BMKG Ungkap Penyebab Gempa Megathrust Jawa Selatan dengan Analisis Video Jepang Terbaru

Author: Qoo Media

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengungkap sumber gempa megathrust yang mengguncang selatan Jawa, dengan bantuan sebuah video simulasi asal Jepang. Video tersebut memperjelas bagaimana dua lempeng tektonik besar, Eurasia dan Indo-Australia, saling terkunci dan menimbulkan tekanan luar biasa yang lama-kelamaan terakumulasi.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, memberikan penjelasan teknis terkait fenomena ini menggunakan analogi sederhana. Ia menyamakan Pulau Jawa dengan sebuah alas kayu besar yang menjadi bagian dari lempeng Eurasia. Di bawahnya ada lempeng Indo-Australia yang terus menerus bergerak masuk ke bawah lempeng Eurasia.

Gerakan lempeng yang lambat namun konstan itu adalah penyebab utama gempa besar yang disebut gempa megathrust. Proses ini terjadi secara alami dan disebabkan oleh panas magma dalam perut bumi yang memicu pergerakan lempeng tanpa campur tangan manusia. “Zona megathrust merupakan bagian lempeng yang terkunci dan menahan tekanan selama puluhan sampai ratusan tahun,” ujarnya.

Ketika tekanan yang terakumulasi sudah mencapai batas maksimum, kunci di zona tersebut bisa patah secara tiba-tiba. Peristiwa ini mengakibatkan lempeng bawah meluncur dengan cepat beberapa meter, menciptakan getaran hebat yang dikenal sebagai gempa megathrust. Karena area patahannya sangat luas, magnitudo gempa yang terjadi bisa mencapai angka besar, di atas magnitudo 8.

Gempa megathrust sangat berbahaya apabila pusatnya berada di bawah laut, karena mampu memicu gelombang tsunami yang dahsyat. Sejarah dunia mencatat gempa besar di Aceh, Jepang, Chili, dan Alaska berasal dari zona megathrust. BMKG menegaskan, zona serupa aktif juga di selatan Pulau Jawa, tepat di wilayah Pacitan yang baru saja mengalami gempa besar.

Gempa Pacitan itu sendiri termasuk gempa megathrust yang belum cukup kuat untuk memicu tsunami. Meski demikian, energi yang tersimpan di zona megathrust selatan Jawa sangat besar dan bisa memicu bencana jika dilepaskan dengan kekuatan lebih besar. Daryono menegaskan bahwa gempa bukan kejadian spontan melainkan bagian dari proses alam yang berulang.

Masyarakat diminta tetap waspada dan tidak panik berlebihan. Pemahaman terhadap risiko gempa dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana. BMKG juga terus mengimbau publik agar selalu mengikuti informasi resmi yang akurat dari sumber terpercaya.

Berikut adalah poin penting terkait fenomena gempa megathrust menurut BMKG:

1. Zona megathrust adalah area pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang terkunci rapat.
2. Tekanan yang terakumulasi menyebabkan potensi gempa dengan magnitudo sangat besar.
3. Pelepasan tekanan tiba-tiba mengakibatkan gempa hebat dan berpotensi tsunami.
4. Gempa Pacitan tergolong awal dan belum mencapai ambang tsunami.
5. Proses ini terjadi secara alami dan berulang sepanjang sejarah bumi.
6. Waspada dan kesiapsiagaan masyarakat sangat penting untuk menghadapi risiko.

Dengan pemahaman yang lebih baik melalui video simulasi dari Jepang, BMKG berharap masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Jawa Selatan semakin sadar akan potensi bahaya gempa megathrust. Hal ini membantu memperkuat langkah mitigasi dan kesiapan menghadapi bencana alam yang tidak bisa dihindari tetapi dapat dikurangi dampaknya.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Terbaru