Peningkatan frekuensi banjir dan kekeringan di beberapa daerah sering kali dikaitkan dengan perubahan iklim. Namun, satu faktor penting yang sering terabaikan adalah deforestasi atau hilangnya tutupan hutan. Hutan tidak hanya berfungsi sebagai habitat, tetapi juga berperan vital dalam mengatur siklus air di bumi.
Saat hutan ditebang, proses siklus air alami terganggu, mulai dari penyerapan air hujan hingga pengaturan aliran sungai. Dampak deforestasi terhadap siklus air meluas dan berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia serta kelestarian lingkungan secara keseluruhan.
1. Gangguan Penyerapan dan Aliran Air
Hutan berfungsi menahan air hujan dengan tajuk pohonnya agar tidak langsung jatuh ke tanah. Dalam kondisi hutan utuh, air mengalir perlahan dan sebagian besar meresap ke dalam tanah sehingga membantu mengisi cadangan air tanah. Namun, ketika hutan ditebang, hingga 40 persen lebih banyak air hanya akan menjadi limpasan permukaan. Akibatnya, tanah menjadi lebih rawan mengalami erosi dan menyebabkan pengendapan lumpur di sungai, yang merusak ekosistem air dan infrastruktur pengairan.
2. Penurunan Debit Air Sungai
Akar pohon memiliki peran krusial dalam menjaga kestabilan aliran air sungai dengan menahan tanah agar tetap porous dan menyerap air. Dengan tidak adanya penyerapan air yang optimal, debit sungai berkurang drastis saat musim kemarau. Studi menunjukkan penurunan debit dasar sungai bisa mencapai 20 hingga 50 persen di wilayah-wilayah yang mengalami deforestasi. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan bagi masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut.
3. Peran Transpirasi dalam Siklus Air
Pohon mengeluarkan uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi, yang sangat berkontribusi dalam pembentukan awan dan hujan regional. Di hutan tropis, hingga 75 persen curah hujan kembali ke udara dalam bentuk uap air. Dengan penebangan pohon secara besar-besaran, uap air yang dihasilkan menurun drastis. Kondisi ini berkontribusi pada pengeringan udara dan berkurangnya curah hujan sebesar 10 hingga 30 persen, seperti yang terjadi di hutan Amazon dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
4. Peningkatan Risiko Banjir dan Erosi
Tanah yang sudah kehilangan tutupan pohon tidak mampu menyerap curah hujan secara efektif. Ketika hujan lebat turun, air langsung mengalir deras ke sungai tanpa di-redam oleh vegetasi. Ini menyebabkan puncak aliran sungai meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam daerah beriklim monsun. Selain itu, erosi tanah yang meningkat menyebabkan sedimentasi mencapai 100 hingga 1.000 kali lipat. Akumulasi sedimentasi ini merusak habitat ikan, mempercepat pendangkalan waduk, dan memperburuk kualitas air.
5. Dampak Terhadap Kualitas Air
Hasil penelitian di Malawi menunjukkan bahwa deforestasi menyebabkan penurunan curah hujan dan berdampak negatif pada ketersediaan air minum bersih. Tanpa akar pohon yang menahan tanah, air sungai menjadi keruh karena membawa sedimen dalam jumlah besar. Hal ini meningkatkan biaya pengolahan air minum dan menyulitkan masyarakat mendapatkan air bersih yang aman untuk dikonsumsi.
6. Dampak Lokal dan Global
Secara global, deforestasi di kawasan tropis mengganggu aliran uap air di atmosfer yang dikenal sebagai “atmospheric river”. Gangguan ini berdampak pada pola hujan di wilayah pertanian yang jauh dari kawasan hutan. Contohnya, deforestasi di Amazon berpengaruh pada curah hujan dan produksi pertanian di Amerika Serikat serta sistem monsun di India. Sedangkan secara lokal, wilayah yang kehilangan tutupan hutan akan menghadapi krisis air saat musim kemarau, kenaikan biaya pengolahan air, dan potensi konflik antarwilayah karena persaingan sumber daya air semakin ketat.
Menjaga hutan berarti menjaga fungsi alam yang mengatur ketersediaan air bersih dan stabilitas iklim lokal. Saat pohon masih berdiri, siklus air berjalan dengan baik sehingga kehidupan manusia dan ekosistem terjamin. Sebaliknya, hilangnya hutan mengakibatkan gangguan sistem siklus air yang konsekuensinya berlarut panjang dan luas. Oleh karena itu, perlindungan hutan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi investasi vital bagi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Referensi dari penelitian ilmiah dan lembaga lingkungan memperkuat pemahaman bahwa deforestasi adalah ancaman serius bagi siklus air. Upaya konservasi dan rehabilitasi hutan perlu menjadi prioritas utama untuk menghindari dampak negatif yang lebih besar dan menjaga keseimbangan alam di masa depan.
