Satu unit Isuzu Traga maupun Isuzu ELF dapat keluar dari lini produksi setiap tujuh menit di Isuzu Karawang Plant. Kecepatan ini menunjukkan ritme perakitan kendaraan niaga ringan dan menengah yang jauh berbeda dibandingkan lini Isuzu GIGA.
Untuk satu unit GIGA, pabrik membutuhkan sekitar 40 menit. Perbedaan waktu tersebut berkaitan dengan dimensi kendaraan yang lebih besar serta spesifikasi yang lebih kompleks.
Ritme Produksi Berbeda di Setiap Model
Kecepatan keluarnya unit dari lini produksi disebut sebagai takt time. Sistem ini menjadi ukuran waktu yang diperlukan sebelum satu kendaraan berikutnya selesai diproduksi.
| Model | Takt Time | Hasil Produksi |
|---|---|---|
| Isuzu GIGA | 40 menit | Satu unit keluar setiap 40 menit |
| Isuzu ELF | 7 menit | Satu kendaraan keluar setiap 7 menit |
| Isuzu Traga | 7 menit | Satu kendaraan keluar setiap 7 menit |
Engineering and Production Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Rodko Purba, menjelaskan bahwa pola proses dasar untuk GIGA, ELF, dan Traga pada dasarnya sama. Namun, waktu produksinya tidak seragam karena kebutuhan tiap model berbeda.
“Nah prosesnya itu, kalau Giga itu ada namanya takt time. Takt time itu kalau di Giga sehari ini 40 menit. Artinya setiap 40 menit keluar satu unit,” ujar Rodko.
Sementara itu, lini kendaraan menengah dan ringan bergerak lebih cepat. Rodko menyebut satu kendaraan ELF atau Traga keluar dari proses produksi setiap tujuh menit.
“Kalau ELF sama Traga, tujuh menit. Artinya setiap tujuh menit keluar satu kendaraan,” pungkasnya. Angka tersebut menggambarkan kapasitas lini perakitan yang harus menjaga presisi pada setiap tahapan.
Dari Komponen CKD hingga Penyatuan Kabin dan Sasis
Proses produksi di Karawang tidak hanya bergantung pada satu sumber material. Komponen kendaraan berasal dari skema completely knocked down atau CKD dari luar negeri serta pasokan dari pemasok lokal.
Menurut Rodko, CKD Isuzu datang dari Thailand, Jepang, dan Filipina. Di sisi lain, PT Isuzu Astra Motor Indonesia bekerja sama dengan 117 pemasok untuk memenuhi kebutuhan material pabrik.
Fokus pasokan tersebut penting karena setiap unit harus melewati rangkaian proses perakitan sebelum siap dikirim kepada konsumen. Baik GIGA, ELF, maupun Traga menggunakan alur produksi yang mencakup pekerjaan bodi, pelapisan, pengecatan, dan perakitan akhir.
Tahap awal mencakup pengelasan panel bodi dengan kombinasi teknologi robotik dan pengerjaan manual. Setelah itu, kabin masuk ke proses ED coating untuk mendapatkan lapisan antikarat.
Lapisan tersebut kemudian melalui oven pengeringan sebelum kendaraan memasuki tahap pengecatan. Tahapan ini dilakukan sebelum komponen interior dipasang pada kabin.
Proses pemasangan interior dikenal sebagai trimming. Sesudahnya, kabin dipertemukan dengan sasis dalam tahap yang disebut docking.
Rangkaian kerja itu memperlihatkan bahwa unit yang keluar setiap tujuh menit bukan sekadar hasil satu proses perakitan singkat. Kecepatan produksi Isuzu Traga dan Isuzu ELF ditopang oleh koordinasi material, pekerjaan robotik, perakitan manual, hingga penyatuan akhir kendaraan.
Laporan www.suara.com mencatat sistem tersebut juga diterapkan untuk Isuzu GIGA, meski waktunya lebih panjang. Perbedaan takt time menjadi penanda bagaimana kompleksitas kendaraan memengaruhi ritme produksi di pabrik Karawang.
