Berikut ini adalah gambaran perkembangan serangan siber yang menandai tahun 2025 di Indonesia, mulai dari manipulasi wajah presiden hingga posisi negara sebagai sarang serangan DDoS terbesar dunia. Fenomena ini menunjukkan tantangan besar dalam mengelola keamanan digital nasional.
Awal tahun 2025 dimulai dengan maraknya penyebaran video manipulatif yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto menawarkan bantuan dana secara langsung ke masyarakat. Beberapa video itu menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mengubah wajah dan suara, menimbulkan kebingungan dan potensi penipuan yang merugikan publik.
Manipulasi Digital dan Dampak Sosial
Kasus manipulasi wajah ini bukan sekadar isapan jempol, tetapi menggambarkan ancaman nyata di dunia maya. Seperti dijelaskan oleh Pratama Persadha, chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, video-video deepfake tersebut bisa menimbulkan kepercayaan palsu yang berpotensi merusak citra tokoh dan menambah keresahan masyarakat.
Selain manipulasi wajah di ranah politik, Februari 2025 mencatat insiden kesalahan data finansial di Google Finance yang menampilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara tidak akurat. Kesalahan ini sempat membuat publik berharap ekonomi Indonesia mengalami penguatan drastis yang tak benar adanya, memperlihatkan bagaimana satu data yang salah bisa menciptakan kegaduhan.
Modus Serangan Siber dan Kerentanan Pengguna
Maret 2025 menghadirkan modus penipuan klasik dengan teknik fake BTS, yakni penyamaran perangkat penangkap sinyal (Base Transceiver Station) yang mengelabui pengguna dan menargetkan nasabah perbankan dengan pencurian data OTP. Modus seperti ini menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menggunakan layanan perbankan digital.
April lalu, istilah “gendam digital” mulai populer di masyarakat untuk menggambarkan serangan manipulatif melalui koneksi WiFi publik dengan IP tertentu. Pratama menerangkan bahwa pengguna yang tersambung ke jaringan berisiko kehilangan kendali perangkat atau data tanpa sadar, menandai lemahnya proteksi di ranah publik.
Pada Mei, tren pemindaian biometrik muncul melalui Worldcoin dan WorldID, yang menawarkan insentif finansial bagi masyarakat yang mau melakukan scan iris mata. Teknologi ini mampu mengubah data biometrik menjadi identitas digital, namun menimbulkan kekhawatiran serius soal privasi dan penyalahgunaan data personal.
Insiden Kejahatan Siber Terorganisir
Juni 2025 mengungkap kejahatan siber yang terstruktur dengan skema scamming online melalui pengiriman file APK palsu atas nama PT Taspen. Aplikasi berbahaya ini mampu mencuri data SMS, kontak, hingga kredensial perbankan yang berujung pencurian dana dari rekening korban. Kasus ini menjadi peringatan penting akan meningkatnya ancaman kejahatan siber yang terorganisir dan canggih.
Juli menampilkan sisi geopolitik keamanan digital dengan pernyataan resmi Gedung Putih mengenai kepastian transfer data pribadi dari Indonesia ke Amerika Serikat. Data pribadi yang kini menjadi komoditas strategis mendorong diskusi tentang kedaulatan digital Indonesia di tengah tekanan global.
Kasus Kekerasan Siber dan Regulasi Media Sosial
Agustus 2025 diwarnai kasus kekerasan seksual lintas negara di platform gim daring Roblox, di mana pelaku asal Balikpapan melakukan grooming dan pemerasan terhadap korban remaja dari Swedia. Kejadian ini menegaskan kebutuhan pengawasan lebih ketat terhadap penggunaan platform digital oleh anak-anak.
September menyaksikan perdebatan soal konsep single ID media sosial. Sistem ini memungkinkan satu identitas digital terintegrasi antar layanan, tapi menimbulkan kekhawatiran soal privasi dan penyalahgunaan data jika tak diatur secara ketat dan transparan.
Regulasi Perlindungan Data dan Peran Platform Digital
Setahun pasca berlakunya UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, implementasinya dinilai belum efektif. Badan Pengelola Data Pribadi belum terbentuk, sehingga masyarakat belum merasakan perlindungan penuh di tengah meningkatnya kebocoran dan kejahatan data digital.
November menjadi bulan perhatian bagi platform ChatGPT yang tercatat dalam daftar digital Kominfo sebagai penyelenggara sistem elektronik (PSE) yang belum mendaftar. Langkah Kominfo dianggap sebagai penegakan aturan, bukan aksi pemutusan akses yang membatasi inovasi.
Indonesia sebagai Sarang Serangan DDoS Terbesar Dunia
Tanda bahaya terbesar datang pada Desember 2025, ketika laporan dari Cloudflare menempatkan Indonesia sebagai sumber serangan Distributed Denial of Service (DDoS) tertinggi di dunia. Tujuh dari sepuluh sumber utama serangan DDoS berasal dari Asia, dengan Indonesia memimpin selama hampir satu tahun penuh sejak kuartal ketiga 2024.
Pratama Persadha menegaskan bahwa posisi ini menjadi sinyal peringatan bagi penegakan keamanan siber di Indonesia. Serangan DDoS yang bersifat massal berpotensi melumpuhkan layanan digital kritikal, dan menjadi indikator lemahnya pengawasan serta perlindungan infrastruktur digital nasional.
Berbagai insiden yang terjadi sepanjang 2025 menuntut respons serius dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat agar ekosistem digital Indonesia menjadi lebih aman. Penguatan literasi digital, regulasi yang tegas, serta penerapan teknologi keamanan mutakhir menjadi kunci utama untuk merespons tantangan kompleks dunia siber saat ini.
Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com