
Bukan Sekadar Masalah Pedal Rem
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menilai banyak pengemudi truk dan bus masih salah kaprah dalam mengoperasikan sistem pengereman. Menurut dia, mengerem tidak bisa dipahami sebagai tindakan spontan asal menginjak pedal rem.
Sony mengatakan kegagalan pengereman kerap terjadi karena dilakukan secara asal-asalan. Pada kendaraan besar, cara memperlakukan rem akan sangat menentukan kemampuan kendaraan melambat dengan aman, terutama saat mendekati persimpangan atau antrean kendaraan.
Masalahnya tidak berhenti pada momen ketika bahaya sudah ada di depan mata. Gaya mengemudi sebelum itu, termasuk kebiasaan melaju agresif dan berhenti-jalan secara kasar, ikut memengaruhi daya tahan komponen pengereman.
Ketika kendaraan berat dipaksa bekerja keras dengan pola berkendara yang serampangan, suhu perangkat rem dapat meningkat drastis. Kondisi itu memperbesar risiko rem blong, yang pada akhirnya bisa membuat pengemudi kehilangan kemampuan mengendalikan laju kendaraan.
Bahaya Agresivitas di Jalan Perkotaan
Kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan membuat ruang gerak kendaraan besar jauh lebih terbatas. Di lingkungan seperti ini, pengemudi truk dituntut lebih waspada karena aktivitas pengguna jalan sangat tinggi dan situasinya cepat berubah.
Sony menegaskan kendaraan besar tidak bisa dikemudikan dengan pendekatan “main trabas”. Menurut dia, pengemudi perlu mengontrol emosi agar laju kendaraan tetap halus saat melakukan manuver.
Sikap terburu-buru menjadi salah satu faktor yang paling sering memicu kecelakaan di persimpangan. Keinginan mendahului lampu merah yang sudah tanggung dapat membuat truk menyosor kendaraan yang berhenti di depannya.
Dalam situasi lalu lintas padat, kendaraan berat membutuhkan jarak dan waktu lebih besar untuk berhenti. Karena itu, gaya mengemudi agresif di area seperti persimpangan jalan hampir pasti meningkatkan risiko kecelakaan yang fatal.
Kematangan Pengemudi Jadi Kunci
Secara regulasi, pengemudi truk atau kendaraan berat wajib memiliki Surat Izin Mengemudi Golongan B2. Keberadaan SIM ini menandakan bahwa pengemudi seharusnya memiliki kompetensi dan kematangan yang lebih tinggi dibanding pengemudi kendaraan biasa.
Menurut Sony, pengemudi yang telah memenuhi kualifikasi tersebut umumnya lebih bijak dalam menguasai kendaraannya. Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup jika tidak dibarengi pengendalian emosi saat berkendara.
Ia menekankan dua hal penting yang perlu dijaga pengemudi kendaraan besar, yakni bersikap bijak dan menerapkan teknik cover brake. Keduanya menjadi bagian dari antisipasi dasar agar pengemudi tidak terlambat merespons perubahan situasi di jalan.
Pentingnya Teknik Cover Brake
Teknik cover brake dilakukan dengan meletakkan kaki di atas pedal rem sebagai langkah antisipasi. Cara ini dinilai krusial terutama saat truk mendekati persimpangan atau lampu lalu lintas, ketika potensi kendaraan di depan berhenti mendadak selalu ada.
Dengan kesiapan seperti itu, pengemudi dapat melakukan pengereman lebih cepat dan lebih halus sejak jarak jauh. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko keterlambatan refleks sekaligus menekan beban berlebih pada sistem pengereman.
Sony juga mengingatkan bahwa keselamatan kendaraan besar sangat bergantung pada cara pengemudi memperlakukan kendaraannya sepanjang perjalanan. Semakin halus ritme berkendara, semakin kecil peluang perangkat rem bekerja dalam suhu ekstrem.
Kasus di Bekasi menunjukkan bahwa tragedi serupa bisa terus berulang bila pengemudi masih mengandalkan reaksi mendadak pada detik terakhir. Pada kendaraan besar, pencegahan dimulai jauh sebelum pedal rem diinjak, yakni dari kecepatan yang terjaga, emosi yang stabil, dan kebiasaan membaca kondisi jalan sejak dini.
