Amazon Leo menghadapi tantangan serupa dengan Starlink terkait kecerahan satelit yang mengganggu observasi astronomi. Penelitian terbaru dari astronom yang tergabung dalam International Astronomical Union mencatat bahwa banyak satelit Leo memantulkan cahaya yang cukup terang sehingga dapat mengganggu pengamatan bintang.
Data penelitian yang didasarkan pada hampir 2.000 pengamatan terhadap satelit Leo menunjukkan bahwa ketika satelit berada di ketinggian operasional sekitar 630 kilometer, 92% observasi mencatat tingkat kecerahan satelit melebihi pedoman kecerahan yang disarankan komunitas astronomi. Meski demikian, hanya sekitar 25% satelit yang cukup terang sehingga bisa terlihat oleh mata manusia secara langsung.
Tingkat Kecerahan Satelit dan Dampaknya bagi Astronomi
Astronom menggunakan skala magnitudo bintang untuk mengklasifikasikan kecerahan objek langit. Magnitudo 6 adalah batas kecerahan di mana satelit atau bintang mulai dapat dilihat dengan mata telanjang. Satelit Leo rata-rata memiliki magnitudo 6,28, artinya sebagian besar satelit berada di atas batas penglihatan mata biasa dan bisa mengganggu observasi secara visual.
Lebih jauh, komunitas astronomi mendorong agar kecerahan satelit dikurangi hingga di bawah magnitudo 7 supaya tidak mengganggu teleskop yang mampu mendeteksi objek lebih redup di langit malam. Sayangnya, satelit-satelit Leo kini masih belum memenuhi standar tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap penelitian astronomi.
Kemiripan dengan Satelit Starlink Generasi Pertama
Penelitian juga menemukan bahwa karakteristik pantulan cahaya satelit Leo mirip dengan satelit Starlink generasi pertama yang juga menjadi sumber keluhan akibat mengganggu pengamatan astronomi dan "membajak" foto langit. SpaceX, pengelola Starlink, telah mengambil langkah untuk mengurangi kecerahan satelit mereka dengan mengaplikasikan film cermin dan mengecat satelit berwarna hitam agar lebih redup.
Amazon pun mengklaim sudah bekerja sama dengan komunitas astronom untuk mengatasi isu kecerahan ini. Perusahaan menggunakan lapisan anti-reflektif khusus pada seluruh satelit Leo guna meminimalkan pantulan cahaya. "Keamanan ruang angkasa dan keberlanjutan selalu menjadi prioritas bagi tim Amazon Leo," ujar juru bicara perusahaan, menegaskan berbagai keputusan rancangan dan operasional yang dilakukan demi mengurangi dampak negatif pada penelitian astronomi.
Jumlah Satelit dan Rencana Masa Depan
Amazon telah meluncurkan sekitar 180 satelit Leo dengan rencana mengirimkan lebih dari 3.200 satelit untuk konstelasi generasi pertama. Bersamaan dengan peluncuran ini, kolaborasi dengan komunitas astronom terus diperkuat. Penelitian bahkan mengapresiasi kontribusi dari Chris Hofer, Kepala Manajemen dan Strategi Spektrum Internasional di Amazon Leo, dalam proses penanganan masalah kecerahan satelit.
Meski demikian, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar satelit dari konstelasi terbaru gagal memenuhi standar kecerahan yang direkomendasikan komunitas astronomi. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah operator satelit memang mampu mencapai target tersebut secara konsisten.
Upaya Berkelanjutan dari Amazon
Amazon menyatakan optimisme terhadap hasil awal upaya pengurangan kecerahan satelit Leo dan berharap bisa terus memperbaiki performa saat lebih banyak satelit mencapai orbit operasional. Perusahaan berkomitmen untuk terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan terkait dampak kecerahan satelit serta melanjutkan kerja sama erat dengan komunitas ilmiah.
Selain itu, Amazon telah menandatangani kesepakatan dengan US National Science Foundation untuk meminimalkan potensi gangguan satelit Leo terhadap penelitian astronomi. Hal ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menyeimbangkan inovasi teknologi satelit dengan kelestarian dan aktivitas ilmiah di bidang astronomi.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Keberadaan konstelasi satelit seperti Starlink dan Leo membawa manfaat besar bagi konektivitas internet global. Namun, penting untuk mengelola dampaknya terhadap pengamatan astronomi yang sangat bergantung pada kondisi langit malam yang gelap dan bebas polusi cahaya.
Penelitian dan kolaborasi antara operator satelit serta komunitas astronom perlu terus dilakukan agar satelit-satelit generasi masa depan lebih ramah terhadap kebutuhan ilmiah. Upaya pengurangan kecerahan dan penggunaan teknologi pelapis khusus diharapkan dapat meminimalkan gangguan sekaligus menjaga kelangsungan eksplorasi dan penelitian luar angkasa.







