SpaceX kembali memecahkan rekor peluncuran roket dalam satu tahun dengan menggenjot hingga 165 penerbangan orbital sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, memperlihatkan kemampuan perusahaan untuk mengoperasikan misi luar angkasa dalam skala masif dan konsisten.
Perusahaan yang dipimpin Elon Musk ini berhasil mencatat rekor baru selama enam tahun berturut-turut. Dimulai dari 25 peluncuran orbital pada 2020, jumlah itu naik terus menjadi 31 pada 2021, kemudian melonjak menjadi 61 pada 2022, lalu 96 pada 2023, sebelum akhirnya mencapai 134 pada 2024. Di tahun 2025, SpaceX mengejutkan dengan rekor fantastis sebanyak 165 peluncuran yang semuanya menggunakan roket Falcon 9.
Dominasi Falcon 9 dalam Peluncuran Orbital
Semua peluncuran tersebut menggunakan roket Falcon 9, wahana andalan SpaceX yang menggunakan tahap pertama yang dapat digunakan kembali. Roket Falcon Heavy, yang lebih kuat, tidak melakukan peluncuran sama sekali sejak Oktober 2024. Sementara itu, sebagian besar booster Falcon 9 berhasil kembali dan mendarat dengan selamat, hanya tiga kali gagal melakukan pendaratan aman.
Dua kegagalan pendaratan terjadi pada peluncuran berat yang mengangkut satelit komunikasi Spainsat NG ke orbit transfer geostasioner, yang menghabiskan bahan bakar cukup banyak sehingga booster tidak mampu kembali ke Bumi. Satu kegagalan lainnya terjadi pada peluncuran satelit internet Starlink pada awal Maret, saat booster berhasil mendarat di kapal drone di Samudra Atlantik, tetapi kemudian roboh akibat kebakaran yang merusak kaki pendaratan.
Starlink: Proyek Terbesar dan Terpenting SpaceX
Peluncuran satelit Starlink mendominasi aktivitas peluncuran tahun ini dengan 123 dari total 165 misi. Misi-misi ini menambah jumlah satelit dalam konstelasi megamegah Starlink yang kini memiliki lebih dari 9.300 satelit aktif di orbit. Total lebih dari 3.000 satelit Starlink berhasil diorbitkan hanya dalam satu tahun, menandakan ambisi SpaceX dalam membangun jaringan internet global berbasis satelit.
Selain itu, SpaceX juga mencatat sejumlah tonggak bersejarah lainnya pada 2025. Perusahaan merayakan pendaratan roket ke-500 dan peluncuran roket terpakai ke-500, menunjukkan kematangan teknologi reuse yang mereka kembangkan. Rekor peluncuran terbanyak oleh satu booster Falcon 9 juga bertambah menjadi 32 kali, memperlihatkan keandalan tinggi dari sistem pengulangan tersebut.
Pengujian Starship: Langkah Besar Menuju Misi Mars
Di samping 165 peluncuran Falcon 9, SpaceX juga melakukan lima penerbangan uji suborbital untuk Starship, roket terbesar dan paling kuat yang pernah dibuat. Meskipun tiga penerbangan awal kehilangan minimal satu tahap roket, dua penerbangan terakhir di bulan Agustus dan Oktober berlangsung sukses penuh. Starship yang berbahan stainless-steel dipersiapkan untuk memulai penerbangan orbital pertamanya pada tahun berikutnya.
Rencana ambisius SpaceX ke depan termasuk penerbangan tak berawak ke Mars menggunakan Starship, jika semua uji coba dan kondisi berjalan sesuai harapan. Proyek ini dianggap sebagai terobosan besar dalam eksplorasi luar angkasa dan mempersiapkan manusia untuk menjelajahi planet lain.
Perbandingan Global: SpaceX Melejit Jauh
Keberhasilan SpaceX meluncurkan 165 misi orbital hampir dua kali lipat dibandingkan total peluncuran China dalam setahun yang sama. Dari keseluruhan peluncuran roket Amerika Serikat, SpaceX menyumbang sekitar 85 persen. Ini menunjukkan dominasi kuat perusahaan dalam pasar peluncuran luar angkasa komersial dan pemerintah.
Dengan kecepatan hampir satu peluncuran setiap dua hari, SpaceX menunjukkan efisiensi produksi dan operasional yang luar biasa. Keunggulan ini semakin memperkuat posisi SpaceX sebagai pemain utama dalam industri antariksa global.
Data dan pencapaian tahun 2025 ini mengindikasikan bahwa SpaceX terus melakukan inovasi dan ekspansi layanan luar angkasa secara agresif. Keberhasilan peluncuran roket ulang pakai Falcon 9 dan kemajuan pengujian Starship membuka peluang baru untuk eksplorasi dan konektivitas global. SpaceX tetap menjadi tonggak utama dalam revolusi eksplorasi ruang angkasa abad ke-21.
