Insentif EV Maju Mundur Lagi, Konsumen Mulai Disarankan Jangan Menunggu

Changan Indonesia mengimbau konsumen tidak terlalu menggantungkan rencana membeli mobil listrik pada insentif kendaraan listrik atau EV yang dijanjikan pemerintah. Di tengah kabar penundaan yang terus bergeser, perusahaan melihat kepastian kebijakan justru menjadi faktor yang paling dinanti pasar saat ini.

Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia, menilai pengaruh insentif memang ada, tetapi keputusan pembelian tetap kembali pada kebutuhan konsumen. “Pasti ada pengaruh, tapi balik lagi ke kebutuhan. Kalau orang butuh ya gak nunggu lagi. Pasti beli juga,” ujarnya, Selasa (30/6).

Meski begitu, ia mengakui masih banyak calon pembeli yang menunggu kejelasan insentif sebelum mengambil keputusan. Menurut dia, situasi itu sudah terlalu lama membuat konsumen menahan diri, padahal arah kebijakan belum juga pasti.

“Karena mungkin sekarang orang nunggu insentif ada apa enggak, mundur-maju tapi kan udah ada statement di luar bahwa rasanya kan gak ada. Ini juga saya baca dari berita, maka harusnya konsumen mulai mikir ya jangan terlalu berharap dengan insentif,” kata Setiawan.

Perkembangan kebijakan insentif EV memang belum menunjukkan kepastian dalam waktu dekat. Rencana yang semula disebut berlaku pada Juni kemudian bergeser ke Juli, dan kini kabarnya diundur lagi ke Agustus.

Di saat yang sama, pemerintah disebut tengah mengalihkan fokus pada persiapan program mobil nasional. Kondisi ini membuat pelaku industri otomotif dan konsumen semakin menunggu arah yang jelas sebelum mengambil langkah berikutnya.

Kementerian Perindustrian juga menyoroti situasi tersebut karena menilai industri dan konsumen butuh kepastian mengenai kelanjutan insentif EV. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menyampaikan permintaan agar kepastian segera diberikan kepada pelaku usaha maupun pembeli kendaraan.

“Terkait dengan itu, kami meminta agar industri dan konsumen produk otomotif segera diberi kepastian,” kata Febri melansir Antara, Rabu (1/7).

Ia menambahkan, ketidakjelasan kebijakan bisa menahan keputusan masyarakat dan pada akhirnya memberi tekanan pada kinerja industri otomotif. Karena itu, Kemenperin meminta pengambil kebijakan di kementerian dan lembaga lain segera memberi kejelasan soal insentif tersebut.

Bagi pasar, penundaan yang berulang berisiko membuat pembeli terus menunggu tanpa batas waktu yang pasti. Bagi produsen, situasi itu ikut memperpanjang ketidakpastian di tengah persaingan pasar kendaraan listrik yang masih sangat bergantung pada sentimen kebijakan.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait