BYD mencatat lonjakan penjualan yang tajam setelah sempat turun ke level ratusan unit pada Mei 2026. Pada bulan berikutnya, merek kendaraan listrik asal Shenzhen itu membukukan 5.264 unit penjualan wholesales dan 3.757 unit retail.
Angka tersebut menarik karena kenaikan terjadi saat BYD masih menjalani transisi menuju produksi lokal di Indonesia. Perubahan pasokan ini sebelumnya sempat memengaruhi ketersediaan unit dan menekan performa penjualan sejumlah model.
Penjualan Pulih Setelah Tertekan pada Mei
Pada Mei 2026, penjualan BYD hanya mencapai 895 unit. Salah satu model yang sebelumnya menonjol, BYD Atto 1, bahkan belum mampu menembus 100 unit penjualan dalam sebulan pada periode tersebut.
Situasinya berubah drastis pada Juni, ketika angka wholesales BYD melonjak menjadi 5.264 unit. Hasil itu juga melampaui penjualan sejumlah merek lain, termasuk Toyota dan Chery, pada periode yang sama.
Data penjualan yang diberitakan ridertua.com menunjukkan pemulihan BYD tidak hanya terlihat pada pengiriman kendaraan ke jaringan penjualan, tetapi juga pada penjualan retail. Kenaikan itu menandai kembalinya pasokan unit setelah fase penurunan pada bulan sebelumnya.
| Model | Segmen | Status Pasokan | Catatan |
|---|---|---|---|
| BYD Seal | Sedan | Masih diimpor dari China | Segmen sedan disebut memiliki peminat lebih terbatas dibanding SUV atau MPV. |
| BYD Atto 3 | SUV kompak | Masih diimpor dari China | Penjualannya sepanjang tahun ini disebut belum melampaui Sealion 7. |
Transisi Produksi Lokal Jadi Faktor Penting
Sejak awal hadir di Indonesia, BYD telah menyiapkan fasilitas untuk merakit kendaraan secara lokal. Namun, pembangunan fasilitas serta persiapan produksi membutuhkan waktu sebelum perusahaan dapat menjalankan perakitan secara penuh.
Hingga kuartal kedua 2026 berakhir, proses transisi menuju produksi lokal masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat sebagian pihak mempertanyakan bagaimana penjualan dapat melonjak ketika produksi lokal sebelumnya belum terlihat berjalan sepenuhnya.
Muncul dugaan bahwa kenaikan tersebut berasal dari stok unit yang telah tersedia dari periode sebelumnya. Stok lama itu dinilai perlu disalurkan sebelum proses persiapan dan perubahan pola pasokan selesai dilakukan.
Namun, BYD disebut telah menuntaskan tahap persiapannya dan mulai merakit sejumlah model secara lokal. Tidak semua lini kendaraan dapat langsung dirakit di Indonesia, sehingga sebagian model masih didatangkan langsung dari China.
Dua Model Masih Didatangkan dari China
Pada tahun ini, BYD Seal dan BYD Atto 3 menjadi dua model yang masih diimpor langsung dari China. Seal tetap mengandalkan pasokan impor karena bermain di segmen sedan, sementara Atto 3 juga belum masuk skema perakitan lokal.
Atto 3 disebut belum mencatat penjualan setinggi Sealion 7 sepanjang tahun ini. Sementara itu, model-model BEV lain seperti M6 EV dan Atto 1 telah lebih dulu menarik perhatian konsumen Indonesia bersama MPV mewah Denza D9.
Lonjakan pada Juni juga memperlihatkan perubahan besar untuk BYD Atto 1. Model tersebut beralih dari penjualan puluhan unit pada Mei menjadi ribuan unit pada bulan berikutnya, seiring membaiknya ketersediaan kendaraan.
Pasar Mobil Listrik Masih Dikuasai BYD
Pasar mobil di Indonesia pada semester pertama masih dinilai cukup baik, meski penjualan sempat mengalami penurunan. Kondisi ekonomi yang membuat harga mobil lebih tinggi serta belum berlakunya insentif baru menjadi beberapa faktor yang membayangi pasar.
Di tengah situasi tersebut, BYD masih memegang dominasi di pasar kendaraan listrik Indonesia. Pemulihan penjualan menjadi penting bagi perusahaan untuk mempertahankan posisi tersebut saat persaingan dengan merek lain semakin ketat.
Selain mobil listrik murni, BYD kini juga mulai menjual kendaraan plug-in hybrid di Indonesia melalui M6 DM. Model itu disebut menjadi PHEV terlaris sepanjang semester pertama 2026, menambah pilihan BYD di luar lini BEV.
